
Delon melepaskan semua yang melekat di tubuhnya. Sepertinya dia tak mampu lagi untuk menahan hasratnya.
Delon menatap wajah Zifana yang tampak cantik. Delon tersenyum, ada getaran aneh yang menjalar di tubuhnya.
Zifana tampak bimbang, air matanya mengalir deras.
Delon memejamkan matanya, sedih melihat Zifana seperti ini. Mau mengakiri semua? Tapi tubuhnya menginginkannya. Mau meneruskan? Bagaimana perasaan Zifana nantinya?
Delon merasa dilema dengan apa yang akan terjadi, hampir saja Delon mengurungkan niatnya. Akan tetapi, nyawa keduanya tak bisa memahami.
Masa bodo dengan penolakan Zifana, yang jelas dia harus menuntaskan apa yang harus dituntaskan. Delon mengusap air mata Zifana.
Zifana masih memejamkan matanya, rasanya tak sanggup untuk berbicara lagi ataupun memberontak. Dia hanya pasrah, dia istri Delon juga. Memang kewajibannya melayani Delon. Meski entah bagaimana ke depannya. Zifana hanya bisa pasrah.
Keadaan Zifana yang tanpa pemberontakan membuat Delon tak segan untuk meneruskan aksinya. Bibir Delon membungkam mulut Zifana dangan lembut, turun ke leher jenjang yang putih mulus. Sentuhan yang lembut memabukkan membuat tubuh Zifana merasakan panas dingin seketika.
Zifana membuka matanya, tak kuasa lagi untuk menolak atau memberontak. Bahkan dirinya merasakan hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Delon membuat gigitan kecil memberikan jejak kepemilikan di lehernya lagi. Turun, turun dan menyapu tubuh Zifana.
"uh," lirih Zifana.
Delon menyunggingkan senyum dibibirnya. Delon terus bermain dan menyentuh dua gunung himalaya yang menjulang tinggi. Bermain diatas bukit yang indah. Zifana yang kehilangan kendali merintih kembali saat Delon kembali memberikan sensasi yang berbeda di tubuhnya.
Rintihan Zifana terdengar menggoda di telinga Delon, membuat diri Delon semakin menggila. Senjata Ampuh merespon sempurna hingga menegang, menyesakkan dirinya dan menyiksanya sedari tadi. Delon perlahan mencoba untuk memasukannya.
Zifana yang semakin tak berdaya tak bisa melakukan apapun. Rasanya sangat indah, sangat nikmat, bagaikan melayang ke angkasa.
__ADS_1
Walau ada bayangan Elia dan bayangan wanita, tapi tak kuasa dia menolak atau menghentikan aktifitas Delon saat ini. Kenapa? Entahlah.
Zifana benar-benar tidak bisa menghindar dari jeratan perasaan membuncah didadanya. Akal sehatnya mencoba untuk menolak kembali, namun tubuhnya seakan berkhianat.
"Baby, akan sedikit terasa sakit. Bersiaplah, aku akan melakukannya dengan hati hati," ucap Delon.
Deg, Zifana hanya bisa diam. Walaupun hatinya sebenarnya sangat kacau.
Delon menggenggam erat kedua tangan Zifana. Beberapa saat kemudian, Zifana membolakan kelopak matanya saat merasa sesuatu melesak ke dalam dan menekan titik sensitifnya.
"Ahk,,," terdengar Zifana berteriak.
Delon membungkam mulut Zifana dengan bibirnya, mencoba memberikan ketenangan pada istrinya. Delon merasa lega, jantungnya berdetak tak karuan saat melihat tetesan darah di spreynya. Hatinya seakan haru, ini benar benar dia merasakan nikmatnya bercin*a. Melihat dengan sendirinya darah segar dari kewanitaan istrinya.
Tubuhnya bergerak ke atas ke bawah mencari sebuah kenikmatan. Bahkan Delon memejamkan matanya saat merasakan tubuhnya seperti melayang ke angkasa.
Apa yang dilakukannya? Tapi Zifana istrinya. Hais, entahlah. Keduanya tampak gugup, mereka saling memandang dan mengatur pernapasan. Tatapan Delon tak bisa di jelaskan, ia menatap Zifana dengan teduh. Senjatanya masih menancap di lubang, dan Zifana masih terdiam dengan air mata yang terus saja mengalir.
Delon mengusap air mata Zifana, mengusap puncak kepala Zifana dengan lembut.
Beberapa menit berlalu, Delon yang sudah menuntaskan apa yang sedari tadi menyiksanya, kini turun dari tubuh Zifana, dia berbaring di samping Zifana dan memeluk tubuh istrinya.
Zifana memiringkan tubuhnya, membelakangi Delon. Di tengah kegelapan dia menangis, menyesal, kecewa, bahagia, menikmati, saat ini perasaannya sulit untuk dijelaskan. Melihat Zifana yang menangis membuat Delon tersentuh. Apa dia salah?
Di dalam hatinya yang paling dalam, tak mau dia melakukan pemaksaan. Akan tetapi, tubuhnya menuntut lebih.
__ADS_1
Delon meraih selimut, menutupi tubuhnya dan tubuh Zifana dengan rapat. Ditariknya tubuh Zifana menghadap ke arahnya.
Kini Zifana menghadap ke arahnya, Delon meletakan wajah Zifana di dada bidangnya. Terdengar isakan tangis Zifana, membuat Delon memejamkan matanya.
Dia tak pernah tega melihat wanita menangis. Delon menghapus air mata Zifana.
"Tenanglah, aku akan bertanggung jawab. Kau istriku, dan selamanya akan seperti itu," ucap Delon.
Zifana semakin terisak. Entah perasaan yang bagaimana yang kini bersemayam dalam benak masing masing, mereka saling berdiam.
"Tidurlah, my wife," lirihnya tanpa ada kata cinta yang membuat Zifana merasakan sesak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari yang indah, ponsel Delon beberapa kali berdering. Segera lelaki itu bangun, dilihatnya nama Andreas di sana.
"Ada apa Ndre?" tanyanya.
"Bos, Elia ingin bertemu denganmu dan Nona Zifana," ucapnya.
"Zifana masih tidur, katakan pada Elia, nanti siang sepulang sekolah aku akan menjemputnya dan mempertemukan dengan Zifana," ucapnya
"Oke, apa Nona Zie kelelahan?" tanya Andreas. Delon tampak tak menanggapi ucapan Andreas dan segera menutup ponselnya.
Delon menatap wajah cantik di sampingnya, meraih celana dan baju kemudian melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Zifana masih belum bangun saat Delon selesai mandi. Delon memesankan makanan untuk Zifana. Dia harus meeting pagi pagi. Delon mengecup puncak kepala Zifana, tak meninggalkan pesan apapun kini Delon pergi meninggalkan apartemen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...