
Happy Reading 😘😘
Sesampai nya di hotel Tania langsung berlari ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu nya.
Klek
Dia gak mau jika Lian masuk dan menggoda nya lagi. Kali ini Tania ingin mandi dengan tenang, tanpa gangguan tangan nackal Lian.
"Huuuuhhh.... Enak nya bisa berendam dengan tenang!" Gumam Tania sambil memainkan busa sabun tebal di permukaan air.
Sedangkan Lian mendengus kesal saat melihat istrinya lari ke kamar mandi dan mengunci pintu nya.
Lian kemudian membuka seluruh baju nya, dan hanya menyisakan boxer nya saja. Dia berjalan ke bagian samping kamar hotel dan langsung nyebur ke dalam kolam renang.
Bbyuuur
Seketika badan nya terasa sangat segar.
Tania baru saja selesai mandi setelah memanjakan otot otot sendi nya. Dia melangkah mengambil baju di dalam koper.
"Mas Lian kemana? Kok gak ada?" Tania heran sebab tak melihat suaminya di dalam kamar.
Bbyuuur
Suara orang nyebur terdengar di samping kamar, saat Tania lihat ternyata itu Lian. Tania pun segera memakai baju ganti. Sebab badan nya terasa sangat dingin.
"Kamu sudah pesen makanan sayang?" Tanya Lian sambil menggosok rambut nya dan berjalan keluar dari kamar mandi.
"Belum Mas."
Mendengar jawaban Tania, Lian pun mengambil ponsel nya dan meminta makan malam di antar ke kamar.
"Kamu lagi apa sih? Sibuk banget!" Tanya Lian saat melihat Tania sangat pokus pada ponsel nya.
__ADS_1
"Aku lagi chat Juwi Mas. Aku minta dia buat nginep di rumah Papa! Aku ingin Juwi memantau keadaan Papa, Mas. Entah kenapa aku kepikiran sama Papa. Aku cemas, soal nya kemarin kan Papa sedang sakit." Jelas Tania
Lian mengusap rambut istrinya dengan lembut, lalu mengecup dahi Tania sekilas.
"Sayang, Papa akan baik baik saja. Di sana juga kan banyak pelayan?"
Tania mengangguk, dia berharap Juwi segera sampai di rumah Papa nya.
🌹
🌹
🌹
Di tempat lain, Juwi baru saja sampai di rumah Papa angkat nya dan juga Tania. Dia segera masuk kedalam rumah mewah itu, dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum...."
Tapi tak ada yg menjawab salam Juwi. Dia pun berjalan ke arah dapur untuk memastikan, sebab rumah itu terlihat sepi.
Satu pelayan di sana tak sengaja menabrak tubuh Juwi, dan ternyata dia adalah Bi Murni.
"Non Juwi. Maaf Non, Bibi gak sengaja!" Ucap Bi Murni sambil menunduk.
"Gak Papa Bi. Bibi kenapa buru buru?"
Bi Murni baru ingat jika ia harus mengambil air minum untuk tuan nya.
"Maaf Non, Bibi buru buru! Tuan butuh minum." Ucap Bi Murni dengan panik
Juwi merasa heran dengan ekspresi panik Bi Murni. Kemudian dia pun mengikuti Bi Murni ke lantai atas, dimana kamar pak Hery berada.
Tas yg Juwi pegang seketika jatuh dari genggaman. Dia menatap pria paruh baya yg sudah ia anggap sebagai Papa nya sedang menahan sakit akibat jatuh dari ranjang.
__ADS_1
"Papa..." Panik Juwi sambil berlari membantu Papa Hery bersamaan dengan Bi Murni untuk naik ke atas kasur.
"Nak, kamu si sini?" Tanya lemah pak Hery
Juwi tak kuasa menahan air mata nya, dia segera membantu pak Hery meminun obat yg di berikan Bi Murni.
"Papa kenapa? Kita kerumah sakit ya!" Ajak Juwi sambil terisak.
Juwi dan Tania memang sudah di anggap anak oleh pak Hery. Mereka bagaikan anak kembar di mata pak Hery.
"Nggak, Nak! Papa baik baik saja."
"Nggak! Pokok nya Papa harus kerumah sakit, atau Juwi gak akan mau bicara sama Papa." Ancam Juwi lalu menyuruh Bi Murni agar supir menyiapkan mobil.
Pak Hery pun tak bisa menolak nya lagi. Rasa sakit di dada dan pinggang nya sudah tak bisa ia tahan, hingga saat Juwi dan supir nya memapah nya ke mobil Pak Hery hanya pasrah.
"Nak, tolong jangan beritahukan keadaan Papa sama Tania ya! Papa gak mau mengganggu bulan madu dia." Lirih Pak Hery dengan mata terpejam.
"Iya Pa." Jawab Juwi dengan isak tangis nya.
Dia begitu sedih saat melihat orang yg tidak ada ikatan darah dengan nya, namun begitu baik dan berjasa untuk nya.
"Pa! Papa harus sembuh. Juwi dan Tania akan sedih jika melihat Papa begini? Kenapa Papa gak mau ngabarin aku, jika Papa sakit?"
"Nak, kamu dan Tania sudah Papa anggap seperti anak Papa sendiri. Kelak, jika Papa sudah tidak ada! Harta Papa, untuk kalian."
Juwi menggeleng cepat. Mata nya terus mengalirkan air mata tanpa berhenti.
"Nggak! Papa gak boleh bicara begitu? Juwi gak suka. Pokok nya, Papa pasti sembuh."
Mobil pun sampai di rumah sakit, dan Pak Hery segera di bawa ke UGD untuk di tangani. Sementara itu Juwi menunggu di depan ruang UGD dengan Pak sopir, hatinya begitu cemas.
Dia ingin menghubungi Tania, namun Pak Hery melarang.
__ADS_1
"Ya Allah, selamatkan lah Papa!" Gumam Juwi
Bersambung......