
Happy Reading 😘😘
Malam ini Tania tak bisa tidur dengan nyenyak, perutnya terasa sakit tapi hilang timbul.
Itu sudah biasa Tania rasakan semenjak kehamilan nya memasuki bilang ke 9. Dia sering merasakan kontraksi palsu seminggu belakangan ini.
Tapi kali ini sakit nya teramat sangat, hingga untuk berdiri saja ia bahkan tak kuat.
"Pu....." Lirih Tania sambil mencengkram seprei.
Setelah sakitnya berkurang, Tania menggoyangkan lengan Lian.
"Pu, bangun..." Panggil Tania dengan suara tertahan sebab perutnya kembali sakit.
"Hm, napa Bu?" Tanya Lian sambil memejamkan mata.
Tania mencengkram kuat lengan suaminya, sehingga membuat Lian meringis sakit dan membuka mata nya dengan kaget sebab merasakan sakit di tangan nya.
"Aaaaahh sakit Bu? Kenapa di remas sih?" Ringis Lian
Saat dia melihat ke arah Tania, seketika Lian menjadi panik. Dia melihat Tania sedang menahan sakit sambil menggigit bibir bawah nya.
"Bubu, kamu kenapa?" Panik Lian sambil mengusap keringat di kening Tania.
"Aawwhh, Pu. Perutku sakit sekali..." Rintih Tania.
"Kita kerumah sakit sekarang ya!" Ucap Lian sambil menggendong tubuh Tania keluar kamar.
"Mamaaaa..... Papaa......" Teriak Lian saat di luar kamar.
Mama Rena dan Papa Wahyu tersentak kaget saat mendengar teriakan Lian. Kebetulan kamar keduanya berdampingan dengan kamar Lian.
"Ada apa sih Ian, teriak teriak?" Tanya Papa saat keluar dari kamar.
"Pa, tolong siapkan mobil Pa. Cepat! Tania mau melahirkan." Panik Lian
Mama dan Papa melihat Tania di gendongan Lian, sedang meringis sakit sambil mencengkram baju piyama Lian. Seketika mereka pun ikut Panik, tapi mereka tahan sebab tak mau menambah Tania Panik, karena itu adalah kelahiran yg pertama baginya.
"Aaawwwh, Pupu sakitt...." Rintih Tania.
"Ma, tolong bawakan tas di kamar yg sudah di siapkan." Ucap Lian.
Mama mengangguk, lalu Lian segera membawa Tania ke dalam mobil sambil terus memangku nya.
"Aduuhhh Pu.... Sakit...." Ringis Tania.
"Iya sayang, kita akan kerumah sakit." Ucap Lian sambil mengecup kening Tania berkali kali.
"Pa, cepat Pa. Lebih ngebut lagi." Pinta Lian dengan Panik.
__ADS_1
"Ian, kita boleh Panik. Tapi kita juga harus memikirkan keselamatan kita." Ucap Papa
Lian merasa kasihan melihat istrinya kesakitan, dada Lian berdebar kuat saat melihat Tania menahan sakit.
Bahkan dia terus mengelap keringat yg membasahi wajah cantik Tania.
"Sayang, jika Pupu bisa meminta. Maka Pupu ingin sekali rasa sakit itu di kasih ke Pupu. " Ucap Lian
Dia ingin sekali jika rasa sakitnya Lian saja yg merasakan. Dia tak sanggup melihat Istrinya meringis.
Tania merasakan sakit yg teramat sangat di bagian perut bawah dan punggung. Baginya sakit itu melebihi sakit saat perawaan nya robek.
Sakit yg tidak bisa di rasakan oleh lelaki mana pun di dunia. Ibaratkan 20 tukang rusuk di patahkan dalam waktu bersamaan.
Sesampai nya di rumah sakit, Tania langsung di baringkan di brankar dan di dorong menuju ruang bersalin.
Genggaman tangan nya tak lepas dari Lian.
"Pu, jangan tinggalin aku." Pinta Tania
"Gak akan sayang. Aku akan selalu ada di sisi kamu!" Ucap Lian.
"Dok, saya boleh temani istri saya?" Tanya Lian pada dokter
"Silahkan pak."
Tania mencengkram kuat tangan Lian, saat dokter itu mengecek pembukaan.
