Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Kekesalan Vely


__ADS_3

"Elia mau sama oma?" tanya mama Amel. Elia tampak takut dan menggangguk. Mama Amel mengangkat tubuh Elia di kursi.


Gisel menatap kakak iparnya dengan tatapan berbeda.


"Kak Vely mau kemana?" tanyanya tanpa ekspresi yang berarti. Gisel membalikan piring yang berada di depannya dan mengambil nasi beserta lauk pauknya.


Vely tersenyum dan menatap ke arah Gisel dengan tatapan sendunya.


"Hari ini kakak ada jadwal kontrol," ucap Vely sambil tersenyum.


"Di rumah sakit...." Gisel tampak menggantungkan kalimatnya. Entah bertanya atau hendak menebak. Yang pasti saat ini Gisel tampak waspada.


"Merah putih," sahut Vely cepat.


Gisel menganggukan kepalanya dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Entah apa yang dipikirkan Gisel, Vely juga tak tau. Yang pasti saat ini dia segera menyuapkan makanan ke mulutnya.


Elia juga sama, gadis kecil itu menikmati sarapan yang diambilkan oleh omanya. Sebenarnya dalam pikirannya ingin bertanya, kenapa mamanya berubah jadi Mama Vely? Dimana mama Zifana? Akan tetapi, dia ingat betul pesan omanya semalam.


"Elia sayang, elia sayang papa kan? Kalau sayang sama papa, Elia tidak boleh membuat papa bersedih dengan menangis. Mama Zifana lagi sibuk, yang ada mama Vely, jadi Elia main sama mama Vely ya,"


Ucapan omanya selalu mengiang, tapi hatinya tak bisa berbohong. Gadis kecil itu takut ketika harus berdekatan dengan Vely. Entah karna apa alasannya.


Mama Amel menatap cucunya, dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Elia. Akan tetapi, dia menvoba untuk tetap tenang. Dia yakin Elia cukup paham dengan ucapannya, meski tidak menutup kemungkinan dia juga akan menangis nantinya.


Tak berapa lama kemudian, mereka menyelesaikan sarapan. Segera Vely berdiri dan mendekat ke arah mama Amel dan Elia yang kini bersiap mengambil tas sekolah.


"Elia berangkat sama mama?" tanya Vely sambil mendekat dan mengencup singkat puncak kepala gadis itu.


Elia diam, tapi tubuhnya merespon sempurna. Gadis kecil itu beringsut mendekat ke arah Mama Amel.


"Biar Mama yang mengantarnya," ucap Mama Amel kemudian melangkah pergi. Hanya ada Vely dan Gisel di ruang makan.


Vely merasakan aura tidak enak antara dia dan Gisel, segera wanita cantik itu berdiri dan menatap Gisel.


"Gisel, kakak berangkat," ucapnya.

__ADS_1


Vely melenggang ke pintu utama, sesampainya di depan pintu, Vely menghela napas panjang. Impiannya pulang bisa dengan mudah menghancurkan Delon dan mengambil aset yang diberikan kepadanya. Tapi kenapa semua seakan sulit? Bahkan Delon yang dulu sangat mencintainya dan memperdulikannya seakan abai.


Kenapa mama dan Elia itu sangat menjengkelkan? Kenapa Gisel sangat mencurigakan?


Vely mengusap kasar wajahnya. Entahlah, yang jelas saat ini dia harus segera berangkat. Vely hampir saja melangkah tapi tangannya ditahan oleh seseorang. Vely terkejut dan memutar langkah menatap ke arah wanita itu.


"Gisel, ada apa?" kejutnya.


"Kakak tidak mau aku antarkan?" tanya Gisel.


"Gisel, kakak tidak mau merepotkanmu," jawab Vely.


Gisel menyedekapkan tangannya di depan dan menatap wanita yang kini menatapnya dengan memaksakan senyuman itu.


"Kak, kakak tidak merepotkan sama sekali. Bahkan lebih merepotkan ketika kakak meminta bantuan sedangkan aku ada di luar negeri," ucap Gisel.


Vely memejamkan matanya, apa yang harus dia lakukan? Sedangkan saat ini Steve sudah berulangkali menelponnya dan tidak juga diangkatnya karna keberadaan Gisel.


