
Vely dan Steve tersenyum bahagia ketika melihat dengan mata kepala mereka sendiri kesedihan yang dialami oleh Delon. Ya, keduanya telah bersiap di mobil menuju ke arah bandara.
Kini keduanya menatap ke arah beberapa aset milik Delon yang diatasnamakan Vely di sebuah map plastik.
"Sebaiknya kita segera pergi. Aku sudah puas dengan segala kehancuran Delon. Wanita murahan itu pasti pergi, Elia terbaring, aku? Aku juga akan pergi selamanya. Aku harap Delon tetap bodoh, menganggap aku adalah istrinya, tak menyadari apa yang aku lakukan dan menganggap kepergianku karna keabaiannya padaku. Aku yakin dia hancur, dari situlah dia akan jatuh miskin. Itu adalah harga yang harus dia bayar karna membuatku terpaksa harus menjadi istrinya karna pemaksaan kedua orang tuaku," ucap Vely dengan senyuman yang merekah.
Steve menghela napas dalam dalam, dan tersenyum bahagia. Dia melirik ke arah Vely, wanita yang dicintainya. Cinta? Benarkah? No, yang dia inginkan hanya ingin melihat Delon hancur karna melihat Vely berkhianat. Yang pasti dia bahagia mendapati kehancuran Delon.
"Selamat menikmati kehancuranmu Tuan Delon yang terhormat," lirih Steve.
Steve tampak bahagia sekali. Sesekali bayangan wajah Zifana manda muncul dalam benaknya. Dia tak mau Delon bahagia nantinya. Adakah rencana lain dalam benak Steve? Lelaki itu menyunggingkan senyum liciknya.
Vely berhambur ke pelukan Steve. Mereka melirik ke arah ponsel mereka yang menampakan putra kecil mereka yang berusia tiga tahun. Berharap mereka akan bahagia selamanya.
Steve mengulurkan tangannya, mengambil map yang dibawa oleh Vely. Dibukanya map itu dengan senyuman yang merekah. Akan tetapi, senyuman itu menghilang saat melihat copian sertifikat yang ada du dalam map itu. Dua puluh copian sertifikat yang ada di sana yang beratasnamakan Velya.
Steve tampak melemparkan map itu, Vely menatap ke arah suaminya.
"Ada apa Steve?" tanyanya.
"Apa yang kau bawa? Mana bisa kau mengendalikan perusahaan jika yang kau bawa kabur hanya copiannya saja? Mana bisa kau menjual aset milik Delon dan membuatnya miskin jika kertas tak berguna ini yang kau ambil!" Bentak Steve dengan emosi.
Vely yang terkejut segera mengambil beberapa lembar copian yang dia pikir asli itu. Ditatapnya copian warna sertifikat yang benar benar menyerupai aslinya.
__ADS_1
"Maaf Steve, aku pikir ini aslinya," ucapnya panik.
"Maaf katamu? Aku pikir kau bisa diandalkan, ternyata kau bodoh Vely. Bahkan, kau bukan lagi apa apa setelah memilih untuk mudur dari proyek kemarin. Kau tau, Zifana merajai dunia permodelan, dan kau bisa tergeser. Lalu sekarang apa yang kita harapkan?!" sentaknya.
Vely mengepalkan tangannya. Dia sudah keluar dari rumah itu, dan tidak mungkin dia kembali. Karna dia tau, pasti Delon sudah menyembunyikan aslinya entah dimana.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ponselnya berdering. Steve segera mengambil ponselnya.
"Halo," jawabnya.
"Bos, kau tau, beberapa perusahaan ternama membatalkan kerja sama. Dan beberapa investor juga mengambil investasi mereka dengan paksa dan tidak mau lagi menjadi investor perusahaan kita, lalu apa yang harus kita lakukan?"
Deg
Vely tampak menggelengkan kepalanya. Semuanya tidak seperti apa yang dia harapkan.
"Kita pergi untuk merayakan kemenangan, tapi sepertinya tidak untuk saat ini. Kau lihat Vely, dipastikan mantan suamimu yang bodoh itu sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," ucap Steve sambil mengepalkan tangannya.
Tampak dari kaca sepion mobil polisi mendekat, Steve tampak syok. Apa yang mereka mau? Bahkan dua mobil yang entah begitu familiar tampak mengikuti mobil polisi itu.
Steve yang merasa keselamatanmya terancam segera menancap gas mobilnya, mencoba kabur. Tiga mobil di belakangnya tampak mengejar. Bahkan beberapa polisi tampak mengarahkan tembakan ke ban mobil mencoba menghentikan laju mobil. Tapi tetap saja Steve menancap gas mobilnya.
"Steve, hati hati," teriak Vely.
__ADS_1
Brak, byur.....
Steve yang semula trus saja mengendarai mobilnya tak bisa mengontrol laju mobilnya. Dia terperosok masuk ke dalam aliran sungai yang dalam.
Beberapa polisi segera menghentikan mobil, Andreas yang tadi di hubungi oleh marvel tampak memejamkan matanya melihat kejadian naas ini. Ya, salah satu mobil yang mengikuti polisi adalah mobil andreas.
Dia mengambil gambar dan mengirimkan pada Delon di sebrang sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon membuka ponselnya, dia pikir ada kabar dari Zifana. Tapi bukan, dia malah melihat mobil Vely terjun bebas ke dalam aliran sungai yang deras. Dia terkejut, kedalaman sungai begitu dalam. Entah bagaimana nasip Vely.
Delon memejamkan matanya, bukan ini yang dia mau sesungguhnya. Walau bagaimanapun Vely pernah mengisi hatinya. Walau dia bukan juga ibu dari anaknya.
"Itu ganjaran yang impas untuk apa yang kau tanam Vely," ucapnya lirih sambil mengusap air matanya.
Fikiranya melayang jauh, dia yang mendengar keinginan Vely untuk pergi dan membawa sertifikat pada akhirnya mengganti dokumen penting itu dengan copiannya saja.
Delon berdiri di balkon kamar Zifana memandang jauh ke sana. Zifana mengiang dalam otaknya. Mengiang dalam hatinya. Rasa sesak menggelayut dalam benaknya.
Arggggghh......
Teriaknya sambil mengepalkan tangannya memberikan pukulan pada pagar pembatas.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...