"Heh, apa yg kau lakukan hah? Kau mau menyakiti istriku?" Bentak Lian pada dokter wanita itu.
Dokter dan kedua suster itu sampai tersentak kaget saat mendengar bentakan Lian. Mereka merasa takut saat melihat wajah garang Lian.
"Ma-maaf pak, saya hanya me-ngecek pembukaan istri anda. Dan pembukaan nya baru pembukaan 5. Ibu Tania harus menunggu, sampai pembukaan nya lengkap." Jelas dokter tersebut dengan wajah takut.
"Apa kau bilang? Menunggu? Apa kau tak lihat hah? Istriku sedang kesakitan, dan kau bilang harus menunggu?" Teriak Lian
Tania mengusap lengan Lian, dia menggeleng dengan menahan rasa sakit yg hilang timbul.
"Sayang, jangan marahi mereka. Mereka benar sayang!" Lirih Tania.
"Tapi sayang, kamu kan udah kesakitan begini?" Cemas Lian
"Ini memang biasa, untuk wanita yg mau melahirkan? Aaaaghh...."
Tania kembali merasakan sakit di perut dan punggung nya. Bahkan sakit itu tak bisa ia gambarkan. Sakit yg di rasakan semua wanita hamil yg akan melahirkan.
Hingga 3 jam lebih, Tania masih kesakitan. Sampai tangan nya di pasang infus sebab tenaga Tania sudah hampir habis.
"Jika saja kamu bisa membaginya dengan ku Bu. Maka aku akan dengan sangat rela, menanggung sakit itu." Ucap Lian sambil mencium kening Tania.
__ADS_1
Dia begitu terpukul saat melihat wajah lemas Tania, dada nya sakit melihat itu. Dia tak menyangka jika wanita melahirkan itu, begitu sangat menderita menahan sakit.
Dokter kembali mengecek pembukaan dan ternyata sudah lengkaplengkap, bahkan ketuban pun sudah pecah.
Dokter pun memposisikan kaki Tania, dan menyuruh nya mengejan sekuat tenaga.
Eeeuuuggggghhhh
Eeeughhhhh
Tania mengejan dengan kuat sambil mencengkram rambut Lian. Dengan napas terengah engah, Tania terus mengejan sesuai instruksi dari dokter.
Sedangkan Lian tak perduli dengan sakit di kepala nya. Bagi dia itu adalah rasa sakit, yg Tania rasakan bahkan lebih dari itu.
"Ayo Buk. Kepala nya sudah terlihat! Ikuti aba aba saya ya." Ucap dokter tersebut.
Tania mengejan saat rasa sakit itu kembali datang, dan dengan sekali tarikan napas dia mengejan dengan kuat.
Aaaghhhhhh
"Alhamdulillah, bayi nya sudah lahir." Ucap dokter.
Suster langsung membawa bayi itu dan membersihkan nya, seketika bayi itu menangis saat suster menyuntikan sesuatu pada lengan nya.
Ooeeekk
Ooeeekk
Lian menatap haru dan bahagia pada Tania, bahkan dia mengecup seluruh wajah Tania dengan linangan air mata.
"Alhamdulillah Bu. Bayi kita sudah lahir! Terimakasih sayang, terimakasih...." Ucap Lian sambil menyatukan dahinya bersama Tania.
Suster menaruh bayi itu di atas dada Tania. Lalu Lian segera mencium bayi mungil itu.
"Sayang, anak kita laki laki." Ucap Lian
Tania mengangguk lalu mengusap kepala bayi nya. Dia benar benar bahagia karena sudah menjadi ibu yg sesungguhnya.
Mama, Papa, dan keluarga Tania di luar juga saling memeluk satu sama lain. Keluarga Tania di telfon oleh Papa Wahyu beberapa jam yg lalu.
"Mi, cucu kita sudah lahir." Ucap Papi dengan antusias
"Iya Pi. Alhamdulillah..."
Setelah di pakaikan kain bedong, bayi pun di serahkan pada Lian untuk di adzani. Sedangkan Tania sedang menahan sakit untuk kedua kali nya saat bagian inti nya di jahit oleh dokter.
Baginya sakit itu tak seberapa dengan kebahagiaan yg dia rasakan saat ini.
Bersambung.......
__ADS_1