
Delon memarkirkan mobilnya di sebuah mansion mewah yang berada di tengah kota. Netranya memandang ke arah mansion mewah tempat tinggalnya masa kecil dulu itu, tempat tinggalnya bersama mama, adik dan juga kakeknya.
Akan tetapi, sejak menikah dengan Vely, dirinya memutuskan keluar dari mansion itu, karna kakeknya tak setuju dengan pernikahannya dan Vely. Hubungan mereka sedikit renggang. Bahkan, Delon tidak pernah menginjakkan kaki di rumah ini sejak saat itu.
Mama Amel yang dulu tinggal bersama kakek diminta Delon untuk menemani Elia sejak kepergian Vely ke luar negri. Dan sejak saat itu juga, hubungannya dengan kakek semakin jauh.
Lalu, bagaimana bisa dia datang ke sini? Apa yang akan dilakukan saat bertemu dengan kakek nanti? Entahlah, yang jelas keinginan untuk memeluk putrinya membuatnya bertekat untuk datang ke mansion ini.
Delon menghela napas dalam dalam, sebenarnya dia rindu pada kakeknya, ingin memeluknya. Akan tetapi sepertinya kekecewaan kakek terlalu besar padanya hingga kerenggangan ini terjadi.
Delon memejamkan matanya, setelah kepergian papanya, kakeknya adalah salah satu orang yang berjasa dalam hidupnya dan juga dalam perkembangan usahanya. Beliau juga tak pernah sekalipun beliau meminta imbalan uang sedikitpun dari usaha yang Delon bangun selama ini. Lalu, sampai kapan keadaan ini terjadi? Sebenarnya dia tak ingin lama lama seperti ini, Ingin rasanya Delon akrab dengan kakeknya seperti dulu lagi.
Pikiran Delon melayang jauh. Memikirkan satu kebersamaan dengan kakek saat dulu dirinya sudah berhasil mengembangkan beberapa perusahaan. Kebersamaan dengan kakek sebelum pernikahannya dengan Vely.
"Delon, kakek minta tolong," ucap kakek saat itu.
"Apa kek? Delon akan membantu kakek bila Delon mampu," ucapnya.
Kakek memberikan sebuah sertifikat pada Delon. Sejenak Delon menatap sebuah map berwarna merah diatas meja tanpa membukanya.
"Ini adalah sertifikat perusahaan milik teman kakek, perusahaan yang diatasnamakan untuk cucunya. Kakek minta tolong, hendel dealer ini. Tapi ingat, kau tak boleh sedikitpun mengambil hasilnya. Gajimu dari kakek," ucap kakeknya.
"Kakek, kakek apa apaan. Delon bisa seperti ini karna kakek. Jadi, Delon akan bantu kakek," ucap Delon.
"Jadi apa nama Dealernya?" tanya Delon pada kakeknya
"Kau tidak mau melihat sertifikatnya?" tanya kakek.
"No," jawab Delon.
"Delon tak mau pamrih dan mengharapkan imbalan darinya," ucap Delon. Kakek tersenyum dan menatap cucunya.
"ZA Dealer," ucap kakeknya.
"ZA ?" tanya Delon.
__ADS_1
"Ya, singkatan nama cucu sahabat kakek. Dia masih kuliah, seusia Gisel mungkin, di fotonya sangat cantik. Kau tidak penasaran?" ucap kakeknya.
"Oke, Delon akan menghendelnya untuk kakek," ucap Delon sambil terkekeh.
"Tidak berminat mengenalnya Nak?" tanya kakeknya.
"Sudah ada wanita di hati Delon kek," ucap Delon saat itu kemudian melenggang pergi.
ting ting ting
Suara tukang bakso membuyarkan lamunan Delon. Delon mengusap kasar wajahnya. Kini pikirannya melayang pada pemotretan besok. Pemotretan untuk promosi satu mobil keluaran terbaru dari ZA Dealer.
ZA Dealer adalah perusahaan otomotif terbesar di negara ini, Dealer mobil, motor yang berkembang pesat dan mempunyai beberapa cabang dalam masa penghendelannya. Dealer yang sama besarnya dengan wilantama grup. Bahkan dalam projek ini tidak sekalipun Delon memakai nama Wilantama.
