
Brak...
Pintu terbuka saat lelaki itu hampir saja melancarkan aksinya untuk menikmati b*bir ranum Zifana. Lelaki itu menoleh ke belakang, di lihatnya seseorang yang begitu tidak asing baginya.
Lelaki yang sudah setengah telanj*ng itu turun dari tubuh Zifana dan menatap lelaki yang baru datang itu.
"Delon?" Bagaimana bisa?" batinya bertanya. Dia mengepalkan tangannya dan meraih kemejanya.
Zifana bernapas lega saat melihat Delon datang dengan sorot mata dingin yang mengintimidasi Lelaki jahat itu.
"Lepaskan wanita itu," ucapnya penuh
Delon juga melirik ke arah Zifana yang berantakan dan mengenaskan. Ada sesak yang menggelayuti hatinya melihat penampilan Zifana yang mengenaskan. Tatapan mereka bertemu, Zifana yang menangis seakan meminta dirinya untuk menghabisi lelaki itu.
Delon mengepalkan tangannya, marah pada lelaki yang memperlakukan istrinya seperti itu.
Tangan kanannya mengepal. Tangan kiri Delon meraih kerah baju lelaki yang kini mencoba kembali memakai bajunya itu dan memberikan beberapa pukulan. Lelaki itu melawan dan mereka saling adu kekuatan.
Zifana bangun dan beringsut mundur, menutupi tubuhnya dengan baju sobeknya sambil menyaksikan perkelahian dua orang yang sama kuat itu.
Terlihat Delon beberapa kali memukul dan menghantam tubuh lelaki bertopeng itu, mencoba membuka topeng. Beberapa kali juga lelaki itu bisa menghindar dan bisa membalas sehingga memberi beberapa pukulan di wajah Delon. Kini, Delon tampak mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Tak lama Dari itu, Andreas muncul dan mengambil alih tempat Delon.
Andreas menyerang lelaki yang tampak mulai kualahan itu.
"De, pergilah," ucapnya. Dia menggiring lelaki bertopeng untuk keluar.
Delon mendekati Zifana yang menangis di pojokan. Hanya isak tangis Zifana yang terdengar, mata indah yang selalu dia tampakkan hilang entah kemana. Wajah yang biasanya berseri hilang tertutup duka.
Rasa sakit menyayat hati Delon ketika melihat pemandangan ini. Delon mendekati Zifana, Zifana beringsut mundur dan tampak ketakutan.
Tak peduli dengan penolakan Zifana, Delon mendekati istrinya dan memeluknya dengan erat.
Zifana diam dan tak memberontak, dia merasa aman sekarang. Zifana menangis sesenggukan dalam pelukan Delon.
__ADS_1
Delon mengusap rambut istrinya yang sudah berantakan kemana-mana.
"Menangislah," ucap Delon lirih. Hatinya benar benar dongkol. Dia mengepalkan tangannya.
Zifana semakin menangis dalam pelukan Delon. Meluapkan segala kegundahan dan ketakutan di dada bidang suaminya.
Delon memejamkan matanya, ada rasa sakit yang tengah dia rasakan. Sesal seakan menghantui otaknya ketika meninggalkan Zifana dan tak mengajaknya tadi untuk pulang bersama.
Tubuh Zifana seakan lemah, dia tak sadarkan diri. Delon terkejut, ia memandangi wajah Zifana yang pucat.
Delon menggendong istrinya setelah melihat beberapa orangnya datang untuk membantu Andreas mengurus masalah ini.
Delon mencoba untuk tidak panik, ia berjalan keluar membopong tubuh Zifana yang sangat lemah. Delon mengepalkan tangannya, netranya melirik orang yang tengah berkelahi dengan Andreas itu. Seperti tidak asing baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon mendudukan Zifana dalam mobil dan segera pergi dari tempat itu. Dia melirik Zifana yang lemah, dia harus segera di apartemen. Ya, dia memilih di apartemen saja. Kondisi yang seperti ini tidak memungkinkan membawa Zifana pada Elia.
Delon mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sangat lega bisa datang tepat waktu. Tadi, di pangkalan ojek di danau, masih ada beberapa ojek. Delon bertanya pada mereka, apa melihat wanita yang ada di ponselnya.
Tukang ojek itu mengatakan bahwa nona itu naik ojeknya orang baru, menuju ke arah kanan. Dari situ Delon dan Andreas yang baru datang segera mencari.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di apartemen, Delon keluar dari mobil kemudian menggendong istrinya menuju ke kamarnya. Dia membaringkan tubuh Zifana di ranjang, mengganti pakaian luar Zifana dengan baju tidur.
