Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Segeralah muncul


__ADS_3

Zifana melangkahkan kakinya mengejar langkah Delon yang tak jauh darinya.


"Aku pastikan kau tidak akan pernah kecewa bekerjasama denganku Tuan Delon yang terhormat," ucap Zifana. Dia masih saja berada di belakang Delon, tapi ucapan Zifana sangat jelas di telinganya. Delon sedikit geram. Akan tetapi dia mencoba untuk menahan, karena diatas sana, beberapa staf dan petinggi ZA grup sudah berjajar rapi menyambut kedatangannya dan juga Zifana. Steve dan juga Wily juga barusaja bergabung.


Kedua mata orang itu menatap ke arahnya, entah melihatnya atau memperhatikan makhluk cantik yang ada dibelakangnya.


Entah, melihat Steve dan juga Willy membuat dirinya tidak suka. Walau sudah memiliki Vely, nyatanya Delon melihat ketertarikan di mata Steve pada istri keduanya yang sangat cantik mempesona itu.


Delon mengepalkan tangannya, ingin segera projek ini segera berakhir agar dia bisa menghempaskan Steve dan juga Vely dari hidupnya.


"Selamat pagi Tuan Delon, Selamat pagi juga Nona Zie," sapa Andreas dengan antusias menyambut big bosnya dan juga Zifana. Zifana mengangguk, begitu juga dengan Delon.


Delon menyambut hangat juga beberapa tamu istimewa yang datang atas undangannya.


"Pagi Tuan Delon, pagi Nona Zie," sapa Willy.


Zifana mengangguk sedang Willy tampak mengulur tangan kanannya menyalami Delon. Delon membalas uluran tangan Willy.


"Pagi Wil," jawabnya.


"Pagi Tuan Delon, Nona Zie," ucap Steve sambil mengulurkan tangannya juga.


Delon tampak melonggarkan kepalan tangannya dan membelas uluran tangan rekan bisnisnya itu. Dia merasa Steve masih sama dengan yang dulu. Sangat ambisius.


"Pagi Tuan Steve," jawab Delon juga.


Steve kemudian melepaskan tangannya dan mengarahkan tangannya ke arah Zifana. Zifana membalas uluran tangan Steve.

__ADS_1


Delon tampak mengalihkan pandangannya, karna dia rasa pandangan mata Steve sangat berbeda ketika memandang wajah Zifana.


"Selamat pagi Andreas, Tuan Steve! dan juga Tuan Willy, bagaimana persiapannya?" tanyanya sambil mengedar pandangan menatap seisi ruangan.


"Semua sudah terencana, tinggal menunggu Nona Zie di make up dan memepersiapkan segala perlengkapannya. Tuan Steve dan Tuan Willy sudah menyiapkan segalanya," ucap Andreas. Delon mengangguk dan menatap ke arah Steve dan juga Willy.


"Bagus," ucap Delon.


"Untuk mempersingkat waktu, sebaiknya Nona Zifana segera ke tempat make up. Tuan Steve juga, karna ada beberapa adegan. Lalu, Tuan Delon, anda bisa juga segera bersiap," ucap Willy panjang lebar.


Matanya menatap ke arah Zifana dan Delon bergantian.


Zifana menganggukan kepalanya. Delon tampak geram, dia menghela napas panjang. Menatap Zifana yang selalu menebar senyum membuatnya gerah.


"Kalian saja dulu, aku masih ada perlu sebentar," ucapnya.


"Zie, sebaiknya kita ke ruang make up," ucap Willy.


Zifana mengikuti langkah Willy, sedangkan Steve mempersiapkan di arena. Steve tampak mengepalkan tangannya menatap Willy dengan geram, tentu saja tak ada yang tau itu. Dia hanya bisa menatap punggung Zifana dan Willy yang menjauh, kemudian melangkah pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Delon masuk ke dalam ruangannya dan diikuti Andreas, dia duduk di kursi kebesaran. Bersandar di sana sambil memijat pelipisnya. Sebenarnya tidak ada masalah apapun yang dipikirkan. Akan tetapi kepalanya terasa pusing hanya karna kesal memikirkan Zifana.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Andreas pada bosnya itu.


"Aku tidak memikirkan apapun," ucapnya.

__ADS_1


"Kau serius?" tanya Andreas sambil bersandar di dinding dan memasukan tangan di saku celana.


"Hem," jawab Delon.


"Kalau begitu segera ke tempat make up, maka wajah tampanmu akan kembali. Sepertinya obat penawarnya ada disana," ucap Andreas sambil terkekeh.


Delon melempar sebuah bantal pada Andreas yang menurutnya menyebalkan itu.


"Jangan bergurau, itu tidak lucu." ucap Delon. Delon meraih sertifikat Zif bintique yang saat itu diberikan oleh Andreas. Segera dia membuka brangkas dan meletakan sertifikat itu disana. Netranya melirik ke arah sertifikat ZA grup disana. Tapi, dia enggan melihat lihat data kepemilikan. Yang jelas kakeknya memberikan kuasa padanya itu sudah lebih dari cukup.


"Nona, segeralah muncul mengambil hakmu. Agar aku tidak pusing mengelola hartamu," lirih Delon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zifana telah selesai di make up, kini dia menggunakan gaun indah dan elegan. Semua orang tampak terpesona dengan penampilan wanita cantik ini yang seperti seorang bidadari. Bahkan Willy dan Steve kini sama sama tak berkedip melihat penampilan Zifana.


Zifana yang berdiri di depan dua orang itu tampak gugup. Pasalnya dua orang itu sejak tadi tak ada yang menyahut ketika dirinya bertanya sesuatu. Entah karna apa.


"Apa kalian mendengarku?" tanyannya dan berhasil membuyarkan lamunan Willy dan Steve.


"Bagaimana Nona Zie?" tanya keduanya bersamaan.


"Apa kitq bisa mulai sekarang? Aku sudah siap," ucapnya tampak sedikit sebal.


"Baiklah, sebaiknya kita segera ke arena," jawab Willy dengan tenang.


Ke tiga orang itu tampak berjalan ke ara lokasi pemotretan dan suting iklan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2