ZA delaer, yang di gunakan oleh Delon. Pantas saja jika Steve dan juga Vely tak tau ini.
Delon menghela napas panjang, mungkin projek terbaru ini bisa menjadi pembahasan bersama dengan kakeknya nanti. Kini ingatannya melayang memikirkan satu wanita yang mampu mengusik hatinya. Wanita yang memberikan ketenangan saat berada di dekatnya, entah karna perasaan apa.
"Tunggu aku ke sana bersama Elia," ucap Delon dalam hati.
"Kau tak berniat menayapaku?" ucap orang itu dan membuat Delon berbalik arah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Willy tampak mondar mandir di depan pintu, pasalnya tidak ada Zifana di rumahnya. Bahkan, sejak siang ponsel Zifana tidak bisa dihubungi. Lalu dimana keberadaan Zifana? Apa yang dia lakukan? Apa Delon macam macam pada sahabatnya itu?
Wily beberapa kali mengumpat, apa Zifana ada salah bicara sehingga bermasalah dengan Delon? Kenapa sampai malam seperti ini tidak pulang? Berbagai pertanyaan muncul di benak Willy.
Tak beberapa lama kemudian, satu panggilan masuk di ponselnya.
"Zifana?" lirih Willy, segera Willy mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau.
"Halo zie, kamu dimana? Kenapa tidaj pulang ke rumah?" tanya Willy panjang lebar.
"Assalamualaikum Wil, maaf. Aku tidak bisa pulang. Kau tau, Tuan Delon memberikan aku bonus sebuah mansion. Dan dia meminta aku menempatinya saat ini juga, jadi aku tidak bisa pulang ke rumahmu," ucap Zifana panjang lebar.
__ADS_1
Willy membelalakan matanya, bagaimana bisa?
"Kau serius?" tanya Willy.
"Iya Wil, entah hanya dikasih tumpangan sampai proyek ini selesai saja atau gimana aku juga tidak tau. Yang jelas, aku tinggal di mansion, kau tak perlu hawatir," ucap Zifana.
"Ya sudah, kalau begini aku jadi tidak kepikiran. Aku hanya ingin memberikan berita untukmu," ucap Willy.
"Berita apa?" tanya Zifana.
"Aku sudah mendapat beberapa identitas orang yang bernama Wilan, mungkin kita bisa mulai pencarian," ucap Willy. Zifana tampak berbunga.
"Kau serius?" tanya Zifana.
"Hem, kapan kita mulai beraksi?" tanya Willy terdengar antusias.
"Bagaimana besok setelah pemotretan?" tanya Zifana.
"Boleh, kita agendakan besok," ucap Willy.
"Oke, makasih Will, kau sahabat terbaik," ucap Zifana.
"Hem, istirahatlah. Kau besok pasti sangat lelah," ucap Willy. Zifana tersenyum.
"Ya sudah, aku istirahat dulu Wil. Assalamualaikum," ucap Zifana.
"Waalaikumslam," jawab Willy kemudian menutup ponselnya.
Zifana tampak bahagia, dia tersenyum. Netranya mengedar menatap ke arah kamar yang luas itu. Di mansion ini dia sendiri, ditemani beberapa pelayan yang meratukan dirinya. Kini Delon mengiang di otaknya.
Sebelum pergi tadi, dia mengecup pelan puncak kepalanya dengan lembut. Bahkan sangat lembut, sampai memberikan kenyamanan di hatinya. Kenapa Delon semanis ini?
"Nona Zie, istirahatlah. Kau tinggal di sini, Aku pergi dulu. Jangan mencoba kabur kabur lagi, atau aku akan menjadi bodyguard yang selalu ada di sampingmu," ucap Delon dengan manis setelah mengecup puncak kepalanya tadi.
Kini Zifana menutup wajahnya dengan kedua tangannya, senyuman merekah di bibirnya. Dia sangat bahagia karna kabar dari Willy, Dia juga bahagia karna sikap manis Delon walau terbesit sesak dalam batinnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...