Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Tinggal Penyesalan


__ADS_3

Mama Amel dan juga Gisel tampak memandang ke arah Delon yang tampak memejamkan matanya. Beberapa hari berlalu dengan berat bagi Delon, sesal begitu mengguncangnya. Kesediaan tampak dari wajahnya.


Tiga hari ini dia dalam pengawasan mamanya, karna tampaknya depresi dia alami sehingga dia dalam emosional yang tinggi. Menyakiti dirinya sendiri, menghancurkan segala yang ada di depannya. Mama Amel yang hawatir pada putranya mencoba untuk menghiburnya.


"Gimana ma Kak Delon?" tanya Gisel dengan panik. Melihat kondisi kakaknya membuat dirinya sedih.


"Hari ini lebih baik," ucap mamanya.


Mama Amel menghapus air matanya, melihat kesedihan Delon membuat hatinya terluka. Kesedihan Delon membuatnya merasakan sakit yang sama.


Gisel memeluk mamanya dengan tenang.


"Sabar ma, pasti kak Delon bisa melewati semua ini. Lagi pula kak Vely sudah mendapat ganjaran apa yang dia tanam. Orang yang menanam kebaikan, akan mendapatkan kebaikan. Begitu pula sebaliknya," ucap Gisel. Ya, kabar vely kecelakaan sudah sampai di telinga mereka.


"Hem, kita doakan Kak Delon agar kuat. Kita doakan juga kak Zifa segera ketemu. Mama rasa kakakmu dan Zifana sebenarnya sudah saling mencintai, meskipun disatukan dengan keadaan yang tidak diharapkan," ucap mamanya.


Gisel hanya diam, sempat dia melihat vidio di apartemen. Cacian Vely pasti membuat Zifana sakit, Cacian Vely pasti membuat Zifana terluka. Dari sini Gisel bisa melihat dengan jelas dia bisa melihat ketulusan hati Zifana saat ini.


"Kau tau Gie, sejak ada Zifana, kakakmu Delon begitu tampak bahagia, dia tenang, dia berseri, dia tersenyum, dan mama bahagia melihat itu semua. Dan saat Zifana pergi, semua terasa hambar dan suram. Bukankah itu artinya Delon mencintainya?" tanya mama Amel. Gisel diam, dia menatap mamanya dan tersenyum.


"Mama takut Zifana segaja bersembunyi dan tidak mau kembali karna memang Delon yang memintanya pergi. Mama takut kalau.... "


"Ma. Jangan berpikir yang tidak tidak. Sabar ma, kita akan tetap berusaha mencarinya mam, bahkan aku sudah mengerahkan bala bantuan. Jadi mama tidak usah hawatir. Aku yakin Zifana pasti tau dan mengerti alasan kak Delon melakukan itu," ucap Gisel.


"Mama istirahat. Kak Delon akan baik baik saja," ucap gisel lagi kemudian melenggang pergi.


Gisel memijat pelipisnya dia menghela napas dalam dalam. Tak tega melihat mama dan kakaknya seperti ini. Dia hanya bisa menahan sesak yang mendera. Dimana Zifana berada? Apa sesulit ini? Dia yakin ada tangan yang sengaja menyembunyikannya.


Teman temannya adalah ditektif handal. Bagaimana bisa tidak menemukan? Gisel menghela napas dalam dalam. Andreas bukan orang bodoh, kakeknya juga tidak biasanya membiarkan cucunya terluka. Lalu? Kenapa semua seakan sulit bagi mereka? Bahkan Kakek dan Andreas saat ini malah keluar negri yang katanya mengurus pekerjaan dua hari ini. Ada yang tidak beres. Pikir Gisel.


"Aku yakin semuanya akan ada jawabannya. Mungkin Andreas dan kakek bisa berbohong, tapi aku yakin semuanya akan mendapatkan solusi. Kak Delon, baik baik ya, sabar, aku akan berusaha," ucapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Makan kak, kamu merindukanku?" Zifana duduk sambil menyuapkan makanannya ke arah Delon.


Delon tampak bahagia memandang wajah itu, bukan menerima suapan yang diberikan. Justru lelaki itu memeluk istrinya dengan bahagia.

__ADS_1


Rasa rindu yang menggunung seakan sirna, membuat kebahagiaan begitu tercipta dalam benaknya. Memberikan kedamain, ketentraman, kenyamanan dalam hatinya, dalam batinnya. Delon memejamkan matanya.


"Aku mencintaimu Zifa, terima kasih telah kembali," ucapnya lirih.


Dia membuka matanya, tapi sayang yang ada dalam pelukanya adalah sebuah guling. Delon mengedarkan pandangannya, tak ada Zifana. Dia hanya mimpi, rasa sesak kembali menyeruak. Dadanya terasa sakit, terasa perih. Air matanya mengalir deras.


"Zifana.... Kembalilah!" lirihnya lagi. Air mata Delon mengalir. Hidunya hancur karna kebodohannya.


Semua tinggal penyesalan, Zifana sudah pergi meninggalkannya atas perintahnya. Rasa bersalah bersarang dalam benaknya.


"Maafkan aku Zifana, maafkan aku," lirihnya.


Diambilnya foto besar yang baru dia cetak beberapa hari yang lalu dalam bingkai. Foto pernikahannya dengan Zifana.


"Kau istriku, selamanya akan seperti itu. Elia bukan putriku Zifa, tak ada alasan lain untukku selain mengatakan padamu bahwa kamu adalah satu satunya orang yang aku cintai, Elia sudah bahagia bersama mama dan papa kandungnya," ucapnya sambil mengusap wajah Zifana di dalam bingkai foto.


"Kembalilah, maaf atas kesalahanku. Jika tidak ada maaf, mungkin memang ini adalah hukuman yang pantas aku terima karna kesalahanku," ucapnya.


Delon meraih buku dan bolpoin membuat coretan disana.


Barisan ketegaran seakan rapuh


Rapuhku menyala


Melunakkan angkuh yang kupertahankan sekian lama


Terbayang raut wajahmu dalam benakku


mengetuk pintu hatiku dengan licik


Senyummu seolah menjadi busur panah


Dengan racun yang mematikanku


Matilah, matilah....


Seolah kau bersorak

__ADS_1


Seolah kau tertawa disana


menertawakan aku di dalam istana


menjadi ratu tanpaku di sampingmu


Sedangkan aku di sini merajut memori kebodohan


yang tak pernah padam.


"I Love You"


ucapanmu yang begitu lirih terdengar di telingaku saat itu.


Saat ini?


Seolah mencekikku dengan kuat


melukai tanpa darah


memberikan sesak yang mendera


Kepergianmu membuat lara, menoreh luka


Bulan seakan pelit memancarkan cahaya untukku


Bumi seakan beku, dingin menusuk ulu hatiku


Bila kau tanyakan soal sakit?


Jauh dalam dada ada luka yang menganga


Perlahan mematikanku atas segala kesalahan yang aku lakukan padamu.


Zifana, kembalilah. Aku mencintaimu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...End 😍😍😍...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2