
Suasana begitu hangat, Delon menikmati suasana malam ini. Zifana juga, semakin terjerumus dalam lembah ken*kmatan yang menuntut untuk lebih dari ini.
"Kau, milik Delon. Kau, istri Delon," ucap Delon lirih saat keduanya sejenak melepaskan tautan bi**r mereka karna kehabisan oksigen.
Zifana bisa mendengar dengan jelas ucapan Delon, dia tau dia tidak dicintai. Dia hanya dimiliki, lalu bagaimana bisa dia tidak memberontak? Kenapa tubuhnya malah seakan meminta untuk lebih?
Zifana mundur beberapa langkah, Delon maju dan mendorong Zifana dengan gerakan tenang. Zifana terjatuh di ranjang empuk dengan pelan. Jantungnya berdetak tak karuan.
Jantungnya berdetak hebat, apa yang akan dilakukan Delon? Tatapan matanya tertuju pada Delon yang beranjak naik ke atas ranjang.
Zifana bisa melihat dengan jelas tubuh gagah yang hanya berhias pakaian dalam itu di dalam kamar dengan cahaya yang minimalis itu.
"Kau mau apa Kak?" tanyanya pada suaminya itu.
Delon menarik Zifana dalam pangkuannya, duduk dipangkuan Delon dan keduanya saling menatap. Zifana melihat mata Delon yang semakin berkabut. Menahan suatu g*irah yang ingin segera tertuntaskan.
Perlahan tangannya bergerak membuka kancing baju paling atas milik Zifana. Zifana reflek menahan tangan Delon. Namun, yang ada malah tangan itu menempel sempurna di dadanya. Membuat jantung keduanya semakin tak karuan.
Delon tersenyum smirk dan menatap istrinya dengan tenang. Berbeda dengan Zifana yang tampak tegang. Ini pertama kali bagi Zifana berada di posisi intim. Dimana seorang lelaki menyentuh bagian yang sangat dia lindungi selama ini.
"Ukuranya sangat pas ditanganku," lirih Delon.
__ADS_1
Deg
Zifana yang semula tegang tampak mendorong tubuh Delon, dia mencoba turun akan tetapi justru Delon menarik Zifana. Delon sengaja menjatuhkan tubuhnya untuk berbaring, dan memposisikan Zifana di atasnya.
Delon menatap wajah cantik yang bersemu merah karna malu itu. Bahagia sekali berada dalam posisi ini. Berdua, bermesraan. Nyaman dan sangat menentramkan jiwanya.
Ingatannya tertuju pada Vely, dia tak bisa mengingat apa yang terjadi selanjutnya jika bersama Vely dulu. Setelah dia bermesraan, selalu saja dia sadar di pagi harinya. Dan rasa itu tidak sehangat ini, tidak senyaman ini, tidak seperti saat bersama Zifana.
Zifana tampak tegang, rambutnya yang tergerai menjatuhi wajah Delon, Delon menyibak rambut itu dengan penuh kasih. Zifana bergerak menggulung rambutnya dan menampakan leher jenjang milik Zifana yang berhiaskan jejak lelaki bertopeng itu.
Delon dengan sigap mendekatkan bibirnya ke leher Zifana, menghapus jejak itu dengan jejak baru yang dia tinggalkan.
"Uh," suara lenguhan Zifana membuatnya terbuai. Delon bergulung, merubah posisisnya. Kini Zifana berada di bawah.
Jantung Zifana berdetak hebat, ingin mendorong Delon tapi tubuhnya seakan melarang. Zifana terdiam, bahagia dan sesak berkecamuk dalam benaknya.
Dia hanya istri simpanan yang tak dianggap, dan saat ini Delon benar benar memperlakukan dirinya dengan manis. Di kondisi seperti ini harusnya dia bahagia, tapi apa pantas bahagia diatas penghianatan yang dilakukan Delon pada istri pertamanya? Zifana merasakan sesak di dadanya.
"Walau kau kedua kau adalah yang terakhir bagiku," lirih Delon.
Deg
__ADS_1
Jantung Zifana bergetar hebat mendengar penuturan Delon. Delon tak pernah menyatakan cintanya. Tapi, dia selalu mengatakan sesuatu yang ambigu padanya. Membuatnya bingung, harus tetap menolak atau membiarkan semua ini. Cintakah Delon padanya? Sebenarnya dia butuh pengakuan.
Zifana memejamkan matanya, kadang keogoisan dirinya ingin Delon mencintanya, memilikinya. Tapi dia sadar ada Elia dan istri pertamanya. Wanita mana yang sanggup melihat suaminya mendua? Tidak ada.
"Kak, jangan lakukan. Aku tidak bisa menghianati istrimu. Kau menikah denganku hanya karna Elia, kita juga tidak saling mencintai" lirihnya. Walau hancur hatinya, tapi Zifana mencoba kuat.
Zifana berusaha berontak mengingat istri pertama Delon. Akan tetapi, Delon tak memberi ruang itu
Dia malah melepas celan* dan beraksi lebih.
"Sudah ku bilang, cinta atau tidak, ini sudah menjadi kewajibanmu!" ucap Delon.
Delon seakan mengabaikan ucapan Zifana. Dia tau Zifana meragukan itu karna dia pikir Vely adalah istrinya. Tapi, hanya untuk sekedar mengucap nama Vely saja dia jijik. Biarlah Zifana berpikir semaunya, untuk saat ini.
Zifana terdiam, Delon kembali menyergab bibir Zifana. Memeluk erat tubuh Zifana hingga wanita itu tak mampu bergerak. Netranya menatap belahan dada yang menyembul, tampak putih bersih yang membuatnya semakin menggila.
Darahnya seakan mendidih, tangannya ke atas ke bawah menyapu punggung Zifana, sehingga membuat bulu Zifana meremang dan mengeluarkan beberapa kali suara des*han yang semakin membuat darah keduanyanya seakan mendidih.
Delon bangun, ditatapnya setiap inci tubuh wanita yang sudah sah untuk disentuhnya itu. Zifana berusaha duduk. Tapi, Delon menahan Zifana untuk tetap berbaring.
Delon melepaskan semua yang melekat di tubuhnya. Sepertinya dia tak mampu lagi untuk menahan hasratnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...