Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 78


__ADS_3

Tengah malam nya Siska terbangun, dia melihat ke arah samping terlihat suaminya sudah tertidur, terdengar suara dengkuran halus Siska pun bangun dan menggoyangkan lengan suaminya.


"sayang, mas Martabak aku mana?" tanya nya dengan suara pelan.


"hemmmm"


"ish, mas martabak aku mana? Devan membuka matanya dan mulai mengumpulkan sisa sisa nyawanya yang tadi lagi berpencar.


" kenapa sayang? tanya nya seperti orang Linglung.


"martabak yang aku pesan tadi mana mas? Siska mulai jengkel, semenjak hamil memang mood nya selalu berantakan kadang manis seperti ibu peri tapi terkadang berubah menjadi singa betina.


" ada di atas meja sana sebentar mas ambil kan dulu " dengan cepat Devan turun dari ranjang dan mengambil martabak pesanan istrinya setelah membuka dan meletakan nya di atas piring Devan membawa martabak itu ke hadapan Siska.


"ini momy twins, silahkan di nikmati " Devan menyodorkan sepiring martabak polos tanpa toping itu ke hadapan Siska dengan tersenyum, namun ternyata expetasi Devan terlalu tinggi.


"ah ko gini sih, gak menarik tampilan nya gak mau ah mas, kamu aja yang makan aku mau tidur lagi " Devan hanya melongo menatap sang istri yang malah kembali memakai selimut nya dan tidur dengan lelap.


"Astaga begini banget punya istri lagi ngidam" Devan mengusap wajah nya dengan kasar, dia pun mengambil sepotong martabak dan memakan nya rasanya cukup enak hanya kurang pas saja rasanya karena gak pake toping apapun.


Setelah menyimpan martabak itu di bok nya kembali, Devan menghampiri Siska yang sudah bergelung di bawah selimut.


"mas, ngadep sini kenapa aku pengen di peluk" ucapnya manja dengan mata tertutup.


"iya sayang"


****


"hueekkkk, huekkkkk" Siska terus memuntahkan isi dalam perut nya sampai tubuhnya terasa lemas.

__ADS_1


"sayang" Devan yang mendengar istrinya terus muntah muntah pun loncat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi, dia usap dan pijat tengkuk istrinya.


"mas, aw- hueeekkk"


"kenapa, apa ada yang sakit? tanya nya dengan cemas.


" awas mas, badan kamu ko bau sih, kamu kemarin gak mandi ya, hueekkk" Devan mencium bau badannya, dia juga mencium ketiak nya masih wangi seperti biasanya, sepertinya hidung istriku mulai koslet gara gara terus


terusan muntah pikirnya.


"mas ih, awas minggir bau tau biar aku sendiri aja jangan pegang pegang" Siska berjalan dengan sempoyongan menuju ke arah ranjang nya. sementara Devan menggaruk kepalanya yang tak gatal bingung dengan sikap istrinya akhir akhir ini tapi dia harus bisa memaklumi sesuai dengan apa yang mami nya pesankan dia harus banyak extra sabar menghadapi ibu hamil.


," tadi malam dia masih minta peluk tapi sekarang di usir usir" batinnya menjerit.


"sayang apa kamu mau di buatin minuman hangat" tawarnya tanpa mendekat ke arah Siska.


Devan segera keluar dari dalam kamar mereka lalu turun ke lantai bawah dan menemui mbok yati yang tengah membuat sarapan di dapur.


"pagi mbok, mbok bisa minta tolong buatkan minuman hangat jahe madu yang biasa, Siska mual mual lagi"


"baik tuan, sebentar mbok buat kan dulu ya" mbok yati dengan cekatan membuatkan minuman untuk majikan yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu sementara Devan dia menunggu duduk di kursi meja makan.


"ini tuan, sudah selesai mau mbok yang antar saja apa bagaimana?" tanya nya.


"saya bawa sendiri aja mbok, makasih ya mbok nanti sarapan siska di bawa naik ke atas saja ya mbok takutnya Siska masih lemas kalau harus turun ke bawah"


"baik tuan" Devan berlalu meninggalkan dapur dan membiarkan mbok yati menyelesaikan tugas memasaknya dengan di bantu oleh beberapa pelayan yang lain.


Devan membuka pintu kamar di lihatnya Siska tengah membaringkan tubuhnya, dia berjalan mendekat ke arah istrinya yang terlihat memejamkan matanya.

__ADS_1


"sayang, ini minum nya di minum dulu biar perut nya enakan" Siska membuka matanya setelah merasakan ada yang menyentuh lembut kulit wajahnya.


"makasih ya mas, tapi badan kamu masih bau mandi dulu gih," ucapnya tanpa beban. Devan hanya menghela nafasnya kemudian berlalu meninggalkan Siska yang meminum jahe madu buatan mbok yati.


selesai membersihkan tubuh nya Devan keluar dan mencari bajunya sendiri, Devan yang biasa serba bergantung dengan pelayan sekarang perlahan lahan mulai mengerjakan pekerjaan itu sendiri entah kenapa setelah menikah dengan Siska begitu banyak hal yang berubah dari seorang Devan.


"sayang nanti mbok yati akan bawakan makanan ke sini kamu jangan dulu pergi ke luar kamar, diam saja di sini istirahat yang cukup," ucapnya sambil melingkarkan jam tangan mewahnya.


"kalau aku bosan bagaimana mas, masa aku di kurung di dalam kamar terus bisa jadi jombi aku, ke mayat hidup " ucapnya kesal.


"sudah nurut sama mas, mas berangkat kerja dulu ada beberapa meeting penting hari ini kemungkinan mas akan pulang agak larut malam, jaga diri baik baik di rumah juga jaga anak anak kita ini" Devan mengelus perut Siska kemudian menciumnya.


"mas, jangan terlalu sibuk aku gak mau kamu jatuh sakit apalagi kita baru beberapa hari pulang dari Amerika kamu masih cape"


"maafin mas ya sayang, beberapa bulan ke depan mas akan sedikit sibuk, dan kurang ada waktu buat kamu itu semua mas lakukan agar nanti mas bisa cuti lebih panjang mas ingin setelah kehamilan kamu menginjak 9 bulan mas sudah gak kerja ke kantor lagi dan stand by di rumah untuk menyambut baby twins kita"


Siska menghembuskan kasar nafasnya, "hmmm baiklah jaga kesehatan mas, jangan sampai kamu telat makan,"


"iya istriku" Devan mengecup singkat kening juga bibir istrinya kemudian keluar dari dalam kamar untuk sarapan sebentar sambil menunggu Marco menjemputnya.


"mbok tolong nanti sediakan apapun yang Siska butuhkan, dan berikan apapun yang dia mau selagi itu tidak bahaya, tolong temani juga dia karena saya akan pulang agak telat hari ini " pesannnya pada mbok yati. mbok yati pun mengangguk mendengar kan setiap pesan yang di ucapkan oleh tuan nya.


"tuan mobil sudah siap" Marco datang memberi tahu kan Devan kalau mobil mereka sudah siap untuk di pakai, Devan yang baru selesai sarapan pun langsung bangkit dan berjalan lebih dulu di susul Marco di belakang nya.


"minggu minggu ini acara anda akan sangat padat tuan, tidak ada waktu yang longgar, apa tidak masalah dengan nyonya?" Marco membuka percakapan saat mereka sudah duduk dengan tenang di dalam mobil.


"hemmmm baiklah saya sudah tau, karena memang saya yang menginginkan ini, kapan jadwal kita akan melihat proyek yang di Kalimantan? tanya nya.


" kira kira minggu depan tuan"

__ADS_1


__ADS_2