
Zifana dan Willy telah sampai di salon beberapa menit yang lalu setelah memilih baju di sebuah butik.
"Bagaimana Wil?" tanya Zifana saat keluar dari ruang ganti.
Wili yang semula membaca koran kini menatap ke asal suara, netranya mengerjab beberapa kali saat mendapati Zifana yang berada di depan pintu ruang ganti.
Semilir angin berhembus menerbangkan rambut Zifana, semakin menampakan aura cantik yang sangat memikat. Zifana sangat anggun dan cantik. Wily berdiri dan mendekat ke arah wanita cantik yang kini tersenyum memandang ke arahnya.
"Wil," Zifana membuyarkan lamunan Willy.
Wily mengusap wajahnya dan terkekeh.
"Beautiful girl," ucap Willy.
Zifana mendorong Wily, Willy terkekeh dan menatap sahabat baiknya yang menggunakan dres berwarna putih. Rambut tergerai indah dan sangat menyilaukan matanya. Wajah cantik dengan polesan tipis membuatnya semakin memukau.
"Gombal, hutangku lunas jika kau memujiku sekali lagi," ucap Zifana kemudian berjalan keluar. Willy yang sudah membayar tagihan melangkah mengikuti langkah Zifana.
Keduanya segera berangkat menuju ke restauran tempat janjian dengan Steve grup. Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di depan restauran megah. Seorang lelaki berjas sudah menyambut kedatangannya.
"Selamat datang Tuan dan Nona, anda berdua dari WL grup?" tanyannya.
"Benar sekali, anda sendiri?" tanya Willy.
"Saya asisten pribadi Tuan Steve, beliau sudah menunggu lima menit yang lalu," ucapnya.
"Oh, maaf sudah menunggu," ucap Willy.
"Sebaiknya kita segera masuk untuk mempersingkat waktu," ucapnya. Ketiganya berjalan masuk dan menuju ke ruangan VVIP restauran tersebut.
"Permisi Tuan Steve dan Nona Clara, Tuan Willy beserta asisten pribadinya sudah datang," ucap lelaki berjas itu.
Lelaki yang bercengkerama dengan modelnya itu menoleh, memutar kursi putarnya untuk melihat kedatangan tiga orang yang berdiri. Clara, wanita cantik itu juga menoleh.
Zifana dan Willy kini menatap seorang lelaki yang tengah duduk santai di atas kursi putar itu, lelaki tampan dengan bulu halus yang ada di wajahnya. Dia adalah Steve, CEO Steve grup.
Zifana dan Willy juga menatap ke arah wanita cantik nan seksi di depan Steve. Cantik? Sangat cantik untuk ukuran model terkenal.
Steve berdiri dan mendekat ke arah Willy, menjabat tangannya dengan tenang dan menyunghingkan senyumannya.
"Selamat datang, Tuan Willy. Silahkan duduk, senang bertemu dengan anda," ucapnya dengan tenang.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan Steve atas sambutannya," ucap Willy.
"Sama sama," jawabnya.
Kini netranya beralih pada satu sosok yang menyita perhatiannya. Sosok cantik yang sangat mempesona dengan balutan dres putih. Mata indah, hidung indah, pipi merah alami, bibit seksi. Cantik? Yang jelas Steve tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok cantik yang kini tersenyum padanya itu.
Willy menyadari itu, diapun tersenyum pada CEO 29 tahun itu.
"Kenalkan, dia adalah Nona Zie, sekretaris pribadi saya," ucap Willy memperkenalkan nama panggung Zifana aurora yang dulu biasa digunakan Zifana untuk memperkenalkan dirinya di publik. Nama panggilan dari Willy untuk sahabatnya itu.
Zifana melirik ke arah Willy, menggelikan sekali saat nama itu disebutkan Willy untuk memperkenalkan dirinya.
