Istri Simpanan Tuan Delon

Istri Simpanan Tuan Delon
ISTD. Bersama Willy


__ADS_3

Zifana telah sampai di sebuah cafe yang megah, segera wanita cantik itu turun dan melangkah ke dalam. Zifana mencari keberadaannya Willy, tak lama dari itu dia menemukan keberadaan Willy di pojok ruangan.


Wily tersenyum dan berdiri, dia menyambut kedatangan sahabat baiknya yang sebenarnya sangat dicintainya itu.


"Siang Zie," sambutnya.


"Siang Wil," sahutnya.


Wily mengamati Zifana yang tampak sedih, dia tau sahabatnya itu sedang memendam sesuatu. Tapi justru Wily tersenyum, akhir akhir ini dia melihat Zifana banyak berubah, dan itu menjadi hal yang membahagiakan baginya.


Dari Zifana yang cerewet, angkuh dan sombong, kini Zifana tampak berubah pendiam, lembut dan sabar. Akan tetapi, disamping Zifana berubah baik, tampaknya dia juga sedikit murung.


"Ada apa?" tanya Willy.


"Wil, aku butuh pekerjaan," ucapnya.


Willy menautkan alisnya. Bukankah Zifana sudah bekerja? pertanyaan yang mengiang dalam benaknya.


"Bukankah kau sudah mempunyai pekerjaan?" tanya Willy.


"Wil aku kabur dari sana, aku tidak betah," sahutnya.


"Kabur?" kejut Willy dengan lantang. Seisi Kafe itu menatap dua orang itu.


Zifana berdiri dan menutup mulut Willy, wajahnya merah menahan malu.


"Iya tapi jangan kenceng kenceng juga kali Wil," kesalnya.


"Duduk lagi Zie, maaf lah. Aku tidak sengaja. Aku sangat terkejut. Memangnya pekerjaan apa sih? Kenapa sampai tak betah dan malah kabur?" tanya Wily sambil tersenyum. Setidaknya dia bahagia karna wajah sedih Zifana sudah hilang entah kemana, walau tergantikan dengan wajah sebal.


Zifana duduk kembali, perlahan orang yang memandang mereka tampak mengalihkan pandangannya.


"Pokoknya kerja, pekerjaan tidak berat. Tapi bosnya sangat galak," ucap Zifana. Wajah Delon kini memenuhi otaknya.


"Apa ajalah, yang penting tidak jual diri," ucap Willy dengan terkekeh dan mampu membuat Zifana memelototkan mata indahnya.


"Seneng banget mengejekku Wil, aku serius lo," ucap Zifana.


Tak berapa lama kemudian pelayan kafe datang membawakan makanan pesanan yang dipesan Willy. Saking hafalnya selera Zifana, Willy sudah tidak perlu menunggu Zifana untuk memesan.


"Silahkan Mbak, Mas," ucap pelayan itu setelah menghidangkan makanan di atas meja.


"Terimakasih Mbak," sahut keduanya.


"Ya udahlah, kau sementara membantu aku jadi sekertarisku. Gimana?" ucap Willy sambil menyuapkan satu sendok makanan di mulutnya.

__ADS_1


Zifana menghela napas panjang, menjadi sekertaris Willy artinya tidak menutup kemungkinan bertemu dengan Delon. Bukankah perusahaan Willy bekerja sama dengan perusahaan Delon?


"Kau keberatan?" tanya Willy saat melihat Zifana tampak berpikir.


Zifana menatap sahabatnya dan tampak terdiam.


"Apa mau jadi model lagi?" tanya Willy. Zifana membelalakan matanya. Ya, dulu Zifana memang pernah mengambil kuliah modeling dan disainer. Akan tetapi, karna kakeknya tidak menyetujui mengembangkan bakat disana, akhirnya Zifana berhenti dan fokus di disain saja.


Lagi lagi Zifana membelalakkan matanya dan lagi lagi Pria yang berumur tiga tahun diatasnya itu tertawa. Walau satu angkatan kuliah, memang Willy melanjutkan kuliah setelah tiga tahun berhenti.


"Kau taukan kakekku tidak suka aku jadi model, ada ada aja ya penawaranya. Bikin kesel aja deh," ucap Zifana sambil menyantap makanannya.


Willy tertawa dan menggelengkan kepalanya, walau tidak menamatkan jurusan model, akan tetapi dia tau Zifana sangat berbakat. Bahkan, dulu sempat beberapa kali mendapatkan job, dan dengan sembunyi dari keluarganya Willy mengantar Zifana mengambil job itu. Sampai pada akhirnya ketawan kakek dan keduanya dihukum di depan mansion.


Willy tertawa mengingat itu, Zifana melirik Willy, dia tau pasti apa yang pikirkan oleh sahabatnya itu.


