Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Suasana yang menghangat


__ADS_3

"Urusanku denganmu belum selesai, bawa dua pegawaimu keruanganku!" ucap Delon kemudian melangkah pergi.


Delon membawa Zifana ke arah ruangannya, Zifana merasakan jantung yang sepertinya mau copot saja diposisi yang seperti ini. Dia tak mampu untuk memperlihatkan wajahnya.


Delon tampak bahagia, memperlakukan Zifana seperti ini membuat kebahagiaan tersendiri baginya. Beberapa saat kemudian, sampailah Delon ke ruangannya.


Delon mendudukan Zifana di atas sofa, Zifana duduk dengan tenang. Dia sedikit kesakitan dan menatap kakinya. Tadinya dia terhuyung mundur, sepatu hak tingginya tak bisa menahan hingga dia terjatuh.


Delon menatap Zifana dan duduk di samping wanita cantik itu. Seketika dia mengambil kaki Zifana ke atas paha.


Zifana yang terkejut tampak mundur dan kini berselonjor di sofa, menghadap ke arah Delon yang kini memijit kakinya. Suasana tampak tenang dan sedikit tegang.


"Sejak kapan kau menjadi wanita lemah yang cengeng? Dimana Zifana si manusia sombong dan angkuh itu?" tanya Delon datar, tampaknya dia mencoba untuk menghangatkan suasana. Fokus matanya mengarah pada kaki Zifana yang sedikit lebam itu.


Zifana menatap ke arah Delon yang dengan lihainya memijat kakinya. Tangan kekarnya memijit membuat rasa nyeri begitu terasa.


"Aduh," keluh Zifana yang tampak lesakitan.


Delon menatap wajah cantik yang tampak menahan sakit itu. Dia menatap wajah sebal Zifana kepadanya. Dipastikan istrinya itu akan membuat kalimat protes padanya


"Bisa pelan sedikit kak?" tanya Zifana sedikit bersuara tinggi. Delon menoleh ke arah istrinya dan terkekeh pelan. Benarkan protes.


Apa bisa marah marah seperti ini hanya padanya? Delon tampak menghela napas panjang. Entahlah, walau begitu, dia bahagia. Setidaknya Zifana tidak bersedih lagi. Wajah sembabnya sudah berangsur berubah bahagia.


"Ini juga pelan," sanggahnya.


"Pelan apanya, bukan menyembuhkan malah menyiksa!" ucapnya. Padahal tidak begitu juga keadaannya, malah dirinya seperti mendramatisir keadaan.

__ADS_1


Tapi melihat Zifana kesakitan dan mengomel justru malah membuat Delon tampak gemas sekali. Sorot mata tenangnya menatap wajah merona merah tapi tetap terlihat cantik baginya itu.


"Seriusan, ini pelan. Banyak wanita cantik yang aku tolong mengatakan jika pijatanku menggoda," canda Delon sambil tersenyum dan membuat Zifana membelalakkan matanya. Apa dia tidak mimpi? Delon tersenyum dan tenang seperti ini?


"Mana ada pelan, itu sakit sekali mijitnya kak," sewot Zifana. Delon memelankan pijatanya, dia menatap Zifa yang sudah tampak sedikit rileks.


"Sepertinya kau bisa galak hanya padaku, bisa sombong hanya padaku juga. Apa aku bermasalah denganmu hingga kau seperti ini?" Delon bertanya dengan suara yang tenang.


Zifana tampak mendongak, heran saja pada suaminya itu. Ternyata balok es yang dingin dan keras kepala itu bisa setenang ini.


"Mana ada seperti itu," ucap Zifana.


"Buktinya kau diam saja dimaki sama pegawai itu," ucap Delon. Zifana menghela napas panjang. Jadi Delon benar benar memperdulikannya tadi? Dia menatap ke arah Delon dan menghembuskan napasnya pelan.


"Itu karna aku sadar aku yang salah. Aku memang tak sengaja menjatuhkannya, dan tak bisa membayar," ucap Zifana. Delon menatap Zifana dengan sorot mata tak percaya. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke luar sana.


"Aku sadar bukan wanita baik baik, jika masa laluku meninggalkan sebuah kesan yang tidak baik. Maka aku berpikir untuk bisa berubah menjadi yang lebih baik," ucap Zifana. Dia tau Delon sepertinya berharap dia melawan.


