
Di sebuah perusahaan agensi permodelan dan jasa. Steve Arnold Mahardika, seorang CEO mudah tengah tersenyum puas dengan hasil pemotretan. Dia memandang foto yang sangat menawan dari model yang tak lain adalah istrinya sendiri, Clariza Velya low dengan Nama panggung Clara.
"Kau sangat berbakat sayang," sanjungnya pada wanita cantik itu.
Vely tersenyum indah dan mengecup singkat bibir suaminya.
"Hem, aku tau," ucapnya.
"Kau tampak bahagia," ucapnya.
"Atm berjalan sudah mentrasfer uangnya, dan aku masih belum juga mengangkat panggilannya," ucap Vely.
"Tidak sabar kita akan ke negara I, kita lihat ekspresi kesal mantan suamimu itu," ucap Steve sambil tersenyum sinis.
"Kau benar, apa kita segera ke negara I? Selain merencanakan untuk bekerjasama dengan Milantama grup, kita ada proyek besar dengan WL grup dari perusahaan yang katanya sangat besar juga. Kau akan mendapatkan loyalty yang tinggi dari sana," ucap Steve.
"Benarkah?" tanya Vely.
"Hem, dua kali lipat dari loyalty yang kau dapat jika kau mampu bekerja dengan baik, Dan jika produk mereka bisa terpasarkan dengan baik," ucap Steve.
"Aku tidak sabar untuk itu, Aku rasa kita bisa malam ini terbang ke sana," ucap Vely.
"Kau sudah tidak kuat menahan rindu pada mantan suamimu?" tanya Steve sambil meraih pinggang Vely.
"Lebih tepatnya aku tidak kuat untuk segera melihat huru hara di keluarga itu. Aku ingin membuat kekacauan disana," ucap Vely sambil tersenyum sinis.
"Kita berangkat sekarang juga," ucap Steve.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon membuka dan menutup beberapa berkas, emosi dalam dirinya seakan tak terkontrol. Vely mengganggu pikiranya, Zifana juga sama.
__ADS_1
Andreas menatap sahabatnya dan memberikan sebuah berkas penting.
"Apa ini?" tanya Delon pada asistenya.
"Itu adalah sertivikat Zif bontique. Satu minggu sudah perusahaan dan butik itu kita hendel, dan kau tau, selama seminggu keuntungan yang kita dapat diluar dugaan, dua puluh lima persen yang kita agendakan kembali modal ternyata malah dua kali lipat dari itu sudah kembali modal," ucap Andreas.
Delon menatap Andreas dan menatap beberapa sertivikat di atas meja.
"Zif bontique, kita yang hendel?" tanya Delon.
Andreas terkekeh dan mengangguk.
"Ya," ucap Andreas.
Delon tampak meraih sertifikat itu dan membukanya, menatap beberapa sertifikat atas nama Zifana Aurora Manda itu. Bagaimana bisa ada ditangannya?
"Jadi perusahaan kita yang membelinya?" tanya Delon.
"Kau urus dan pastikan berkembang Ndre, aku percayakan padamu," ucap Delon.
"Apa tak ada keinginan untuk meminta Nona Zifana sendiri yang menghendel?" tanya Andreas.
"Apa kau lupa, dia hanya istri simpanan. Aku tidak mau melukai hati Vely, sembunyikan semua ini dari Vely," ucapnya ketus.
Andreas berdecih, dan menatap sahabatnya.
"Sepertinya kau tidak bisa memanjakan istri kesayanganmu itu, tak menutup kemungkinan yang terlihat baik bisa menerkam dari belakang," ucap Andreas kemudian melangkah pergi.
Delon menatap kepergian Andreas, apa maksud sahabatnya itu? Dia mengepalkan tangannya. Pikiranya melayang. Apa maksud Andreas adalah Vely? Dalam hatinya yang paling dalam itu ada keraguan, tapi sayangnya rasa cintanya membuatnya seakan buta.
Dilema menghantui hati Delon. Ucapan Marvel Raditia Dika saat itu juga mengiang di otaknya. Delon mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
"Jika Vely berani bermain api, aku pastikan dia akan terbakar karna ulahnya," lirihnya saat benteng kepercayaan dalam hatinya pada Vely kini terkoyak oleh ucapan Andreas.
Diluar sana, Andreas tersenyum puas, Delon tidak bisa dipaksa. Bahkan sebenarnya lelaki itu sangat cerdas, akan tetapi saat ini cinta membutakan matanya, bagi Andreas percuma jika mengatakan suatu yang belum jelas, malah akan mendatangkan perdebatan karna kepercayaan pada Vely sangat penuh. mungkin meruntuhkan sedikit demi sedikit adalah hal yang bisa dia lakukan. Seiring berjalanya waktu Delon akan tau dan mengetahui semuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam begitu dingin, saat ini Zifana membereskan makanan di atas meja karna tak ada tanda Delon akan datang. Mungkin malam ini malam terakhirnya di apartemen, besok Elia sudah kembali, artinya dia juga harus kembali ke mansion mewah keluarga Wilantama.
Deringan ponsel Zifana berbunyi, segera wanita cantik itu mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
"Willy?" lirihnya.
Zifana menghela napas panjang, mengingat Willy menjadikannya ingat situasi tak mengenakan siang tadi. Tatapan benci suaminya, tatapan yang tak mengenakan padanya. Bahkan sampai sekarang Delon tak kunjung datang.
Segera Zifana mengangkat panggilan dari Willy.
"Halo wil, ada apa? Bukankah tugasku sudah selesai? Sebaiknya kau membiarkanku istirahat," ucap Zifana.
"Zie, sekretarisku masih belum bisa masuk, karna ternyata dia sakit karna dia melahirkan lebih awal. Artinya tiga bulan kedepan aku tidak punya sekretaris karna dia cuti, aku mohon bantu aku Zie," ucap Willy.
Zifana menghela napas panjang, dia menatap jam yang menunjukkan pukul 22.00.
"Bahas besok Wil, aku ngantuk sekali," ucapnya kemudian menutup ponselnya.
Zifana memutar langkahnya, sangat terkejut saat dirinya menabrak dada bidang orang yang berdiri di belakangnya.
"Ada hubungan apa kau dengan dia?" tanya suara itu terdengar sangat dingin dan menakutkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa Like, komen, Vote dan hadiahnya ya... wkwkkww. Senin berkah.
__ADS_1