Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Bertemu


__ADS_3

Apa tadi?


"Hiduplah denganku zie," ucap Willy.


Zifana menatap Willy dengan gugup. Apa maksudnya? Zifana meletakan berkas diatas meja dan menatap sahabat baiknya.


"Apa maksudmu Wil?" tanyanya.


Zifana menghela napas. Mungkin bila dia belum menikah, mendapat lamaran dari Willy akan sangat membuat dirinya bahagia. Lalu, saat ini dia sudah menikah. Dan pernikahan itu disembunyikan, lalu apa iya dia harus meminta Willy menunggunya? Tidak, walau sebenarnya membuka hati untuk Willy pastinya lebih gampang, dari pada membuka hati untuk suami yang selalu membuatnya sakit hati itu.


"Zie, menikahlah denganku," ucapnya.


Zifana terkekeh dan memandang sahabatnya, yang kini menatapnya dengan teduh.


"Jangan bergurau Wil, kita bersahabat, aku tidak mau saja jika persahabatan kita berakhir hanya karna cinta," ucap Zifana.


Willy mendekat ke arah Zifana dan memegang kedua pundak Zifana.


"Zie, kau tau pasti perasaanku. Apa kau masih ragu?" tanya Willy.


"Lihatlah Zie, sampai sekarangpun aku tidak dekat dengan siapa siapa Zie," tambah Willy. Zifana merasa sesak, Willy memang sangat baik padanya. Bahkan dia selalu menasehati wanita itu saat Zifana salah melangkah.


"Biarkan aku pergi kalau kamu masih membicarakan ini. Biarkan aku pergi jika kamu hanya mau memaksaku," ucap Zifana sambil berdiri. Willy tampak kaget dan menatap sahabatnya.


"Kau tau Wil, kau sudah aku anggap sebagai kakakku, kau sudah aku anggap sebagai saudara. Aku tidak bisa lebih dari itu Wil," ucap Zifana sedikit berontak dan emosi.

__ADS_1


"Oke, maaf Zie. Aku minta maaf, tetaplah disini untuk membantuku," pinta Willy. Zifana menghela napas panjang.


"Maukah kau berjanji untuk tidak membahas lagi cinta? Kau saudaraku Wil, aku tidak bisa lebih dari itu," ucap Zifana.


Willy menghela napas panjang dan menganggukan kepalanya.


"Sebaiknya kita segera ke tempat meeting, sepertinya rekan bisnis kita sebentar lagi datang," ucap Willy.


Zifana mengangguk pelan, keduanya berjalan ke arah loby perusahaan. Sesekali mereka bertemu dengan karyawan yang menghormati keduanya dan dibalas senyuman oleh Zifana.


"Itu Nona Zifana?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya,"


"Tumben sekali tersenyum, biasanya jutek. Bahkan tidak menganggap kita, tumben sekali ramah gitu," ucap mereka.


"Kalo ramah gitu kelihatan cantiknya. Kalo jutek, sombong kelihatan galaknya. Amit amit Bos Willy punya pacar yang galak," ucap yang lain lagi.


"Hus, jangan bicarain bos, kita kerja lagi," ucap yang lainya.


...----------------...


Willy dan Zifana sudah terlebih dulu sampai di restauran yang digunakan untuk membahas projek mereka.


Kini keduanya berjalan menuju ke arah ruang VVIP yang telah dipesan. Mereka menyiapkan keperluan, hingga tak lama dari itu pelayan membawakan makanan dan minuman pembuka.

__ADS_1


Tak lama dari itu, terdengar suara gaduh dari luar sana. Zifana dan Willy tampak berpandangan. Kenapa segaduh itu?


"Memang siapa yang datang? Kenapa mereka seribet itu?" tanya Zifana.


"Entahlah, mungkin perwakilan Wilantama grup," ucap Willy.


Zifana tampak terkejut. Jadi perusahaan yang bekerja sama adalah perusahaan Delon? Ingin kabur saja rasanya.


"Wilantama group, kenapa kau tak bilang Wil?" gugupnya. Willy tampak terdiam, karna di depan pintu seseorang sudah datang disambut oleh meneger restauran dan stafnya.


"Selamat Siang, Tuan Delon," ucap meneger itu sambil membungkuk memberi hormat pada sosok yang baru saja datang itu.


Mereka segera berjalan ke arah ruangan yang tersedia.


Zifana dan Willy tampak terkesima dengan kemunculan sosok gagah yang kini masuk ke dalam ruangan itu. Sosok gagah yang memakai identitas CEO di saku jas bagian kanan. Wily dan Zifana berdiri menhambut, willy menghela napas panjang. Bagaimana bisa pimpinannya yang datang?


Zifana merasa sesak napas, bagaimana bisa dia tidak menanyakan perusahaan mana yang akan bertemu? Gugup menjelajah di hatinya.


Sedangkan Delon kini tampak terkejut dan menghentikan langkahnya. Saat netranya menatap pandangan mata wanita yang tak asing baginya.


Keduanya saling berpandangan, seakan tak mau berpaling dan saling mengisyaratkan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.


Andreas yang mengerti keadaan ini segera maju dan mendekat ke arah Delon.


"Silahkan duduk, Tuan Delon," ucapnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2