
"Nona Zie?" tanya Delon dengan sorot mata yang sulit diartikan sambil menatap ke arah Steve, Willy dan juga Zifana bergantian.
"Ya, Dia Nona Zie, model yang akan berkolabkrasi dengan anda," ucap Steve lagi mencoba meyakinkan.
Delon berjalan ke arah Steve dan menatap wajah Steve dengan senyuman yang mengejek.
"Sejak kapan dia menjadi modelmu? Setauku, dia adalah sekertaris Tuan Willy," ucap Delon seakan menyangkal apa yang dikatakan Steve.
Willy dan Steve tampak diam tak menjawab. Karna pada kenyataannya apa yang dikatakan Delon itu suatu kebenaran.
"Benar begitu kan Nona Zie?" tanya Delon sambil menatap Zifana dengan tatapan yang tajam dan menekan kalimat terakhirnya, seolah dia menegaskan bahwa apa yang dikatakan adalah kebenaran yang nyata.
Zifana hanya diam mendapat pertanyaan itu. Dia memejamkan matanya, hatinya sejujurnya sangat deg degan sekali karna bertemu Delon. Tak menyangka saja kejadiannya seperti ini. Tak menyangka posisinya sangat sulit seperti ini.
Dia juga bertanya tanya, sebenarnya Delon sudah mengetahui kepergiannya atau belum? Mengingat saat ini Delon sangat dingin dan tampak tegas dan terdengar emosi.
"Apa anda tidak punya mulut Nona?" tanya Delon lagi, suaranya sedikit meninggi. Zifana masih terdiam.
Delon tersenyum seolah menyepelekan. Dia berputar memutari tiga orang itu sambil memasukan tangannya di saku celana.
"Model untuk sebuah proyek besar, harusnya smart, berbakat, mempesona, cekatan, dia seharusnya sangat menawan, dan...."
"Saya memang seorang sekretaris, Tuan Delon yang terhormat. Tapi saya berbakat, saya cantik, saya bisa dan saya mampu menjadi model seperti apa yang di konsepkan oleh anda dan asisten anda," ucap Zifana dengan lantang dan elegan, Zifana menyela ucapan Delon. Membuat Delon kini menatap ke arah Zifana.
Deg
Jantung Delon bergetar hebat, sahutan Zifana bagaikan kilat yang membuat hatinya berdesir dan takjub. Bagai skak mat yang melumpuhkan pita suaranya.
Willy dan Steve tampak terkejut dan lega secara bersamaan. Mereka menatap Zifana yang memutar langkah menghadap ke arah Delon. Mereka tampak menganga tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Andreas yang ada di depan pintu tampak tersenyum penuh arti. Dia bahkan sangat takjub dengan kepercaya diri dari Zifana yang notabenenya adalah istri Delon sendiri. Andreas menatap dua orang yang saling berpandangan itu. Delon tampak beebeda, aura yang ditunjukan sangat berbeda dari beberapa saat yang lalu.
Plok, plok, plok, Delon bertepuk tangan dan memutari tubuh Zifana.
"Waw, sangat istimewa. Aku suka gaya anda Nona." ucap Delon seakan bangga.
"Oke, saya trima kerja sama ini. Saya cukup terkesan dengan keberanian anda. Senang bekerja sama dengan anda Nona Zie," ucap delon dengan disertai senyuman, entah itu senyuman apa. Dia juga mengulurkan tangannya, seolah mempercayai Zifana.
__ADS_1
Willy dan Steve masih saja deg degan, bagaimana kelanjutan dari ini semua. Mereka masih saja menatap ke arah Zifana, berdoa pada Tuhan agar Zifana menyetujui.
Zifana menatap uluran tangan Delon, hatinya campur aduk tak karuan. Delon adalah suaminya, suami yang tak menganggapnya, suami yang selalu menyakitkan hatinya. Dan sekarang dia harus menjadi patner kerja dari manusia yanh selalu menyakitinya itu? Dia bersusah payah kabur dan sekarang harus tertangkap dan terperangkap dalam ketidak nyamanan?
Zifana menghela napas panjang. Takdir macam apa ini?
"Jadi bagaimana? lanjut atau berhenti? Setuju atau tidak?" tanya Delon seakan tak sabar.
Zifana menghela napas panjang, sepertinya dia harus berjuang demi Willy. Willy adalah sahabat baiknya, dia tak mau Willy bangkrut dan terpuruk.
"Saya trima kerja sama ini, senang bertemu dan bekerja sama dengan anda," ucap Zifana sambil membalas uluran tangan Delon.
Delon tersenyum, mendapatkan sambutan uluran tangan dari Zifana membuat hatinya merasakan kehangatan. Keduanya saling menatap, saling menyelami keadaan. Mata Delon tak lepas dari wajah cantik itu. Bahkan, Delon kini menatap ke arah bibir cantik Zifana sehingga mengingat betapa manisnya saat itu.
