
Delon membuka matanya dan bertemu pandang dengan Andreas yang tersenyum seolah mengejek. Andreas menundukkan matanya, Willy dan pak sutradara pamit untuk mengecek arena selanjutnya.
Kini hanya tinggal Delon dan Andreas yang berdiri di arena itu.
"Kau sengaja melakukannya?" tanya Delon dengan wajah datarnya. Bahagia, tapi juga kesal bercampur dalam benaknya.
Andreas tersenyum singkat, kemudian menatap bos juga sahabatnya itu dengan tenang. Lelaki yang jauh lebih muda dari Delon itu tampak menautkan alisnya. Senyuman menjengkelkan terbit di wajah Andreas.
"Seharusnya kau berterimakasih padaku. Kau tau, Asisten peribadimu ini telah menyelamatkan hatimu dari sebuah penyakit yang mungkin bisa membunuhmu perlahan, Tuan Delon yang terhormat," ucap Andreas.
"Apa maksudmu?" tanya Delon Antusias.
"Aku takut saja jika kau akan sakit hati melihat kemesraan istri satu satunya milikmu beradegan mesra seperti tadi. Demi kewarasan mentalmu, aku mengubah naskah yang sempat disetujui kemaren. Karna Tuan Steve yang semula tidak ada peran juga mengubah naskahnya. Aku rasa Tuan Steve memiliki ketertarikan tersendiri pada istrimu itu Tuan Delon," ucap Andreas dengan senyumannya.
Delon mengepalkan tangannya, membayangkan Steve yang mendekati Zifana seolah membuatnya geram. Steve adalah suami Vely, dia merebut Vely tanpa sepengetahuannya. Lalu, setelah ditipu habis habisan dan dibodohi bertahun tahun, masihkah dirinya rela hidupnya diinjak injak oleh Steve? Tak akan pernah dia membiarkan itu terjadi.
__ADS_1
"Jangan harap kau lolos dariku, Steve Imanuel," lirih Delon.
Delon memejamkan matanya, hampir bisa menjauhkan Zifana dari Willy, lalu apa harus lagi menjauhkan dari Steve? Punya magnet apa wanita itu? Kenapa semua lelaki seolah terpikat dengannya?
"Sh*it," umpat Delon lirih.
"Lagi pula bukankah kau ingin Vely menderita? Aku yakin jantungnya tidak akan baik baik saja menerima kenyataan ini Tuan Delon. Vely akan meyesal telah membodohimu selama ini, dia akan menyesal telah melepaskan ikatan istri dari Tuan Delon. Andai saja dia jujur sedari awal, tidak membohongimu. Mungkin saja karirnya bagus sejak lama," ucap Andreas dengan senyuman sinisnya.
Delon menghela napas panjang, dia mencerna ucapan Andreas. Andreas benar, ini adalah cara ampuh untuk menghancurkan hati Vely secara perlahan.
Lalu, bukankah nantinya Zifana dikenal publik? Lantas, apa hatinya akan baik baik saja? Baru juga dekat dengan Willy dan Steve saja hatinya tak rela. Apa yang sebenarnya ada dalam benaknya? Tak rela orang yang dia benci itu bahagia. Atau ada hal lain yang membuat dirinya seperti ini?
"Maaf Tuan Delon, sebaiknya segera ke tempat. Informasi dari Wadof, Nona Zie sudah siap," ucap sutradara yang baru saja muncul.
Delon membuka matanya, dia akan menoleh ke arah sutradara. Akan tetapi, disaat yang bersamaan, Zifana muncul dengan kostum cantiknya.
__ADS_1
Gaun cantik berlengan pendek, sebatas lutut membelit ditubuh sintalnya. Rambut terurai bergelombang tertata rapi, pandangan mata Delon tak bisa lepas dari perhisan dunia yang begitu menyilaukan mata itu.
Gaun Warna Navy yang dipakai Zifana senada dengan setelan jas yang dia pakai. Delon merasa gugup.
Zifana menebar senyum pada orang yang tampak memandangnya. Jantung Delon seakan berdetak tak karuan saat keduanya sekilas berpandangan. Mungkin Zifana yang terkejut merasakan hal yang sama. Ditatap Delon membuatnya gugup sehingga mengalihkan pandangannya. Zifana terus berjalan ke arah arena syuting.
"Tuan Delon, kuharap matamu akan dijauhkan dari sakit jika setiap harinya yang seperti ini yang kau pandangi," ucap Andreas dengan senyuman menggodanya, kemudian dia mendekat ke arah Delon.
"Sebaiknya kita segera menyusul, Nona Zie sudah sampai dilokasi," ucap Andreas dengan tenang. Delon melangkah diikuti Andreas dibelakangnya.
tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di arena syuting. Beberapa crew tampak bersiap, Pak sutradara yang mengetahui Delon sudah datang segera mendekatinya.
"Tuan Delon sudah siap?" tanyanya.
Delon mengangguk, walau sebenarnya naskah yang sempat dia baca menghilanglah sudah dari ingatannya.
__ADS_1
"Nona Zie, sini," Pak sutradara memanggil Zifana, mungkin akan memberikan pengarahan. Zifana kini menatap ke arah dimana Pak sutradara berada. Jangungnya tak karuan saat melihat ada Delon disana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...