
"tidak boleh" ucap nya dengan santai.
Siska merengut kesal. karena di larang untuk mengendarai dan membawa mobil sendiri"mas aku kan udah izin udah jadi istri yang baik, kenapa aku gak di izinin buat beli mobil ? " tanya nya dengan bibir di majukan.
"kalau saya bilang tidak boleh, ya tidak boleh Siska!" Devan menatap Siska dengan tajam. "lagian untuk apa bawa mobil segala emang kamu mau pergi kemana nanti saya kasih mobil kamu keenakan terus kabur lagi " ucapnya sambil menatap Siska penuh selidik.
"mas, kamu ngerti gak sih kalau punya istri masih muda usia ku itu baru 19 tahun harus nya aku sekarang masuk kuliah eh malah di nikahin sama es balok kaya kamu" ucapnya dengan berani. Devan menatap Siska dia masih tidak percaya kalau istri kecilnya berani dengan dirinya.sangat berbeda dengan istri istri nya yang dulu mereka lebih ke cari perhatian Devan sampai membuat Devan muak. tapi siksa dia sama sekali tidak memperlihatkan sisi feminim nya.
"jadi kamu mau kuliah?" tanya nya dengan serius.
"ya aku mau kuliah, dengan ataupun tanpa izin dari kamu, aku itu punya cita cita mas, mau jadi spesialis kandungan. tapi kamu memupus semua cita citaku " ucapnya dengan menatap tajam kearah Devan yang juga tengah menatap nya.
" nanti saya pikirkan, sekarang makan sarapan mu!" Devan langsung berdiri dan melangkah ke arah pintu samping.
"punya suami, dingin nya gak ketulungan untung aku gak beku duluan" gerutunya.
selesai sarapan Siska membereskan bekas dia dan juga devan, membawanya ke dapur untuk di cuci. " nyonya tunggu, kenapa anda yang mencuci piring sini biar saya aja yang cuci" salah satu pelayan menggantikan Siska mencuci piring dan gelas kotor.
"bibi nama nya siapa" tanya Siska sopan. meskipun dia seorang nyonya di rumah itu tapi Siska tak mau tinggi hati dengan merendahkan status pelayan di rumah ini, apalagi pelayan nya sudah tua.
"panggil saja saya mbok yati nyonya" ucapnya dengan ramah.
"oh baik mbok yati, mbok punya anak berapa?" tanya nya mulai kepo.
"punya dua nyonya, yang sulung namanya Reno dia sekarang sedang sekolah di Amerika, tuan Devan yang biayain sekolah nya reno, yang kedua lastri. itu pelayan pribadi anda nyonya itu anak nya simbok" ucanya sambil terus mencuci wadah.
Siska manggut manggut mengerti. "ya udah mbok Siska pergi ke kamar dulu yah, makasih udah mau ngobrol sama Siska" ucapnya lembut.
"gak usah sungkan sama simbok nyonya"
Siska berjalan ke arah tangga di lihatnya suaminya tengah berbincang dengan Marco ingin mendekat tapi takut ganggu, akhirnya Siska pun melanjutkan langkah nya untuk masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"jadi gimana menurut anda tuan, mau di apakan penyusup itu ?" tanya Marco.
"nanti saya mau ke markas untuk melihat siapa penyusup itu" ucapnya sambil menyesap teh hangat nya.
Devan masih kepikiran dengan keinginan istrinya yang ingin kuliah, Devan sangat ingin membuat Siska tidak betah di rumah ini dan mengajukan perceraian tapi hatinya gak bisa, entah apa yang terjadi dengan dirinya.
"tuan kenapa anda melamun? " tanya Marco yang melihat tuan nya bengong dengan tatapan kosong.
"e hem gak apa, hanya sedang kepikiran dengan Siska dia ingin melanjutkan sekolah nya tapi saya belum kasih keputusan yang pasti bagaimana menurutmu? "
"menurut saya mending di izin kan saja tuan, kalau nyonya terus di kekang di suruh diam di rumah dia tidak akan betah dan nanti malah berniat untuk kabur lagi" ucapnya. Devan pun memikirkan apa yang Marco ucapkan benar juga yang di katakan Marco. usia siska masih terlalu muda untuk berumah tangga pikiran nya juga masih terlalu labil.