"Jangan tertawa!" kesal Zifana.


"Lucu aja Zie," jawab Willy.


"Itu bukan lucu Wil, tapi menyedihkan," ucap Zifana. Zifana terdiam dan menatap Willy yang menikmati makanannya.


"Wil," panggil Zifana.


"Setelah aku berpikir, aku mau membantumu Wil," ucap Zifana.


Willy tampak antusias dan menatap ke arah Zifana.


"Beneran?" tanyanya.


"Hem, tapi ada satu syarat," ucap Zifana sambil tersenyum. Wily yang semula terkekeh kini menatap ke arah Zifana dengan serius.


"Serius?" tanya Willy lagi seolah menegaskan.


"Iya Willy, tapi dengan satu syarat," ucap Zifana.


"Apa?" tanya Willy.


"Aku tidak mau ikut kalau kita dijadwalkan bertemu dengan perusahaan Wilantama grup," ucap Zifana.


Willy tampak meletakan sendok dan garpunya di atas piring kemudian menatap Zifana dengan berbagai pertanyaan. Apa Zifana kenal? Soalnya waktu itu tatapan pimpinan Wilantama grup sangat aneh dan membuatnya tak suka. Entahlah, sukur aja kalau Zifana merasa.


Astaga, Willy mengingat sesuatu. Bukankah Wilantama grup adalah perusahaan yang bekerjasama dengan baik dengan MRD grup dan mereka adalah sahabat? Apa karna masalah yang pernah teejadi diantara mereka yang membuat mereka jadi tak nyaman?


"Memangnya kenapa?" tanya Willy mencoba mengetahui jawaban dari Zifana.

__ADS_1


"Enggak papa," jawab Zifana.


"Apa karna dia adalah sahabat Marvel?" tanya Willy. Ya, Willy tau tentang rencana peejodohan antara Marvel dan Zifana yang diusulkan oleh mama Marvel.


Zifana terdiam, itu adalah salah satu dari masalah yang sebenarnya. Tapi, dia tak mau Willy tau tentang pernikahannya dengan Delon saat ini.


"Bisa jadi, yang jelas aku kurang nyaman. Lagian dia juga sudah beristri," ucap Zifana.


Willy terkekeh.


"Memang, tapi tak pernah membawa istri dan anaknya ke publik. Memang kau mencari yang singel? Yang sendiri tetaplah aku Zie," ucap Willy dan membuat Zifana mengalihkan pandangannya.


Willy terkekeh pelan, dia tau Zifana sebal. Tapi setidaknya saat ini dia bahagia.


"Oke aku trima syaratnya, tapi jika mendesak harus bertemu kau juga harus nurut. Untuk pekerjaan pertama mulai saat ini, karna sore ini kita akan ada acara bertemu dengan Steve grup di restauran sebelah," ucap Willy.


Zifana menatap Willy dan menghela napas panjang.


"Agensi model itu?" tanya Zifana.


"Benar, kita akan berbincang dengan ceo sekaligus Clara, modelnya," ucap Willy.


"Bukannya masih besok?" tanya Zifana lagi.


"Besok itu bersama dengan Wilantama juga. Saat ini kita dan mereka saja, membicarakan beberapa hal saja. Sebenarnya mereka mengajak sedari kemaren karana sejak kemarin mereka sampai disini. Tapi aku bisanya hari ini, dan kebetulan Clara nanti malam ada acara di bandara. Makanya mengajak meting dulu, sebelum ke bandara," ucap Willy panjang lebar.


Zifana menganggukkan kepalanya.


"Habiskan makanmu, kita ke salon dulu dan ke butik. Aku rasa kau harus tampil memukau untuk bertemu dengan mereka," ucap Willy. Zifana terkekeh pelan.


"Oke, aku memang harus berdandan untuk merayu mereka. Supaya mereka yakin bahwa bergabung dengan WL grup adalah suatu keberuntungan," ucap Zifana sambil tersenyum dan menghabiskan makanannya.


Setelah selesai, Willy membayar makanan, mereka segera keluar dan menuju parkiran. Mereka akan pergi ke salon dulu kemudian ke butik untuk mencari baju.


"Wil," ucap Zifana.


"Apa?" tanya Wily.


"Ini gratisan kan? Aku tak punya uang," ucap Zifana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Willy terkekeh tak bisa menahan tawa.


"Ini utang, lain waktu kau harus menggantinya," canda Willy.


Mereka tampak bahagia, Zifana menghela napas panjang. Selalu saja Willy bisa membahagiakan. Akan tetapi, mencintai Willy kenapa enggan? Dia nyaman dengan Willy hanya sebagai sahabat dan kakak.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2