"Steve," ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
"Zie," ucap Zifana sambil membalas uluran tangan Steve. Di genggamnya lembut dan membuat Zifana mengernyitkan dahinya. Dia merasa tak nyaman hingga menarik tangannya.
"Kenapa berdiri disitu, ayo duduk disini," ucap wanita yang duduk di sana.
"Mari silahkan," ucap Steve.
Mereka bertiga duduk, Vely disamping Steve dan berhadapan dengan Zifana. Sedangkan Steve berhadapan dengan Willy.
Tak bisa dipungkiri, wanita yang baru datang itu sangat cantik. Sorot matanya teduh dan menghangatkan. Bulu mata lentik, bibir indah, jika dia seorang model dipastikan wanita itu bisa saja menjadi saingan terberatnya.
"Selamat datang Nona,,," ucapan Vely menggantung.
"Zie," ucap Zifana sambil mengulur tangannya.
Vely tersenyum dan membalas uluran tangan Zifana.
"Clara," ucapnya sambil tersenyum juga.
Keduanya tersenyum. Entah apa yang mereka rasakan, ada hawa aneh yang kini menyelimuti hati Zifana dan Vely. Entah itu perasaan apa.
Keduanya melepaskan genggaman tangannya dan memulai pembicaraan.
"Jadi bagaimana konsep untuk pemotretannya?" tanya Steve.
Willy menyerahkan beberapa konsep yang diminta oleh Delon kemarin.
"Jadi yang dipasarkan adalah sebuah mobil dan perhiasan, beliau menyerahkan konsep pada kita, mana yang dipilih. Yang jelas, dia ingin apa yang menjadi produknya bisa terjual dan diminati banyak halayak," ucapnya.
__ADS_1
"Wah, dengar dengar dia punya nama besar, jika begitu beliau bisa turut andil dalam pemotretan," usul Steve.
Zifana, Vely dan Willy tampak mengangguk.
"Ide yang bagus, tapi saya belum bisa konfirmasi. Mungkin besok kita bisa bicarakan," ucap Willy.
"Siapa tau setuju, suatu keberuntungan bila saya bisa bertemu langsung dengan pengusaha hebat itu," ucap Velly.
"Semoga saja," sahut Willy.
"Apa nama perusahaan itu?" tanya Vely.
"Namanya,,,," Willy berhenti bicara saat ponsel Vely tiba tiba berdering.
"Maaf ya," ucap Vely.
Vely segera berdiri dan meninggalkan tempat. Delon menghubungi dan mengatakan bila sudah di bandara.
"Iya Say, aku sudah mendarat setengah jam yang lalu, aku akan segera datang," bohong Vely. Beberapa saat berbicara pada akhirnya mereka mengakhiri panggilan.
"Ada apa?" tanya Steve.
"Dia sudah dibandara," ucap Vely.
Steve mengangguk dan menatap ke arah Zifana dan Willy.
"Kalao begitu hari ini mungkin cukup sekian, untuk besok aku tunggu kabarnya," ucap Steve. Sambil menatap Willy.
"Oh iya, Sekali lagi, aku lihat kau sangat berbakat Nona Zie. Jika kau berminat gabung dengan agensi kami, jangan sungkan hubungi. Biarkan orangku yang akan membimbingmu," lanjut Steve.
Ya, setelah membahas pekerjaan tadi, mereka bertiga sempat bercerita tentang hobi Zifana yang dulu ditentang kakeknya. Steve tampak antusias ingin membantu Zifana.
"Terimakasih Tuan, tapi untuk saat ini saya belum berminat," ucapnya.
Vely tampak sedikit terusik dengan ucapan suaminya. Netranya melirik ke arah Zifana yang tampak berseri bahagia. Vely dan Steve pamit kemudian melangkah pergi.
Willy menatap ke arah sahabatnya.
"Peluang zie," ledeknya. Zifana malah melangkahkan kakinya keluar dari restauran.
...****************...
__ADS_1