Willy dan Steve sudah tenang, mereka menghela napas panjang.
Zifana menarik uluran tangannya, Delon yang tersadar tersenyum sinis dan menatap ke arah Willy dan Steve.
"Aku tau, kalian gagal mengkonsepkan ini semua. Akan tetapi, aku memaafkan kalian. Sekarang, biarkan Nona Zie ikut denganku untuk membahas beberapa kerjasama," ucap Delon sambil menatap Willy dan Steve.
Zifana menautkan alisnya, apaa apaan ini? Mana ada seperti ini? Zifana tampak menggelengkan kepalanya. Dia tau, bukan hanya kerja sama yang nantinya akan dibahas oleh Delon.
"Maaf Zie, aku harus mengorbankanmu," batin Willy.
Steve tampak diam, sebetulnya dia sangat dongkol. Sebetulnya dia sangat geram, tapi saat ini benar benar tidak ada yang bisa dilakukannya.
"Zie, maaf. Aku pastikan akan membalas perbuatan Delon saat ini," batin Steve geram.
"Baik, karna ini sudah siang dan nanti masih banyak sekali acara, sebaiknya saat ini saya pamit. Dan kau Nona Zie, ikut ke Wilantama grup saat ini juga," ucap Delon.
"Baik, saya akan mengantarkannya," ucap Willy.
"Kau tak usah repot repot, Nona Zie bersamaku saja. Anggap saja ini adalah sebuah fasilitas dariku. Dia adalah patnerku dan berhak untuk mendapatkannya," ucap Delon kemudian melangkah pergi.
Zifana tampak menghela napas panjang. Sebetulnya dia tak suka ini. Delon, pria itu sangat pandai memainkan situasi sehingga bisa membuat Zifana tak berkutik.
Willy dan Steve kini mendekat ke arah Zifana.
__ADS_1
"Zie maaf,"
"Nona Zie maaf,"
ucap Steve dan Willy bersamaan.
Zifana tampak tersenyum, entah itu senyuman yang bagaimana. Dia malas bicara, bahkan dia geram pada Willy dan Steve. Terlebih lagi dengan Klara. Zifana segera melangkah pergi dan mengikuti langkah Delon menuju ke loby.
Mobil berwarna hitam metalik telah berada di depan lobi, pintu mobil sudah terbuka.
Delon berhenti dan menatap ke arah Zifana dengan tatapan dinginnya.
"Silahkan, Nona" ucap Andreas. Zifana yang semula diam menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam mobil.
Andreas juga mempersilakan Delon untuk masuk. Lelaki dingin itu segera masuk. Andreas segera menutup pintu. Dia berlari kecil menuju ke arah kemudi.
Segera Andreas menancap gas mobilnya membelah jalanan menuju ke arah Wilantama grup dengan tenang. Suasana tampak sepi, tak ada percakapan antara Delon dan Zifana. Delon memainkan ponselnya tak menghiraukan keberadan Zifana. Sedang Zifana mengarahkan pandangan ke arah pepohonan di luaran sana.
Andreas tampak tersenyum, sepertinya dia harus melakukan sesuatu agar suasana canggung antara kedua bosnya itu berkurang.
Andreas menambah kecepatan, Delon tetap tenang karna Andreas yang suka dengan balapan memang seringkali seperti ini.
Sedangkan Zifana yang memang takut kecepatan tinggi kini tampak merespon. Wajahnya tampak memucat. Tangannya berpegangan erat pada jok depannya. Kepalanya semakin pusing, tapi dia enggan berkeluh.
Delon melirik ke arah Zifana, dia tau ada yang tak beres dengan istrinya itu. Banyangan wajah pucat Zifana saat takut petir waktu itu mengiang di otaknya, dia menyadari sesuatu. Segera Delon menarik Zifana dalam pangkuannya. Spontan Zifana melingkarkan tangannya di leher Delon. Menyusupkan wajahnya di dada bidang Delon.
Andreas tampak melirik spion, dia tersenyum smirk. Dan menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas mendadak merah.
Delon dan Zifana terkejut dan semakin intim, Zifana mengangkat wajahnya saat menyadari mobil berhenti. Delon menunduk, sehingga kedua mata sepasang suami istri itu tampak berpandangan mesra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo readers tersayang. Maaf baru sempat up, setelah menjalani beberapa aktivitas hari ini.
Ngomong ngomong, terimakasih ya atas like yang mencapai 200😀😀😀.wkwkkw. Gitu dong, Rajin dukung otor 😂😂😂. Dukungan kalian semua penyemangat otor.
Isnya Allah diakhir episode nanti bakal aku kasih hadiah pada 5 orang beruntung menurut aku. Wkwkwk. Mana tau komen kalian membawa hadiah untuk kalian. wkwkkw.
__ADS_1
Semangat yuk..