Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 52


__ADS_3

"sayang, kamu kenapa celingak celinguk gitu? tanya Devan yang baru masuk kedalam kamar.


" kamu dari mana mas?


"habis ngobrol dengan marco di ruang kerja, ada apa?


" gak ada apa apa, mas aku kangen papa kapan kita bisa lihat papa?"


"tadi dokter bilang kan kalau papa belum bisa di lihat, karena kondisinya yang belum pulih membuat dokter harus membatasi orang yang akan melihat papa untuk sekarang kita serahkan semuanya pada petugas medis oke" Siska mengangguk patuh, dia pun duduk di sopa menghadap ke arah luar sambil menatap langit yang mulai berubah warna seiringan berubahnya waktu dari siang menuju malam.


Devan berjalan mendekat, "bagaimana tadi rujaknya enak? tanyanya mengalihkan perhatian siska.


" enak mas" ucapnya tak bersemangat.


"sayang, itu kamu masih sakit gak ?" mendengar pertanyaan Devan siska segera berbalik dan menatap suaminya dengan tatapan horor sampai membuat bulu kuduk Devan merinding.


"kenapa mau minta jatah lagi,? Devan mengangguk " apa boleh?" Siska menggelengkan kepalanya, "masih sakit mas" ucapnya. Devan tersenyum mesum ke arah Siska.


"mas ih, masih ngilu tau" ucapnya takut. Devan tertawa melihat expresi istrinya. siska mencubit gemas perut kotak kotak Devan.


*****


"bagaimana prof apa ada penawar racun untuk papa saya?" tanya nya tak sabar.


"ini racun yang di berikan racun yang sangat langka juga berbahaya, saya membutuhkan waktu beberapa hari untuk meracik ramuan nya"

__ADS_1


"tolong usahakan yang terbaik untuk papa saya prof" Professor Ricardo mengangguk.


"sudah tugas saya, saya akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan tuan bagas." siska tersenyum mendengar ucapkan Profesor Ricardo, setidaknya masih ada harapan. pikirnya.


"jika anda membutuhkan bantuan saya jangan sungkan untuk berbicara ya prof saya bersedia membantu Anda untuk menyembuhkan papa saya"


"baiklah nanti saya akan minta tolong pada anda jika di perlukan". Siska juga Devan pamit keluar dari dalam ruangan dokter Hermawan, dokter yang menangani papanya.


" sayang mas mau ke toilet sebentar, tunggu di sana yah jangan kemana mana"


"iya mas" saat siska akan mendudukan dirinya Siska melihat orang yang sangat di kenal nya juga sangat ia rindukan. "kakak " ucapnya pelan.


Siska melangkahkan kakinya untuk menghampiri Dimas yang sedang berbicara bersama seorang suster "kakak, " panggilnya saat sudah berada di dekat Dimas. Dimas membalikan tubuhnya dan melihat ke arah siska dengan tatapan tajam juga dingin.


"apa kaka ingin melihat papa?" Dimas hanya mengangguk.


Siska mengekor di belakang Dimas menuju ruang perawatan papa mereka, tapi Dimas juga Siska hanya di perbolehkan untuk melihat dari balik pintu kaca tidak di perbolehkan untuk masuk kedalam dan bertemu secara langsung dengan pak bagas.


Dimas menghela nafas lalu menatap Siska "apa ini semua ulah mu?" tanya nya dengan dingin.


"maksud kakak apa?" Siska mengerutkan kening nya tak mengerti dengan yang di tuduhkan kakak nya.


"karena dari dulu kau lah yang selalu berbuat ulah " ucapnya.


