
Delon yang selesai memakai jasnya menatap ke arah balkon apartemennya. Dia melihat Zifana yang beridiri disana, dia tau Zifana menangis dan menguatkan hatinya.
Delon tergerak untuk mendekati Zifana di balkon, Dia berjalan ke sana.
"Nona Zifa," panggilnya.
"Ya, Tuan Delon," jawabnya sambil menoleh dan mengusap sisa air matanya. Keduanya tampak canggung. Tuan? Nona? Apa apaan ini?
"Sebaiknya kau memanggil namaku, begitu juga sebaliknya. Tuan dan Nona, rasanya sangat aneh diperdengarkan disini," ucapnya.
Zifana mengalihkan pandangannya, tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan Delon.
Merasa diabaikan oleh Zifana membuat Delon tampak murka.
"Aku berbicara padamu Nona angkuh," sentaknya sambil mengarahkan pandangan matanya pada Zifa.
"Aku mendengar, hanya saja aku tak mau menatapmu," ucap Zifana. Delon merasa geram.
"Dasar sombong, memang kau tak berubah dari dulu," ucap Delon dengan sinis.
"Tuan Delon, Kau beristri, kau tampan, punya segalanya, dan aku takut jatuh cinta padamu. Bukankah kita hanya menikah kontrak Tuan Delon? Kuharap kau juga tidak sering sering memandangku aku takut saja kau jatuh hati padaku," ucap Zifana santai sambil menatap birunya langit pagi.
Delon tampak emosi dan mengepalkan tangannya, kenapa wanita di depanya suka sekali memainkan emosinya?
Zifana menghela napas panjang dan menatap ke arah Delon. Delon memandang wanita cantik itu, menatap wajahnya membuatnya mengingat manisnya malam tadi. Delon memalingkan wajahnya, Zifana benar, mengalihkan pandangannya adalah jurus terbaik.
"Apa kau mau berangkat kerja?" tanya Zifana. Delon hanya diam tak menjawab.
Zifana berjalan ke arah Delon dan meraih tangan Delon, mencium punggung telapak tangan Delon dengan tenang. Desiran halus merayap di hati keduanya, Zifana kembali berdiri dan menatap Delon dengan senyuman indahnya.
"Hati-hati berangkatnya, sekalian aku izin jalan jalan nanti. Boleh?" tanya Zifana.
Delon yang masih tertegun menatap ke arah istrinya.
"Kau bebas melakukan apa yang kau mau, hanya saja kau punya batasan. Selama menjadi istriku, kau dilarang dekat dengan pria manapun, aku paling tidak suka wanita beristri menjalin hubungan dengan orang lain," ucap Delon. Zifana mengangguk anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Kau bisa pergi diantar pak supir," ucap Delon kemudian melangkah pergi. Zifana menatap punggung suaminya yang menjauh.
"Kak Delon," panggil Zifana sambil berjalan ke arah Delon.
Deg
Jantung Delon seakan melompat, panggilan Zifana menggetarkan hatinya. Kak? Apa apaan ini.
"Memang aku kakakmu?" ucap Delon saat Zifana berada di depannya.
Zifana tersenyum, menghadapi Delon mungkin tidak harus dengan keras. Mungkin dengan ketenangan Delon bisa sedikit diajak kompromi.
"Lalu apa? Aku sadar aku hanya istri simpanan, bahkan kau sangat mencintai istrimu, suatu saat kita bercerai. Bila mungkin nanti itu terjadi, menjadi adikmupun aku bersedia, jangan biarkan aku dan Elia terpisah karna status kita," ucap Zifana dengan tenang.
"Hati hati berangkatnya Kak, aku ke dalam lagi," ucapnya kemudian berlalu.
Delon memejamkan matanya, kata kata Zifana membekas di hatinya.
"Kak?" lirihnya.
...****************...
Dari lantai atas Zifana melihat Delon yang keluar dari parkiran apartemen, walau airmatanya mengalir dia tetap tersenyum. Tak mau dia larut dalam kesedihan.
Zifana melirik paperbag, yang kemarin diberikan pak supir. Disana ada ponselnya, Zifana tersenyum dan mengambil ponsel itu. Dia menyalakan ponselnya yang mati itu.
Banyak pesan yang dia terima, Anton, Wiliam, edward, Janson, Nada, Sifa, Papa, Kak Gino.
Zifana menghela napas panjang, sepertinya bertemu dengan kawan kawanya bisa membuat suasana hatinya lebih baik.
Sebelum itu dia membuat panggilan pada Nada.
"Halo assalamualaikum Zifa, apa kabar kamu? Kamu dimana? Kenapa menghilang setelah kita menyepakati kerja sama," sahut Nada yang tampak hawatir.
"Waalaikumsalam Nada, terimakasih atas kebaikanmu. Aku hanya mau bilang sepertinya kerjasama denganku berakhir, perusahaan dan butik sudah dijual ayah dan kakakku," ucap Zifana.
__ADS_1
"Iya, aku kaget saat salah satu perusahaan meneruskan kerjasama dan mengatakan bukan lagi atas namamu," ucap Nada disebrang.
Zifa memejamkan matanya, mau bertanya siapa yang membeli rasanya tidak berani. Lagi pula untuk membeli balik dia juga tak punya uang.
"Mungkin memang belum rezeki aku Nad, oh ya aku benar benar mau minta maaf selama ini jahat padamu,"
"Zifa, lupakan. Aku sudah memaafkanmu asal kau mau berubah. Urusan Mas Radit, Delon, Vino dan Nico yang belum bisa menerima permintaan maafmu, aku akan berusaha memberi pengertian. Sekarang kau dimana?" tanya Nada.
"Aku di.... " Zifana menghentikan ucapannya. Delon tak mau sahabatnya tau tentang hubungan mereka. Dia tak mau hubungan mereka diketahui publik. Artinya dengan Nada pun dia tak boleh jujur.
"Aku bekerja Nad, ayah dan kakakku entah kemana aku juga tak tau," ucapya.
"Bekerja?" tanya Nada.
"Hem, makanya aku baru sempet menghubungi. Maaf sekali lagi Nada, aku pamit bekerja lagi," ucap Zifana.
"Sabar Zifa, sukses untukmu," ucap Nada.
"Ya sudah Nada, assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab Nada.
Zifana menutup ponselnya, hatinya lega telah menghubungi Nada. Sepertinya dia harus keluar sekarang. Mencari udara segar.
Saat itu satu panggilan masuk dari Wily. Zifana tersenyum dan mengangkat ponselnya.
"Katakan kau dimana, datang sekarang juga ke kafe melati. Kalau tidak datang katakan dimana keberadaanmu aku akan menjemput," ucap Wily yang tampak hawatir.
"Halo Wil, aku... "
"Jangan berkata apapun, datang sekarang dan jelaskan. Atau kau mau aku melacak keberadaanmu dan menjemput paksa?" Wilu menutup ponselnya.
Zifana menghela napas panjang, bagaimana ini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1