
Di sini kalian bebas ya🤭
Kalian boleh marah, boleh maki maki pemeran di cerita ini silahkan othor malah senang🤭sebab apa? sebab othor merasa novel yg othor buat nyampe ke hati kalian. Asal jangan menjatuhkan mental dan karya othor saja🤣
Makasih dears yg udah selalu setia baca dan stay di sini🙏🙏makasih juga udah dkung karya othor receh kayak aku🙏😘😘😘
Eeeuuhghh
Juwi melenguh dan membuka mata nya secara perlahan. Dia melihat Jojo ada di samping nya.
"Aku kenapa?" Tanya Juwi dengan suara lemah
"Kamu pingsan tadi, di ruan ICU." Jawab Jojo
Juwi yg mendengar itu memori ingatan nya kembali ke waktu dimana ia menyaksikan Papa angkat nya menghembuskan napas terakhir.
Air mata nya kembali luruh membasahi pipi. Dada nya benar benar sesak saat ini, sehingga Juwi merasakan udara begitu sempit.
Jojo segera memeluk tubuh Juwi dan mengusap punggung nya. Dia tahu apa yg di rasakan Juwi saat ini.
"Sabarlah, tenangkan dirimu! Kau harus ikhlas. Pak Hery pasti akan sedih melihatmu begini?" Ucap Jojo
Juwi terisak dalam pelukan Jojo, tenaga nya seakan tak terasa lagi.
"Aku mau ketemu Papa! Aku mau nemenin dia di saat terakhir nya." Pinta Juwi
Jojo mengangguk. " Kalau gitu kita pulang. Sebab, jenazah Pak Hery sudah di bawa ambulance pulang!"
Juwi pun turun dan berjalan di papah oleh Jojo. Badan nya seakan tak ada tenaga lagi buat berdiri hingga dia oleng. Untung saja Jojo sigap.
Dengan cepat Jojo menggendong tubuh Juwi.
Di dalam mobil
"Wi, apa kamu gak ngabarin Nona muda?" Tanya Jojo
Juwi menghapus air mata nya, dia baru ingat jika ia kali ini benar benar harus menghubungi Tania.
Juwi mengambil ponsel nya dan menekan nomor ponsel Tania.
Tut
__ADS_1
Tuut
Dering ketiga telpon pun di angkat oleh Tania. Juwi diam saat Tania memanggil nya. Entah kenapa tiba tiba lidah nya menjadi kelu.
"Hallo, Wi. Lo kok diem? Ada apa?" Ucap Tania di sebrang sana
"Tan...." Panggil Juwi dengan suara serak.
Tania yg baru kembali ke kamar dan sedang rebahan di kasur bersama Lian, menatap suaminya heran saat mendengar suara purau Juwi.
"Wi, Lo habis nangis? Ada apa Wi? Papa gimana? Papa baik baik saja kan?" Tanya Tania dengan panik
Juwi malah semakin terisak, dan itu terdengar oleh Tania. Dan semakin membuat Tania menjadi panik dan cemas.
"Wi.... Lo denger gw kan? Papa baik baik aja kan? Wi..." panggil Tania
" Tan, Papa Tan. Papa! Papa sudah pulang." Jawab Juwi dengan suara serak
"Alhamdulilah, Papa sudah pulang juga! Lalu kenapa Lo nangis? Harusnya Lo itu senang dong?" Heran Tania
"Lo salah Tan! Lo keliru."
"Tan, Papa pulang ke pangkuan illahi." Akhirnya kata kata yg berat keluar juga dari mulut Juwi.
Tapi dia malah mendengar Tania terkekeh.
"Lo kalau bercanda jangan begitu sih? Pamali Juwita Bohay!" Ledek Tania
"Gw serius Tan. Papa sudah gak ada! Papa hiiikksss... Papa sudah, hiiikss...."
Degh
Tangan Tania bergetar dengan kepala menggeleng. Dia seakan sedang bermimpi buruk saat mendengar kenyataan itu.
Ponsel dalam genggaman nya jatuh ke kasur.
"Sayang....." Panggil Lian
"Nggak! Gak mungkin. Papa gak mungkin meninggal? Juwi pasti bercanda?"
Lian memeluk tubuh Tania, mencoba menenangkan istrinya yg terlihat sangat begitu syok saat mendengar kenyataan pahit itu.
__ADS_1
"Sayang, Papa masih ada kan? Juwi pasti bohong hiiikkkss... Juwi bohong...."
"Sabar sayang!"
Tania menangis terisak di dalam pelukan suaminya, dada nya benar benar sangat sesak sehingga Tania merasa sulit bernapas.
Sakit, hancur itu lah yg Tania rasakan saat ini. Dia begitu kehilangan sosok yg menyayangi nya dengan tulus. Sosok yg tanpa ikatan darah mau menganggapnya sebagai anak.
"Sayang, aku mau pulang!" Pinta Tania.
Lian mengangguk.
"Iya, kita akan pulang sayang."
"Sekarang!" Ucap Tania
Lian melihat istrinya benar benar ngotot, akhir nya ia pun menelpon pihak bandara agar menyiapkan jet pribadi nya untuk pulang ke Indonesia.
🌹
🌹
🌹
Hana sedang berada di kamar nya, dia masih dalam penyembuhan akibat sabetan sabuk Anton beberapa hari yg lalu.
Hana juga sedang memikirkan bagaimana cara nya agar ia bisa keluar dari sana. Bahkan ponsel pun ia tak punya.
Semua ponsel dan dompet milik nya di sita oleh Anton, sehingga Hana tak bisa meminta bantuan pada Revan.
"Aku harus segera menemukan cara, agar bisa keluar dari sini." Gumam Hana
Sedangkan ibu nya Hana sedang uring uringan mencari keberadaan Hana di bantu oleh Revan.
Tapi sampai saat ini mereka tak tahu keberadaan Hana dimana, dan bersama siapa.
Ibu nya Hana mencoba mendatangi kediaman Arganendra lagi kemarin. Tapi, satpam tak membukanya pintu pagar. Sebab Mama nya Lian melarang satpam membuka pintu untuk wanita itu.
"Dimana kamu nak? Ibu sangat cemas!" Ucap Bu Kus sambil mengusap poto Hana di bingkai poto.
Bersambung........
__ADS_1