
Kegaduhan mulai muncul saat beberapa guru sekolah tampak keluar dan mencari bantuan.
Suara ambulan datang memekak telinga, membawa tubuh lemas Elia yang kini diikuti oleh mbak Asti. Tinggal Delon dan Zifana yang tampak berpandangan. Gurat kesedihan terpancar dari raut wajah dua orang yang sama sama sayang pada Elia itu. Gurat kesedihan tampak jelas dimata dua orang yang sebenarnya saling mencintai itu.
"Pergi, dan jangan menampakkan wajahmu dihadapanku," ucap suara Delon lagi dengan jelas.
Air mata Zifana mengalir deras di pipi mulus wanita itu, hatinya sakit, hatinya perih dan sesak. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan ini yang ingin dia lihat. Dia ingin melihat Delon bahagia bersama istri dan anaknya tanpa keberadaan orang ketiga sepertinya.
"Tapi kak," sanggah Zifana. Isak tangisnya begitu jelas terdengar.
"Bukankah ini maumu? Bukankah sejak awal kau tidak pernah mau berdiri di sampingku? Bukankah sejak awal kau menolak untuk bersamaku? Jikalau memang menjauh dariku adalah kebaikan untukmu, maka pergilah Zifana," ucap Delon. Matanya merah menahan luka batin yang menyesakkan dadanya.
Zifana diam, menahan buliran air mata yang mendesak untuk keluar tanpa mau berhenti.
"Percuma aku menahanmu, jika memang tak pernah ada keinginanmu ada di sampingku," ucap Delon lagi. Ucapannya halus, tidak kasar, bahkan matanya tampak merah menahan lelehan air mata.
Teringat dengan jelas, bagaimana Zifana menghindari Elia. Teringat jelas bagaimana Zifana mengabaikan panggilan Elia. Hatinya yang terluka karna Vely menghianatinya hampir saja tersembuhkan oleh Zifana. Di hari ini, dia ingin mengatakan pada Zifana agar menerimanya dan Elia dalam hidupnya. Menerima dirinya dan Elia menjadi suami dan anaknya.
Keraguan pada Zifana sudah dibuangnya jauh jauh. Dia ingin membuka lembaran baru, hidup baru. Setelah melihat Zifana benar benar berubah. Wanita yang dulu bagai iblid itu ternyata berubah bak malaikat. Bahkan dirinya juga sudah meyakinkan diri bahwa dia mencintai wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Akan tetapi, kenyataan Zifana menghindari Elia membuatnya terluka, ditambah lagi saat ini Elia terbaring tak berdaya karna tertabrak yang disebabkan oleh Zifana.
Rasa sakit yang sempat dibuangnya kembali lagi. Saat ini butuh waktu lagi untuk meyakinkan hatinya percaya lagi pada kata cinta. Dia kecewa, bukan hanya pada Vely, tetapi Zifana ternyata sama saja. Setelah mendapatkan kekayaan lagi, memiliki lagi popularitas. Nyatanya dia ingin menjauh darinya. Pikir Delon.
__ADS_1
"Kak, bukan begitu maksudku," lirih Zifana.
Delon yang tampak terluka mengangkat kedua tangannya. Tak mau mendengar penjelasan apapun. Kekecewaan memenuhi hatinya, dia butuh waktu.
Zifana diam, tapi dia juga tak bisa menahan kesedihan. Hatinya terluka, sama seperti yang Delon rasakan.
"Cukup Zifana, aku mengizinkanmu menggugatku jika itu maumu. Kau bisa melakukan sendiri, tanpa aku menalakmu, seperti yang dilakukannya padaku," ucap Delon.
Air mata delon menetes, ini adalah pertama kalinya dia meneteskan air mata sejak tau dia dibodohi Vely, ini adalah air mata yang sempat tertahan. Tapi jatuh juga saat harus meminta Zifana menjauh darinya. Delon melangkah, Zifana menahan, masih tak pahan dengan ucapan Delon, siapa yang menggugatnya?
Delon menepis tangan Zifana sehingga dia terhuyung, Zifana terduduk. Delon berhenti, hampir saja membalikan badanya, tapi dia tak sanggup menatap bola mata yang akan membuatnya semakin terluka itu. Delon mengusap sudut matanya yang berakhir.
"Bahagialah Zifa, bila memang bahagiamu tidak disampingku," lirihnya dan segera pergi.
Delon tak menghiraukan walau sebenarnya sangat mendambakan pelukan wanita yang selalu membuatnya nyaman itu.
Hujan turun dengan derasnya, seakan mengerti kesedihan dua insan yang sama sama terluka itu.
Zifana mencoba kembali berdiri, lengkap sudah penderitaannya. Apa ini pantas dia terima? Apa ini hukuman kejahatan masa lalu yang harus dia terima? Bayangan kejahatan kepada Nada melintas dibenaknya. Air mata mengalir lebih deras lagi.
"Astagfirullah. Ya Allah, aku bertobat. Aku mohon ampunanmu. Maafkan aku, jika ini adalah benih yang aku tuai, maka mulai saat ini aku berjanji akan menanam kebaikan agar aku mendapatkan kebaikan darimu," lirih Zifana.
Cinta...
__ADS_1
Hadir dalam hati menawarkan bahagia
memberikan rasa nyaman dalam jiwa
Tapi, tiba tiba menghempaskan dengan segala luka
Mungkin, ini adalah takdir darimu...
Tak mudah bagiku menghapus luka
Aku hanya serpihan kisah yang tak berarti
Aku hanya sepenggal cerita yang tak membekas
Kenapa menebar bahagia jika hanya ingin meninggalkan luka?
Kenapa memberikan cinta jika kau hanya ingin melihatku terluka?
Kenapa memberikan ceria jika hanya ingin melihatku lara?
Zifana menghela napas dalam dalam, menahan rasa sesak yang mendera dibawah guyuran hujan yang membasahi tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1