"nanti saya pikirkan lagi apa langkah yang harus saya ambil"
"tuan anda tidak ada niat untuk menceraikan nyonya Siska? " tanya nya penasaran. Devan menggelengkan kepalanya, "gak tau, momy sangat menyayangi Siska akan sangat sulit untuk membuat Siska menjauh dariku. apalagi memintanya mengugat cerai setelah 6 bulan menikah. Siska itu sangat berbeda dengan istri istriku yang lain, dia berani tampil apa adanya, dia juga mencari perhatian ku"
Marco sekuat tenaga menahan tawanya, tuannya memang suka curhat tentang bagai mana istri istrinya yang dulu, tapi baru kali ini tuan Devan curhat dengan panjang kali lebar.
selesai mengganti pakaian nya Devan langsung keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah di sana Marco sudah menunggunya. melihat tuan nya keluar Marco langsung berdiri dan membuka kan pintu mobil bagian belakang. setelah tuannya masuk dia pun ikut masuk dan duduk di kursi kemudi Marco pun tancap gas dan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota.
ponsel Devan berdering di lihat nya nama jesica yang terpampang di layar ponsel nya.
"hallo, yes baby"
"honey, aku akan pulang ke Jakarta dalam 2 minggu lagi nanti kamu bisa jemput aku kan di bandara? " tanya nya dengan manja.
"bisa di atur, btw kenapa di percepat honey urusan nya sudah selesai? " .
"sudah baby, hanya tinggal beberapa lagi, jadi aku bisa pulang dan ketemu kamu 2 minggu lagi" ucapnya dengan ceria.
"ya sudah baby nanti aku jemput kamu bandara, sudah dulu yah aku lagi di jalan mau ke kantor" ucapnya berbohong.
__ADS_1
"oke honey, sampai jumpa 2 minggu lahi, I LOVE YOU "
"I LOVE YOU TOO BABY" panggilan pun di matikan Devan kembali pokus kembali dengan ponsel nya mengecek satu persatu email yang masuk kedalam ponselnya.
2 setengah jam kemudian mereka pun sampai di markas Devan turun dari mobil dan langsung di sambut oleh para anak buah nya.
"selamat datang kembali ke markas tuan, lama anda tidak kesini" ucap salah satu anak buahnya.
"hemm, saya lagi sibuk" ucapnya "dimana dia? " Marco yang mengerti pun langsung menyuruh Baron untuk membawa mereka menemui seorang tawanan.
dugghh
pintu di tendang dengan keras oleh Devan sampai membuat orang yang ada di dalam terkejut dan ketakutan.
"ampun, ampuni saya tuan jangan siksa saya lagi. ampun " ucapnya dengan gemetar.
"Baron nyalakan lampu"! titahnya dengan suara dingin. terlihat pemuda di hadapannya sudah sangat kacau dengan wajah yang sudah membiru bekas pukulan anak buah Devan.
Devan mendekat ke arah pemuda itu dengan seringai iblis nya.
"kamu tau, kalau sudah berurusan dengan kita konsekuensi nya bagaimana kan, terus kenapa masih nekad melangkah?" tanya Devan pelan tapi sangat menusuk.
hawa dingin, pengap dan bau yang tidak enak menambah suasana menjadi lebih menyeramkan untuk laki-laki yang tengah terikat kaki juga tangannya.
"ampun tuan, tolong ampuni saya" ucapnya lagi.
"siapa yang menyuruh mu untuk datang ke markas saya hah? " bentak nya sambil menendang kuat kursi yang di duduki oleh pemuda itu, sampai membuat pemuda itu terjungkal.
"ti-tidak ada yang menyuruh saya tuan!" ucap nya dengan lemah.
plakkk satu tamparan mendarat mulus di pipi pemuda itu.
__ADS_1
"katakan siapa yang menyuruh mu?" bentak devan dengan penuh emosi.