Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Berbunga


__ADS_3

Zifana mengerjabkan matanya saat terdengar bel ruang utama berbunyi. Zifana melirik dirinya yang masih dengan kondisi tubuhnya yang menggunakan baju dalam.


"Astagfirullah, sudah siang," lirih Zifana saat melihat jam yang menunjukan pukul 06.00.


Kembali bel berbunyi membuantnya ingin segera beranjak dari ranjang.


"Aduh,"


Area sentitifnya terasa sakit, Zifana memengang sandaran ranjang dan kembali mendudukan dirinya di ranjang. Bayangan kejadian semalam melintas di benaknya. Bayangan kehangatan bersama Delon, bayangan indahnya dipeluk dan disayang oleh lelaki tampan yang berstatus sebagai suaminya itu.


Tapi, dimana lelaki itu? Zifana mengedarkan pandangan matanya. Tak ada tanda tanda Delon ada di apartemen. Bahkan sepatu dan tas kerja yang semalam ada di tempatnya kini tidak ada. Apa dia telah pergi?


Zifana merasakan sesak yang mendera, hatinya terasa sakit. Apa benar benar tak adakah rasa sayang untuknya. Kenapa meninggalkanya tanpa pamit? Meninggalkannya tanpa pesan? Cukup Zifana tau, bahwa Delon hanya memilikinya tanpa mencintainya. Air mata Zifana lolos begitu saja. Diabaikannya bel yang terus berbunyi.


Dengan masih duduk, Zifana meraih bajunya dan menatap dirinya yang tampak dari meja rias. Jejak yang Delon buat membekas begitu jelas di leher, Zifana melirik dirinya. Banyak lagi jejak yang ditinggalkan oleh Delon di bagian lain, membuat Zifana semakin merasakan sesak.


Zifana berjalan tertatih menuju ke kamar mandi. Zifana berguyur di bawah aliran shower. Dibasahi tubuh mungilnya itu. Dirasakannya sesak dalam hatinya. Isakan tangis terdengar bersamaan dengan gemericik air yang mengalir. Berharap kesedihannya hilang. Berharap kebahagiaan menghampiri dirinya.


Tiga puluh menit telah berlalu, Zifana segera mengakhiri mandinya. Tubuhnya yang tadinya serasa remuk kini sedikit membaik dan segar. Dia memakai dres berwarna navi sebatas lutut, menggulung rambutnya dengan handuk dan segera keluar dari kamar mandi.


Zifana mengambil ponselnya di dalam tas yang semalam lowbat. Dia mengisi daya ponselnya itu.


Zifana kembali mendengar bel berbunyi, dia menautkan alisnya. Astaga, siapa diluar? Segera wanita cantik itu turun dan berlari kecil menuju ke ruang utama.


Zifana meraih hendel pintu dan membukanya, dilihatnya salah satu pegawai apartemen tersenyum padanya.


"Selamat pagi Nona, maaf mengganggu. Ada paket, tadi kurir yang mengantarkan dan menitipkan di loby," ucap pegawai itu dengan ramah.


Zifana tampak melirik ke arah beberapa paper bag dan juga seikat buket bunga mawar merah yang begitu indah itu. Segera Zifana menerima beberapa paket itu.

__ADS_1


"Terimakasih," ucapnya.


"Sama sama, kalau begitu saya pamit kembali Nona, selamat pagi," ucap pegawai itu kemudian melangkah pergi.


Zifana segera masuk dan berlari kecil menuju kamarnya. Dia duduk di sofa dan menatap buket bunga mawar itu dan juga beberapa paper bag.


Segera wanita cantik itu membuka kartu ucapan disana. Siapa yang mengirimnya.


Cukup rasakan, bahwa kamu ada di hatiku.


Kata singkat itu membuat jantung Zifana berdetak hebat. Dia melirik tanda tangan bernama terang Delon itu. Air mata Zifana mengalir. Dia merasakan sesak yang mendera, bahagia yang tak terduga. Zifana mengusap air matanya dan membuka satu persatu paper bag.


Baju indah yang berwarna Navi, sepatu hig hils dan satu kotak makan pagi untuknya. Zifana tersenyum berhiaskan tangis. Melirik roti dan susu yang semalam dibuatkan Delon, mengingat wajah lebam Delon yang bertarung untuk menyelamatkannya.


Bukankah itu lebih dari cukup? Delon tidak hanya miliknya ada Elia dan mamanya. Perhatian kecil Delon harusnya sudah melegakan dirinya. Zifana mengusap air matanya mencoba menenangkan hatinya, mencoba menerima takdir yang dia jalani.


Dia membuka ponsel yang mati sedari malam itu. Banyak pesan yang masuk. Paggilan yang masuk. Dari willy, yang menanyakan sudah sampai atau belum. Dan pemberitauan untuk bekerja pada hari ini. Segera Zifana membalas pesan itu.


Zifana menggeser ke atas, dilihatnya kontak bernama my lovely husband banyak sekali mengirimkan pesan.


Zifa, kau dimana? Zifa tersenyum melihat pesan yang dikirim Delon di jam 13.45 saat dirinya bersama willy di perjalanan menuju ke rumah kakek Wilan.


Apa bersama lelaki lain sangat menyenangkan? Kenapa tak mengangkat panggilanku?


Zifana kembali tersenyum.


Segera pulang Nona Zifa yang terhormat! Pesan dikirim 16.00 saat dirinya di danau.


Hei, Nyonya Delon, kau dimana?

__ADS_1


Kau akan mendapat hukuman bila tak segera pulang!


Baby, apa terjadi sesuatu denganmu? Kenapa belum di mansion?


Nona Zifana Aurora manda, kenapa membuatku khawatir!!


Pesan pesan yang dikirim oleh Delon benar benar membuat Zifana terharu. Dia membaca pesan baru yang dikirim Delon pagi ini.


Zie, aku berangkat dulu. Tidurmu nyenyak sekali, sepertinya aku benar benar membuatmu kelelahan semalam. Jika kau bisa bekerja, berangkat jam 10.00. Sopir akan menjemputmu. Langsung saja ke Wilantama grup. Aku sudah mengirimkan pesan pada bosmu, jika kau masih aku minta mengerjakan sesuatu.


Oh ya, pakai baju yang aku kirimkan.


Zifana memejamkan matanya, hatinya berbunga. Dipeluknya mawar merah dari suaminya itu.


"I Love you," lirih Zifana. Zifana menyadari perasaan cintanya pada Delon. Delon? Bagaimana dengan lelaki itu? Meski tidak diungkapkan. Delon memintanya untuk merasakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Delon tampak tersenyum, wajahnya berseri seri. Andreas yang baru saja masuk tampak menatap bosnya yang menampakan wajah semringah yang beda dari biasanya itu.


"Kau bahagia sekali," ucapnya.


Delon menoleh dan menatap ke arah Andreas.


"Kau kasih bonus seluruh karyawan 20 persen dari gaji," ucapnya.


Andreas menautkan alisnya. Baru saja dia akan melaporkan berkas meeting nanti siang, bahwa iklan yang diunggah dan dipasarkan membuat pesanannya melejit. Apa Delon sudah tau? Kenapa wajahnya terlihat sumringah dan bahagia dan berbunga bunga ?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2