
Zifana menikmati perjalanan hanya dengan diam, sungguh dia sangat rapuh dan butuh sandaran, butuh dekapan. Sangat sulit baginya untuk menerima kenyataan ini. Hidupnya yang dulu diatas angin sekarang entah kemana, hancur dan sakit dia rasakan. Tapi semua sudah terjadi dan dia harus menjalani semua ini.
Hingga beberapa menit berlalu, pak supir membelokan mobilnya di pelataran apartemen mewah di kawasan elit. Dia menghentikan mobilnya di depan loby. Zifana tampak memperhatikan keadaan sekitar. Ini adalah apartemen yang tak jauh dari pusat kota. Sebenarnya siapa Delon? Sekaya inikah hingga dia menempatkan dirinya di apartemen mewah ini?
Pak supir membuka pintu mobil dan mempersilakan Zifana untuk keluar. Zifana keluar dan menatap ke arah pak supir.
"Saya pamit Nona," ucapnya.
"Tapi saya harus bagaimana pak?" tanya Zifana yang tampak bingung.
"Ada Tuan Andreas yang akan membimbing anda Nona," ucap Pak supir kemudian pergi.
Zifana menghela napas panjang, Andreas? Siapa dia?
"Selamat siang Nona, saya Andreas, asisten pribadi Tuan Delon, mari ikuti saya. Saya akan mengantarkan Nona ke kamar Nona," ucap seseorang yang baru datang. Dia sedikit membungkuk tanda hormat pada Zifana.
Zifana menatap ke arah lelaki tampan di depannya. Lelaki yang memang tak asing lagi baginya, dia yang mengikuti acara pernikahan tadi. Bahkan dia juga yang menjemputnya di depan kantor KUA. Mengambil gambarnya.
"Jadi kau Andreas?" tanya Zifana.
Tak menjawab apapun, kini Andreas melangkah. Zifana tampak sebal, apa tidak bisa menjawab? Bagaimana bisa asisten dan bosnya sama menyebalkannya?
Andreas membimbing Zifana untuk mengikutinya, mereka masuk ke dalam lift dan menekan angka 35. lantai tertinggi di apartemen itu.
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di lantai yang dituju. Zifana sudah berada di apartemen tempat tinggalnya selama Elia tak ada di rumah. Apartemen mewah dengan interior yang sangat bagus dan indah.
Andreas menunjukkan beberapa ruangan, hingga sampailah mereka di kamar atas.
"Dapur ada disana, makanan sudah ada tinggal nanti menghangatkan," ucap Andreas sambil menunjuk dapur. Kemudian mereka berjalan ke atas.
"Silahkan masuk Nona," ucap Andreas saat membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Ini adalah kamar Nona dengan Tuan Muda," ucapnya sambil tersenyum. Zifana tau, laki laki didepannya tampak menggodanya.
Tanpa menjawab ucapan asisten suaminya itu, kini Zifana masuk ke dalam kamar itu, kamar yang sangat luas dengan ranjang king size. Televisi besar , walk in closes dan juga balkon kamar yang nyaman. Zifana mengangguk, dia merasa disini akan membuat suasana hatinya lebih tenang untuk beberapa hari.
"Nona, semua kebutuhan pakaian anda sudah tersedia disana," Andreas menunjuk ke arah walk in closed. Zifana hanya menganggukan kepalanya lagi.
"Apa ada yang anda tanyakan?" tanya Andreas sambil menatap Zifana. Zifana diam.
Andreas tak berkedip, dia akui bahwa istri kedua sahabatnya itu sangat cantik. Bahkan Vely tidak bisa dibandingkan meskipun dia juga memiliki daya tarik tersendiri.
"Sudah cukup Tuan," ucap Zifana. Andreas membelalakkan matanya mendengar panggilan Zifana.
"Nona, saya asisten tuan Delon. Artinya anda adalah atasan saya, anda bisa memanggil saya Andre saja," ucapnya.
Zifana terkekeh geli dan menatap Andreas.
"Tuan, kita sama. Bahkan aku juga hanya pengasuh Elia, aku bukan orang spesial, aku hanya istri kedua aku hanya istri.... " Zifana menghentikan ucapannya. Sepertinya tak patut membeberkan statusnya itu.
