Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Terkejut


__ADS_3

"Apa Nona tidak ikut?" tanya Steve antusias.


Zifana tampak mengarahkan pandangan mata indahnya pada Steve. Dia tersenyum, Steve kembali terpesona. Senyuman Zifana mampu menggetarkan hatinya.


"Maaf Tuan Steve, ini bukan ranah saya. Anda, Tuan Willy dan juga Nona Clara yang berkepentingan. Saya hanya membantu, jadi saya harus kembali di posisi saya yang sebenarnya," ucap Zifana dengan Elegan.


Steve semakin terpesona, pandangan matanya mengarah pada Zifana yang tampak tenang. Dia rasa Zifana bukan hanya cantik. Tapi dia pantas menjadi seorang pemimpin. Zifana sangat tegas dan sangat lihai baginya.


Vely mengamati interaksi antara Zifana dengan Steve, dia sangat muak dengan Zifana. Apa apaan ini? Kenapa wanita itu rasanya sangat memuakkan? Apa bagusnya dia? Apa yang bisa dibanggakan dari sekretaris sepertinya.


"Kalau anda tidak ikut, anda bisa segera beranjak. Karna kami akan segera melakukan pembicaraan," ucap Vely dengan nada yang tak suka.


Deg


Zifana tampak tertampar oleh ucapan Vely, dia menoleh ke arah Vely, walau dia tau Vely sedang marah dan entah disebabkan oleh apa, Zifana tetap tersenyum.


"Terimakasih telah mengingatkan Nona, maaf Tuan Willy, dan juga Tuan Steve, saya undur diri," ucap Zifana dengan elegan kemudian melangkah pergi.


Zifana menghilang dari balik pintu, Steve tampak menatap punggung Zifana. Sedangkan Vely tau itu dan tampak sangat murka.


"Kau, lihat saja Nanti. Aku akan buat perhitungan denganmu," batin Vely.


"Zie, kau adalah wanita impian," batin Steve.


"Kalau begitu mari silahkan duduk, kita bicarakan hal yang kemarin sempat terpikirkan. Sambil menunggu kedatangan Mr. Wilan," ucap Willy sambil mengarahkan tangannya ke meja panjang itu.


Ketiga orang itu tampak berjalan dan mengambil tempat masing masing. Willy kini berhadapan dengan Steve. Vely menghadap ke arah kaca transparan yang memperlihatkan bangunan menjulang tinggi itu. Mereka berada di lantai dua, sehingga Vely juga bisa melihat parkiran.


"Jadi bagaimana konsep yang kita buat, bahwa dari Klien kita ikut andil dalam salah satu fotonya?" tanya Steve.


Wily tampak membuka berkas dan memperlihatkan beberapa inbox yang kemarin didapatkan dari Wilantama grup.


"Mereka menyetujui, dan nanti kita tinggal menandatangani kesepakatan yang sebagian belum mendapatkan tanda tangan dari mereka," ucap Willy.


"Wah, ini adalah hal yang membahagiakan. Rasanya sangat bahagia nanti saya akan berkolaborasi dengan CEO itu," ucap Vely dengan bangga.

__ADS_1


"Ya, semoga kita semua tidak mengecewakan," sahut Willy.


"Lalu, untuk biaya dan loyalty sudah klir semuakan? Dari apa yang saya informasikan?" tanya Steve sambil membuka berkas yang ada di meja.


"Sudah, bahkan saya juga sudah memberikan separuh dari biaya pada anda untuk DP," ucap Willy sambil menyerahkan bukti trasfer pada Steve. Steve menganggukan kepalanya. Begitu juga dengan Vely.


"Saya mohon untuk keprofesionalannya, dan juga kerjasama yang baik di tim kita. Didalam surat kesepakatan yang kita tandatangani, dan telah ditandatangani oleh Klien, kita akan mendapatkan denda yang besar jika kita melanggar atau mengecewakan mereka, selain itu kita juga akan kehilangan nama baik yang pastinya sangat akan mengganggu bahkan bisa merugikan perusahaan kita," ucap Willy panjang lebar.


"Kami akan mengupayakan yang terbaik. Clara adalah model terbaik di Steve grup, saya rasa Clara tidak perlu diragukan lagi untuk keahliannya," ucap Steve sambil melirik istrinya.