Mata Delon seakan terpesona dengan tubuh istrinya itu. Segera Delon mengakhiri rutinitasnya, dilihatnya tanda merah di leher Zifana. Tanda yang ditinggalkan lelaki bejat itu. Delon mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Jangan harap kau lolos," lirihnya.
Delon menyelimuti tubuh Zifana, menatap wajah cantik yang tampak sembab itu. Mengusap pipi mulus yang masih basah karna air mata. Delon mengecup singkat puncak kepala Zifana. Perasaannya campur aduk.
"Aku bahagia kau selamat," lirihnya kemudian berdiri dan membersihkan dirinya di kamar mandi.
Setelah membersihkan dirinya, Delon membuat susu hangat dan membuat roti bakar di dapur.
Zifana mengerjabkan matanya, menetralkan pandangan matanya. Dia mengedarkan pandangan. Ingatannya tertuju pada beberapa saat yang lalu, Zifana terkejut dan bangun.
__ADS_1
Dia menatap dirinya yang sudah berganti pakaian.
"Kak Delon," lirihnya. Hatinya berdebar tak karuan, ingatannya begitu mengoyak pikiranya.
"Kau sudah sadar," Delon membuka pintu sambil menatap bahagia ke arah wanita cantik itu.
Seketika Zifana berdiri, ditatapnya lelaki yang menggunakan kaos oblong dan celana pendek itu dengan waspada.
Delon berjalan mendekat dan meletakan susu dan roti di atas nakas. Ditatapnya Zifana yang tampak ketakutan itu.
"Makanlah, tubuhmu butuh asupan biar tidak lemas, setelah itu kau tidur kembali. Kurasa kau sangat lelah," ucap Delon, dia berbicara dengan halus.
Zifana terdiam dan menatap Delon yang membaringkan tubuhnya di ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Zifana menghela napas panjang.
"Ini semua bukan ulahmu kan Kak?" tanya Zifana dengan suara yang bergetar. Pikirannya yang semula menyangka bahwa ini adalah ulah Delon seakan ditepis dengan munculnya orang bertopeng itu. Tapi, dia tetap ingin memastikannya. Dan mendengar sendiri jawaban dari Delon.
Delon kini turun dari ranjang dan menatap istrinya dengan geram. Bagaimana bisa dia dituduh Zifana seperti itu setelah dia mencoba mencari carinya dengan perasaan gelisah?
Delon mencoba bersabar, dia tau Zifana masih terpukul. Berbuat kasar malah akan menyakiti mentalnya. Delon melepaskan kaos oblongnya dan melempar ke sembarang arah.
Zifana membelalakkan matanya, ini pertama kalinya melihat Delon membuka baju dan hanya pakai baju dalam seperti itu, sangat tampan. Zifana berjalan mundur. Apa yang akan dilakukan Delon?
Delon menarik pinggang Zifana, mendongakkan wajah cantik itu kepadanya. Zifana terkejut, tapi bukan takut justru dia merasa tenang berada dalam rengkuhan Delon. Keduanya saling berpandangan.
"Tanpa tangan tangan kotor itu, aku bisa memintanya darimu. Kau istriku, cinta atau tidak, tugasmu memang melayaniku," lirih Delon.
Deg...
Jantung Zifana bergetar hebat, rasa sakit bertubi menghujamnya. Tapi, apa yang dikatakan Delon memang benar adanya.
Delon perlahan mencium bibir Zifana dengan lembut. Tangannya merayap dengan sempurna, mengeratkan pelukan pada Zifana. Dia merasa nyaman, merasa sangat bahagia bisa memeluk istrinya setelah rasa gelisah melanda hatinya.
Zifana tak memberontak, bahkan tubuhnya yang tadi sempat terangsang karna lelaki bertopeng itu kini merasa nyaman dengan perlakuan Delon. Perasaannya campur aduk.
Delon yang tadinya hanya ingin bercanda merutuki dirinya sendiri, pasalnya suhu tubuhnya memanas menginginkan hal lebih karna nyawa keduanya bangun dan merespon sempurna.
__ADS_1
Tangan Delon menekan mamatikan lampu kamar besar dan mengganti dengan lampu kecil. Keduanya masih saling bertautan. Suasana begitu hangat, akankah Delon menyudahi puasanya setelah hampir empat tahun tak melakukan dengan Vely?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...