Deg


Apa benar wanita cantik di depannya ini telah berubah? Apa benar begitu? Entahlah, yang jelas dia belum yakin. Delon terkekeh dan menatap Zifana dengan tenang.


"Sejak kapan kau bisa berbicara seperti ini? Aku tidak yakin kau berubah. Aku tau, kau hanya berpura pura, untuk menjalankan satu misi yang entah itu apa aku juga tidak tau," ucap Delon. Dia tetap meragukan kesungguhan Zifana yang ingin memperbaiki diri. Bahkan dia tampak meragukan ucapan ucapan ucapan Zifana yang dilontarkan beberapa minggu yang lalu itu.


Apa benar dia kabur dari rumah? Apa benar dia dan keluarganya sedang berbeda pendapat? Tapi jika tidak benar, kenapa juga Zif bontique dijual dan tak sengaja di beli perusahaannya? Entahlah, Delon tampak pusing.


Delon yang sudah menyelesaikan memijit kini berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dilihatnya gedung yang berjajar rapi dan menjulang tinggi di luaran sana.

__ADS_1


Zifana yang merasa masih diragukan, kini memakai kembali sepatunya, netranya menatap ke arah Delon yang berdiri di sana. Zifana berdiri dan berjalan ke arah Delon. Dia menghentikan langkahnya saat berada di samping Delon. Netranya juga menatap jejeran gedung yang menjulang tinggi itu.


"Percaya atau tidak bagiku tidak masalah. Yang jelas, selamat dari maut membuat aku menyadari kesalahan. Selamat dari maut membuat aku percaya bahwa Tuhan itu baik, jika Tuhan yang maha segalanya saja baik. Bagaimana bisa aku yang hanya tanah yang diberi nyawa begitu sombong dan angkuh?" ucap Zifana.


Deg


Jantung Delon berdetak hebat, dia memejamkan matanya. Apa ini kenyataannya? Apa Zifana bisa berubah seperti ini? Setelah apa yang dilakukan pada Radit dan Nada selama ini?


"Terimakasih telah menyelamatkan nyawaku saat itu, jika tidak ada kakak, mungkin aku sudah tidak bisa berdiri disini," ucap Zifana.


"Kau, Marvel, wajar saja benci padaku karna aku dulu memang jahat, meskipun bukan kau juga yang aku jahati," ucap Zifana dengan tenang. Dia mencoba bercanda, mencairkan suasana dengan guyonannya. Ingin tau saja apa reaksi suaminya.


Kini dia memandang ke arah Delon. Delon juga merubah posisi menghadap ke arah Zifana. Sepertinya dia tidak terima dengan ucapan Zifana. Dia maju mendekat ke arah Zifana, Zifana tampak waspada. Dia mundur beberapa langkah. Tapi tetap saja Delon maju. Delon meraih pinggang Zifana dengan tangan kirinya, tangan kanannya mengusap wajah lembut istrinya.


"Nona Zifana yang terhormat, kau memang tidak menyakitiku. Tapi kau menyakiti sahabatku, dan itu membuatku tak terima," ucap Delon tampak emosi. Tapi posisi seperti ini sepertinya bisa meredam emosinya. Karna Delon yang tadi geram kini seakan tenang.


"Oke Fiks, memang hanya Nada yang terbaik diantara kalian. Bahkan, dia aku jahati, dia aku lukai, tapi tetap saja baik padaku," ucap Zifana dengan senyuman indahnya.


Delon tampak gemas dan geram secara bersamaan. Dia menggelitik Zifana sehingga membuat Zifana tertawa lebar. Entah kenapa melihat Zifana bahagia membuatnya tenang. Apa Zifana benar berubah? Apa karna dia tak mengenal Zifana makanya menduga yang tidak tidak?


tok tok


Suara ketukan pintu terdengar, Zifana dan Delon yang tampak terkejut menghentikan aksinya. Keduanya saling berpandangan. Posisi mereka sangat intim. Delon tampak memeluk hangat tubuh sintal Zifana. Hingga saatnya mereka tersadar, Zifana menarik dirinya dari pelukan Delon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa, ritual jempolnya ya...

__ADS_1


Sambil nunggu, yuk mampir di karya temen othor yang tak kalah menarim ini. Jangan lupa tinggalkan jejak disana ya... love sekebun cabe.



__ADS_2