Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Tekat untuk pergi


__ADS_3

Pagi hari yang indah, Zifana sudah menyiapkan beberapa menu makanan di meja makan. Semalem Delon tak kembali ke kamar, mencari Delon ke ruang kerja juga rasanya enggan.


"Pagi Nona Zifa," sambut Delon. Saat ini dia sudah berpakaian rapi, memakai jas rapi dan juga sudah memakai sepatu.


"Pagi Kak, semalem kembali ke sini jam berapa?" tanya Zifana seakan tak tau perihal kepulangan suaminya itu.


"Entahlah, aku juga tidak melihat jam," ucap Delon sambil duduk di kursi. Netranya mengamati Zifana yang kini membalikan piring di atas meja.


"Mau makan apa Kak?" tanya Zifana.


Delon terdiam. Menatap Zifana saat ini dan Zifana yang bertemu dirinya beberapa minggu yang lalu sangat berbeda. Yang ada di depannya bukan lagi Zifana si Nona sombong. Bukan lagi Zifana yang angkuh dan licik. Lalu apa wanita itu benar benar telah berubah?


"Aku bisa sendiri, kau tak perlu repot-repot melayaniku," ucap Delon.


Zifana terdiam, dia menghela napas dalam. Lalu, dia mengambil untuk dirinya sendiri.


"Maaf bila aku lancang, tapi aku hanya ingin melakukannya sebagai baktiku padamu. Walau sebagai istri simpanan dan juga istri kontrak, aku berpikir tidak ada jeleknya aku membantumu, ini juga tidak setiap hari," ucap Zifana.


"Lagi pula kau sudah menolongku dari maut, memberikan aku tempat tinggal dan juga kemewahan, aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu kecuali dengan melakukan hal kecil seperti ini, tapi sepertinya kau tidak memerlukan apapun dariku. Aku cukup tau alasan kau menjaga jarak padaku, aku memang wanita yang pantas mendapatkan ini semua. Atas apa yang aku lakukan dimasa lalu," ucap Zifana panjang lebar.

__ADS_1


Deg


Hati Delon tersentuh, ucapan Zifana menyayat hatinya. Bayangan kesombongan Zifana mengiang dalam pikirannya. Bayangan kejahatan Zifana juga berputar dalam otaknya. Akan tetapi, Zifana yang lembut juga mengiang di otaknya.


"Aku menolongmu itu hal yang wajar. Jikapun itu orang lain, aku juga akan melakukannya. Tempat tinggal dan uang yang aku berikan juga karna kau bekerja padaku di atas kontrak pernikahan. Jadi, bagiku kita saling untung di sini," ucap Delon.


Deg


Jantung Zifana berdetak hebat, hatinya sakit. Semalam dia mendengar Delon mengatakan kalau istrinya berubah pikiran mungkin hari ini adalah hari terakirnya? Apa istrinya pulang hari ini? Lalu apa setelah istri Delon pulang, dia benar benar tidak dibutuhkan lagi? Entahlah.


"Nanti Elia pulangkan Kak? Aku ikut jemput apa tidak?" tanya Zifana.


Delon menatap Zifana dengan dingin. Rasanya kepalanya sangat pusing. Dia harus bicara dengan Vely yang sepertinya ngambek itu. Nanti malam dia akan datang, itu artinya Zifana tidak bisa ikut, Delon tak mau ada keributan nantinya. Mungkin membiarkan Zifana di apartemen akan lebih baik.


"Kau diapartemen saja, ada mama. Aku rasa Elia tidak rewel, aku akan menghubungimu jika aku membutuhkan bantuanmu," ucap Delon.


Zifana tampak tersenyum, mereka makan bersama. Hingga saatnya tiba Delon pamit untuk pergi.


"Aku harus berangkat, mungkin untuk beberapa hari aku tidak bisa mengunjungimu," ucap Delon.

__ADS_1


Zifana tersenyum dan menatap ke arah suaminya, keduanya saling berpandangan. Entah perasaan apa yang ada dalam benak keduanya. Terasa sangat sesak dan sangat menusuk ulu hatinya.


"Hem, hati hati kak. Aku minta maaf jika aku sering membuatmu kesal," ucap Zifana sambil mencium telapak tangan Delon.


Delon memejamkan matanya, entah kenapa hatinya merasa hangat dengan perlakuan Zifana. Zifana berdiri, Delon meraih pinggang ramping Zifana dan mencium puncak kepala istrinya.


Zifana memejamkan matanya, berada dalam pelukan Delon seperti ini sangat nyaman. Tapi dia tidak bisa membiarkan hatinya terus sakit. Dia harus melakukan sesuatu.


"Kak, berangkatlah. Jangan merindukan aku," ucap Zifana sambil terkekeh. Delon menautkan alisnya, dia terkekeh juga. Wajah dingin dan galak entah kemana.


"Kau pikir kau siapa? Bahkan tak bertemu denganmu selamanyapun tak ada masalah bagiku," ucapnya kemudian melenggang pergi.


Zifana termenung, lagi lagi hatinya sakit. Dia memutar langkahnya menuju ke kamar. Dia mengambil tasnya. Zifana sudah menyiapkan tas kecilnya di sofa sejak semalam. Ya, dia memutuskan untuk pergi, mengetahui istri Delon kembali adalah alasan utamanya.


Delon menikah karna istrinya sakit, lalu jika kembali bukankah sudah sembuh? Bukankah Elia sudah bertemu mamanya nanti? Tidak ada alasan lagi untuk bertahan, dia hanya dianggap sebagai pekerja. Jika Elia sudah ada yang mengasuh bukankah tidak ada lagi yang dia kerjakan? Dia tak mau menikmati harta Delon dengan cuma cuma.


Zifana menghapus air matanya, meletakan kartu tanpa batas dan acses card diatas meja. Dia juga memberikan secarik surat disana.


"Selamat tinggal Kak, mungkin jauh darimu lebih baik. Aku tidak mau semuanya terlambat, kau sangat istimewa. Dan aku tidak bisa melarang hatiku untuk jatuh cinta, aku takut jatuh cinta padamu dan semakin membuat aku terluka karna kau mencintai dirinya," lirih Zifana.

__ADS_1


Zifana melangkah pergi, satu satunya orang yang akan dia tuju adalah Willy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2