
Happy Reading 😘😘
Juwi menggandeng tangan Tania menuruni tangga. Sedangkan Lian mendengus kesal sambil berjalan mengikuti dua wanita di depan nya.
'Gadis ini? Tania kan istriku! Harus nya aku yang menggandeng nya bukan dia?' Batin Lian dengan cemburu.
Mereka melangkah menuju ruang tamu, dimana semua orang tengah berkumpul. Saat mereka sampai di sana, langkah Tania terhenti saat melihat ketiga orang yang duduk di hadapan kedua mertua nya.
"Mereka..." Lirih Tania
Juwi yang melihat itu segera menggenggam tangan sahabat nya. Dia tersenyum dan mengangguk ke arah Tania.
"Tan, temui mereka! Ada aku di sini." Bisik Juwi di telinga Tania.
Huuufff
Tania membuang napas nya dengan pelan, dia mencoba menetralisir degup jantung nya yang sudah berdetak kencang.
Bahkan rasa sesak yang sudah seminggu ini hilang, saat ini kembali lagi. Dengan langkah pelan Tania mendekat ke arah kedua mertua nya.
Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan. Saat Tania berdiri di samping Mama mertuanya, tiba tiba Clara berdiri dan langsung memeluk tubuh Tania.
"Kakak! Clara kangen sama Kakak! Aku bersyukur akhirnya kita bisa bersama dan bertemu." Ucap Clara sambil memeluk Tania.
Tapi Tania hanya diam mematung tanpa membalas pelukan sang adik. Dia masih mencoba memahami semua nya.
"Kak, aku Clara adik Kakak?" Ujar Clara setelah melepaskan pelukan nya
Tania memaksakan tersenyum, dia masih belum percaya jika mereka adalah keluarga nya.
Lian yang melihat itu segera merangkul pundak sang istriistri, dan menggeser badan Juwi. Sedangkan yang di geser menatap tajam Lian dengan bibir monyong 10 senti.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Aku tahu mungkin kamu kaget melihat mereka ada di sini! Aku sengaja mengundang mereka, agar kamu dan keluarga kamu bertemu dan saling melepas rindu!" Jelas Lian.
Tania menatap suaminya dengan alis bertaut. "Mas, kan belum ada bukti jika mereka itu adalah orang tua ku?" Lirih Tania.
Pak Arya yg mendengar itu pun berdiri dan menyerahkan sebuah kertas putih pada Tania. Dengan tatapan ragu Tania melihat ke arah Lian. Dan Lian menganggukan kepala nya
Tania pun mengambil surat itu dan membuka nya dengan dada berdebar. Sedangkan Tante Amanda sudah menangis dalam diam. Dia ingin sekali memeluk tubuh Tania sedari tadi, tapi dia menahan nya.
Degh
Napas Tania seakan berhenti, jantung nya seakan tak lagi berdetak saat membaca tulisan dalam surat tersebut.
Air mata nya menetes tanpa bisa ia bendung. Kertas itu menyatakan jika Tania adalah anak mereka, kemudian Tania menoleh kearah Lian.
"Kapan aku tes DNA? Aku merasa tak pernah tes DNA mas?" Tanya Tania pada Lian.
Lian tersenyum lalu mengusap rambut Istrinya. "Maafkan aku sayang! Aku mengambil sempel rambut kamu, untuk melakukan tes DNA. Aku ingin bukti jika mereka benar orang tua kamu?" Jelas Lian dengan lembut.
Tania terlihat sangat syok, dia menatap tajam ke arah Lian. Dengan kasar Tania menepis tangan Lian di kepala nya.
Dia benar benar kecewa pada suaminya itu. Seharusnya Lian meminta izin dulu padanya jika mau melakukan hal besar seperti itu.
"Sayang, aku melakukan ini juga karena aku--"
"Cukup! Kamu itu harusnya paham aku seperti apa? Aku benar benar kecewa sama kamu Mas! Sangat kecewa."
Tania melempar kertas itu kesembarang arah, lalu berlari menaiki tangga ke kamar nya. Dia berlari dengan air mata yg sudah mengucur deras.
"Kan udah gw bilang! Lo itu harusnya izin dulu kanebo kering?" Ketus Juwi sambil. Menyusul sahabat nya itu.
Ckelek
__ADS_1
Tania menutup pintu kamar nya dan menguncinya, badan nya bersender di pinggir ranjang. Dia sangat syok dengan dua kenyataan. Dimana mereka benar orang tua nya, dan juga kelancangan Lian yg mengambil rambut nya tanpa izin.
Bukan Tania tak bahagia bisa mengetahui siapa keluarga nya. Tapi setiap melihat wajah kedua orang tua nya dada Tania semakin sesak.
Tok
Tok
Tok
"Tan, buka pintunya! Ini gw Juwi Tan. Biarin gw masuk!"
Tania yang mendengar itu dengan gontai berdiri dan melangkah membuka pintu. Setelah Juwi masuk Tania langsung menghambur memeluk tubuh sahabat nya itu.
Saat ini hanya Juwi lah sandaran nya.
"Gw tahu apa yang Lo rasakan saat ini?" Ucap Juwi sambil mengusap punggung sahabat nya itu..
Juwi merasakan tubuh Tania bergetar karena tangis nya.
"Tan, sesakit apapun itu! Lo harus bisa Terima kehadiran mereka? Bukan nya selama ini Lo mau tahu siapa keluarga kandung Lo? Harusnya Lo senang dong, karena bisa bertemu mereka? Apalagi ternyata Lo itu punya adik cantik?" Ujar Juwi
Tania menghapus air mata nya, tatapan nya menerawang jauh. Seakan memutar memori dimana ia besar dengan seluruh penderitaan yang dia alami.
"Kemana mereka? Kenapa bisa aku di buang? Jika aku di culik, kenapa mereka tak melapor polisi? Apa harus selama 24 tahun baru bertemu? Jika mungkin mereka tak melihat tanda lahir ku, apa mereka akan mengetahui jika itu aku?"
Juwi menggenggam tangan Tania.
"Tan, Gw mau lihat Lo bahagia? Sekarang, keluarga Lo sudah di depan mata! Apa Lo gak mau memeluk mereka? Gw tahu, ini gak mudah buat Lo? Gw tahu, jika Lo butuh waktu! Tapi, apa Lo gak mau peluk orang tua Lo? Kehangatan Ayah dan Ibu yang selalu Lo rindukan?" Tanya Juwi.
Tania menatap sahabat nya itu, yang di katakan Juwi memang ada benar nya.
__ADS_1
'Juwi benar, aku sudah merindukan mereka selama ini!' Batin Tania
Bersambung.......