Vely tampak berbunga. Ini adalah suatu yang membanggakan, wajah sombong kini tampak dari raut wajahnya.


"Oke, sepertinya hanya ini yang bisa kita bahas. Sambil dicicipi hidangannya Tuan," ucap Willy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil Hitam metalix berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Seorang supir yang mengendarai segera turun dan membuka pintu mobil dengan tergesa untuk penumpangnya.


Tak lama dari itu, tampak seseorang turun dari mobil itu dengan elegan. Dia berdiri sempurna dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya, netranya memandang ke arah gedung tinggi yang bertuliskan WL Group, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa. Perusahaan besar yang memiliki beberapa cabang dan berpusat di kota itu.


Beberapa mobil juga menyusul berhenti di belakangnya. Andreas yang baru saja datang kini berdiri di samping bosnya.


Delon membuka kaca matanya. Bola mata indah itu menyilaukan mata yang memandangnya. Sejenak netranya menatap gedung itu. Netranya mendapati bayangan seseorang. Namun sebentar kemudian bayangan itu hilang entah kemana.


Delon tampak mengerjabkan matanya, Kenapa bayangan wanita itu selalu mengganggunya? Delon mengalihkan pandangannya.


"Selamat pagi, Tuan Delon, selamat datang di WL group," sapa perempuan cantik itu dengan ramah, membuyarkan lamunan seorang Arzenio Delon Wilantama.


Delon mengangguk pelan kemudian melangkah pergi, Andreas dan juga beberapa staf lainya mengikuti langkah Delon.


Sambutan begitu meriah, para staf dan karyawan berjejer rapi di kanan dan kiri, mereka tampak terpesona dengan ketampanan tamu mereka itu.


Bisik-bisik para karyawan terdengar memuji ketampanan dari tamu yang kini berjalan menuju ke ruangan dimana acara penyambutan di gelar.


"Wah, tampan sekali," ucap mereka.

__ADS_1


"Iya, ya," ucap yang lainya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lantai dua, Willy meminta semua orang yang telah berkumpul segera berdiri untuk bersiap menyambut kedatangan klien istimewa yang sudah di bawah.


Vely dan Steve menatap dengan gugup seseorang yang mulangkah masuk ke loby. Tulang Vely seakan tak mampu menopang bobot tubuhnya.


"Delon?" lirih Vely dan mampu didengar oleh Steve.


"Apa?" bisik Steve di telinga Vely.


"Steve, dia Delon," ucap Vely.


Deg Steve tampak terkejut.


"Vely jangan bercanda," ucap Steve.


"Steve, aku tidak bercanda. Dia Delon, aku belum bisa membuka semuanya. Aku harus pergi," ucap Vely tampak panik. Steve mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Jadi klien penting itu Wilantama grup? Kenapa dia tidak pernah membaca berkas?


"****," umpatnya.


"Kita akan terdenda Vely," kesal Steve.


"Lakukan sesuatu Steve, aku tidak mau hancur saat ini," ucap vely. Dia tak bisa menunggu lama.


"Maaf semuanya, saya harus ke toilet," ucap Vely kemudian melangkah pergi.


Steve memutar otaknya, apa yang nanti harus dia katakan?


Tak berselang lama sampailah Delon dan rombongan di tempat yang di tuju, semua mata mengarah ke arah Delon yang kini berjalan menuju ke kursi kebesaran yang dipersiapkan untuknya.


Dengan langkah elegan, Delon terus berjalan. Sesekali dirinya berhenti kemudian berjabat tangan dengan beberapa staf direksi dan petinggi perusahaan Itu.


Delon berhenti lagisaat kini menatap ke arah wajah seseorang yang tak asing baginya. Diamatinya wajah itu.

__ADS_1


"Steve?" ucapnya lirih saat dia berada di hadapan Steve. Steve yang tadinya menunduk kini menatap Delon, Steve tersenyum sinis. Keduanya tampak bertatapan tajam. Mereka saling berjabat tangan dan berangkulan sejenak. Bayangan masa lalu melintas. Delon tampak mengepalkan tangannya dan melepaskan pelukan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2