Deg
"Lupakan, saja. Anggap saya tak pernah mengatakan apapun, kamu sudah boleh pergi Tuan Andre," ucap Zifana. Andreas tampak mengangguk.
"Kalau begitu saya harus pergi Nona, sepertinya sudah cukup saya menemani Nona untuk hari ini, ini aksesnya," ucap Andreas sambil meletakkan akses card apartemen ini.
Zifana menganggukan kepalanya lagi, Andreas keluar dari kamar itu. Zifana menutup rapat kamar itu. Menyandarkan tubuhnya di pintu dan merosot duduk. Zifana menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Istri kedua? Istri simpanan?" lirihnya.
Zifana menggelengkan kepalanya, air matanya terkumpul di sudut matanya, mendesak ingin keluar. Dia sekuat hati menahanya, berulang kali dia merasa hancur, mendapati kenyataan ini. Sakit, sesak, semuanya berkumpul jadi satu dalam benaknya.
"Ya Tuhan, apa ini takdir untukku? Apa ini garis kehidupanku? Kenapa aku?" lirihnya, Air mata mulai menetes di pipi mulusnya.
__ADS_1
Kenapa takdir serumit ini? Membawanya terlibat dalam rumah tangga orang lain. Menjadi orang ketiga meskipun hanya sebuah kontrak pernikahan.
Tak pernah dia berpikir untuk ini. Pasti pandangan jelek akan teetuju padanya.
Zifana tampak kelelahan, memeluk lututnya dalam linangan air mata. Perlahan matanya terpejam. Dia sangat lelah dan ingin istirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zifana merasakan sakit disekujur tubuhnya, dia membuka mata. Melihat dirinya yang tidur sambil duduk dan memeluk lututnya.
Zifana terkejut saat melihat jam yang menunjukkan pukul 19.00 malam perutnya sudah terasa lapar. Zifana menatap dirinya. Kebaya? Zifana membenahi duduknya, ingatanya kembali saat dia mendapati paperbag di sampingnya. Ya dia ingat telah menikah tadi siang. Menyedihkan sekali, bahkan sampai sekarang suaminya tak ada disampingnya.
Segera Zifana berdiri dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Merendam dirinya dengan sabun wangi yang membuatnya rileks.
Tak lama dari itu, setelah ganti baju dan menyisir rambutnya, Zifana segera turun dan mengisi perutnya yang terasa lapar.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam, Zifana kembali ke kamarnya. Zifana menatap ke arah balkon kamar, langit tampak mendung. Dari jendela dia bisa melihat rintik hujan turun dan berangsur lebat.
Petir menyambar nyambar membuat Zifana terkejut dan takut beberapa kali. Zifana menutup rapat jendela dengan gorden. Tapi tetap saja suara petir tampak mengganggunya. Sedari kecil dia takut petir, Zifana berlari ke arah tempat tidur. Memeluk erat guling. Pikirannya melayang jauh. Papanya yang biasanya akan memeluknya, papanya yang akan mendekapnya. Tapi saat ini dia sendiri.
lip
Tiba tiba saja lampu mati. Zifana berteriak kaget, disaat seperti ini kilat petir semakin jelas dan membuat dirinya semakin takut. Zifana menangis sesenggukan. Menutup mata, menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, lindungi aku. Papa peluk aku," lirihnya.
Saat itu pintu kamar terbuka, Delon yang hawatir pada Zifana tampak tergesa pulang. Kabar sambungan listrik konslet di area apartemen yang terkena sambaran petir telah smpai di telinganya. Dia yang ingat ada Zifana di apartemen segera menuju ke apartemennya. Dia takut terjadi apa apa, benar saja saat ini dia melihat Zifana yang ketakutan.
Delon yang membawa pencahayaan dari ponsel mendekat ke arah Zifana, Zifana tau ada yang datang. Tak perduli siapa itu, Zifana duduk. Saat itu petir memyambar membuat Zifana menarik lengan orang itu sehingga orang itu terjatuh di ranjang.
Zifana mencari perlindungan dalam dada bidang yang membuatnya sedikit tenang itu. Menyadari dia telah lancang, kini Zifa mengangkat wajahnya dari dada bidang itu.
__ADS_1
Keduanya saling berpandangan, saling terpaku dan saling terdiam. Cahaya senter ponsel cukup jelas sehingga Zifana bisa melihat wajah tamoan seorang Arzenio Delon wilantama kini berada di depanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...