"kenapa kakak malah menuduhku, kenapa kakak selalu memusuhi ku, kenapa kakak gak pernah bisa menerima ku, apa salahku sama kakak, aku gak pernah marah sama kakak meskipun kakak memperlakukan dengan dingin, dan tak pernah mau berbicara dengan ku, aku tak pernah marah kak, tapi kenapa kakak melihatku itu seakan akan seperti melihat musuh yang sangat mengancam keselamatan kakak"

__ADS_1


"ya memang saya menjauhi mu karena saya tidak mau terkena sial, dari dulu kau itu anak pembawa sial, dulu mama meninggal karena ingin menyelamatkan mu, dan sekarang papa terbaring dengan begitu mengenaskan sudah pasti karena ulah mu, jangan tanyakan lagi padaku kenapa saya begitu membencimu, itu semua karena kamu anak pembawa petaka dalam keluarga saya" bagai di sambar petir di siang bolong hati Siska begitu sakit mendengar ucapan kakaknya. tanpa terasa air matanya sudah menetes membasahi pipi mulusnya.


"kata papa dulu mama meninggal karena sakit, bukan seperti yang kakak katakan, itu semua bohongkan apa yang kakak ucapkan itu semua bohongkan " ucapnya dengan suara serak menahan supaya tangisnya jangan sampai pecah.


"semua yang di katakan papa itu dusta, papa menutupi semua nya, mama dulu meninggal karena ingin menyelamatkan mu saat ada orang yang dengan sengaja ingin menabrak mu, aku dulu berharap kamu yang mati buka mama" ucapnya dengan kejam. Rahasia yang selama ini selalu tersimpan rapat karena sang papa yang selalu melarang nya untuk memberi tahu Siska, sekarang semua nya dia bongkar tak peduli lagi perjanjian dengan sang papa.


Tubuh Siska luruh ke lantai, hati nya hancur sehancur hancur nya, ternyata papanya menyimpan rahasia ini selama hampir 20 tahun lamanya " sekarang aku tau apa alasan kakak tidak pernah mau dekat dengan ku karena aku ini anak pembawa sial? Dimas yang melihat siska terduduk di lantai dengan tatapan mata kosong hanya acuh, dan kemudian dia melangkah pergi menjauh dari tempat itu.


"sayang kenapa duduk di sini, kamu kenapa? Devan yang baru kembali dari toilet pun di buat panik saat melihat istrinya terduduk di lantai dengan air mata yang terus mengucur deras dari matanya.


Siska langsung melesak masuk kedalam dekapan suaminya dan menumpahkan kesedihan nya di dada Devan. Devan yang melihat istrinya sedang dalam keadaan tidak baik itupun segera membawa Siska untuk duduk di bangku rumah sakit. Dia membiarkan Siska untuk menumpahkan semua rasa yang sedang mengganjal dalam hatinya sampai istrinya itu tenang dengan sendirinya.


"sayang" Devan mengusap dengan lembut punggung Siska, tak mendengar lagi isakan istrinya Devan segera menyentuh pipi istrinya. sadar tak ada respon dari siska Devan pun menjadi panik. "sayang bangun lah, ya Tuhan" ucapnya dengan panik. Devan segera menggendong siska dan membawanya ke IGD "dokter tolong istri saya pingsan "


dengan cekatan dokter juga suster itupun melakukan pemeriksaan pada siska. "tenang lah tuan, istri anda baik baik saja, hanya kelelahan" Devan menghembuskan nafas lega mengetahui istrinya baik baik saja.


"Terima kasih dokter" setelah selesai memeriksa keadaan siska, dokter itupun pamit untuk memeriksa pasien nya yang lain.


"mas," panggilnya dengan suara lemah.


"sayang kamu sudah sadar, apa ada yang sakit perlu mas panggil kan dokter lagi?" Siska menggeleng. kepala nya terasa berdenyut nyeri dan penglihatannya berkunang kunang.


"sebenarnya apa yang terjadi saat mas gak ada, kenapa kamu sampai duduk di lantai dan menangis hemm? tanya nya dengan lembut.


" aku mau minum mas, haus" Devan segera mengambilkan air minum dan membantu siska untuk duduk.

__ADS_1


"sudah lebih nyaman" siska mengangguk. namun tatapan matanya masih kosong.


__ADS_2