Gisel tampaknya bisa membaca situasi, dia mendekat ke arah Vely dan menepuk pundak kakak iparnya itu.


Vely mengepalkan tangannya, tapi dia merasa lega Gisel menjauh darinya. Kenapa berdekatan dengan Gisel seolah membuatnya senam jantung? Segera wanita itu pergi, mengendarai salah satu mobil mewah yang terparkir di parkiran rumah.


Gisel yang kini ada di balkon kamar menatap ke arah mobil yang kini meninggalkan area parkiran itu. Pandangannya mengarah pada jalur yang dilalui Vely.


"RS Merah putih? Tapi kenapa ke sana?" lirih Gisel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zifana dan Wilyy telah menyelesaikan beberapa berkas yang digunakan untuk meeting dengan tepat waktu. Meskipun Zifana karyawan baru, akan tetapi dia cukup lihai. Setelah pagi tadi menyambut Zifana dengan antusias, kini kedatangan dua perusahaan besar yang akan kerja sama dengan Wl grup, membuat WL grup sangat antusias.


Bahkan Willy meminta pada seluruh karyawan untuk mempersiapkan penyambutan dengan meriah. Dengan hormat. Hingga tek berapa lama dari kaca yang besar terlihat beberapa mobil yang parkir di parkiran.


"Itu dari Steve grup sudah datang Wil," ucap Zifana yang kini berdiri.


"Hem, kau tenang saja. Dari Wilantama sepertinya asisten pribadinya saja yang hadir. Jadi kau bisa bernapas lega," ucap Willy.

__ADS_1


Aku tidak mau berurusan dengan mereka, jangan memaksa," ucap Zifana.


Willy tersenyum dan berdiri di depan pintu. Menyambut kedatangan Steve dan juga Clara modelnya.


"Clara, dia cantik dan juga seksi. Aku rasa akan bisa memasarkan produk itu dengan baik," ucap Zifana terdengar lesu.


Bukankah Delon dikonsepkan oleh Willy dan Steve ikut andil pemotretan? Kedengarannya dari asisten Wilantama sudah memberikan jawaban setuju. Itu artinya Delon akan ikut beradegan nantinya dengan Clara. Kenapa rasanya sakit? Zifana mengusap dadanya. Kenapa sesak? Bukankah hanya foto? Bahkan Delon melakukan hal yang lebih dari itu dengan istrinya.


"Lebih cantikan kamu," ucap Willy.


Zifana terkekeh dengan candaan Willy yang pasti hanya menghiburnya itu.


"Mana ada, dia model. Sedangkan aku apa? Aku akan merasa lebih cantik jika aku yang memasarkannya. Sayangnya aku bukan model," jawab Zifana spontan diiringi kekehan tawa.


Tak lama dari itu, terdengar hentakan sepatu mahal yang berjalan ke arah ruangan itu. Zifana dan Willy tampak bersiap. Tak beberapa lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan dua orang penting dari Steve grup itu.


"Selamat pagi Tuan Steve, selamat datang di WL grup," sambut Willy dengan bersalaman pada Steve dan juga klara.


"Selamat pagi," sambut Steve juga.


"Selamat pagi, Tuan Steve, Nona Clara," Kini Zifana bergantian menyambut Steve dan Clara dengan senyuman indahnya.


Steve dan Vely tampak menoleh, Steve tampak mengamati Zifana yang begitu cantik. Rambut yang digulung di atas memperlihatkan leher jenjangnya, baju kerja lengan panjang berhiaskan bros WL grup dan celana panjang melekat indah di tubuhnya. Wajah cantik nan cerah dengan riasan tipis yang mempesona membuat Steve tampak mengerjab terpesona.


"Sempurna," lirih Steve.


Akan tetapi, pandangan mata Steve seolah membuat mata Vely dongkol. Dia menyentuh lengan Steve sehingga membuat Steve sadar dari lamunannya.


"Selamat pagi Nona Zie," ucap Steve.


"Karna sudah berkumpul, mari silahkan duduk, dan saya pamit undur diri," ucap Zifana.


"Apa Nona tidak ikut?" tanya Steve antusias dan menambah kedongkolan di hati seorang Vely.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2