
"sayang, papa tinggal pulang dulu yah nak jangan rewel biar mama bisa istirahat" ucapnya. Arumi tersenyum melihat anak juga suaminya.
"istirahat yah nanti mas kesini lagi, kamu mau di bawain apa nanti?" tanya nya.
"tidak usah bawa apa apa mas,"
"ya sudah mas pamit yah" bagas mengecup kening Arumi dan berjalan keluar ruangan.
"bi tolong jaga anak juga istri saya" pintanya.
"baik tuan"
Bagas berjalan keluar ruangan lalu memasuki lift untuk turun ke lantai dasar, melihat suaminya lewat Kania langsung berbalik badan pura pura membuang sampah. Setelah di rasa aman Kania berjalan ke arah ruang rawat Arumi untuk menemui madunya itu.
tok
tok
tok
seorang pelayan membuka kan pintu, Kania pun tersenyum ke arah pelayan di hadapan nya.
"pagi bi, boleh saya bertemu Arumi? pelayan itu menyisir penampilan kania dari atas sampai bawah. setelah di rasa tidak ada yang mencurigakan barulah pelayan itu mempersilahkan Kania untuk masuk.
" silahkan masuk nyonya " Kania masuk kedalam ruang rawat itu dengan membawa buah tangan berupa parcel buah.
"selamat pagi " sapanya. Arumi yang tengah menyusui bayinya pun mendongkak melihat siapa orang yang datang.
"pagi, mba siapa yah?" tanya nya ramah.
__ADS_1
"saya Kania, istri pertama mas Bagas" wajah Arumi langsung memucat mendengar ucapan wanita cantik di hadapannya.
"m-mba ka-kania " ucapnya gugup.
"hey, jangan takut saya gak akan gigit kamu " ucapnya terkekeh pelan. Kania menyimpan buah tangannya di atas meja dekat sopa, lalu berjalan menghampiri Arumi yang terlihat mematung dengan wajah pucat seperti orang ketakutan.
"Arumi kamu gak usah takut sama saya, saya gak akan apa apain kamu ko, saya hanya ingin melihatmu dengan anak saya, dia anak saya juga bukan? ucapnya dengan senyuman yang mengembang, semalam Kania terus berpikir dan introspeksi diri, dia berusaha menerima semua nya dengan lapang dada apa yang di harapkan suaminya dari istri penyakitan seperti dia, Kania sudah pasrah, kecil harapan dia untuk sembuh, dan kalau pun sembuh Kania sudah tidak sempurna dia sudah tidak memiliki rahim juga tidak bisa melayani kebutuhan biologis suaminya, maka dari itu dia berusaha melapangkan dadanya, berusaha menerima keadaan yang sebenarnya sangat sulit untuk dia Terima.
"mba gak marah sama saya, saya minta maaf mba saya tau saya salah, saya _" Kania langsung menyentuh lembut punggung tangan Arumi yang terasa dingin untuk menghentikan bicaranya.
"saya tau Arumi, saya sudah menerima nya dengan lapang dada, kamu tau saya ini sakit Arumi saya tidak bisa membahagiakan mas bagas, saya tidak bisa melayani hasratnya, dan saya sangat bersyukur dengan adanya kamu suami saya bisa selamat, memang Arumi saya gak bisa bohong rasanya sakit. tapi saya berusaha ikhlas supaya tidak ada rasa benci ataupun dendam dalam hati saya untuk siapapun " ucapnya sambil menatap lekat wajah Arumi.
"makasih mba,dan maaf untuk semuanya" Kania memeluk dengan erat tubuh mungil Arumi yang sekatan mulai terisak dalam pelukanya.
"sudah yah, kamu jangan nangis kasian bayi kamu nanti, siapa nama bayi cantik ini?" tanya nya sambil menyentuh gemas bayi mungil yang tertidur di samping ibunya.
"wah nama yang cantik, hallo sayang" Arumi menatap lekat istri pertama suaminya, begitu sempurna, dan hebat, Kania yang mampu menerima nya dalam keluarganya, padahal dia sudah menjadi orang ketiga dan hampir saja merusak rumah tangga mereka.
"Arumi apa saya boleh tau rumah kamu, nanti saya mau main dengan anak perempuan ku" ucapnya dengan senyum yang terus mengembang di wajah cantiknya. meskipun wajahnya terlihat pucat dengan rambut yang menipis tapi hal itu tidak mengurangi kadar kecantikan seorang Kania.
"boleh mba, rumah kami akan selalu terbuka untuk siapapun"
"Arumi saya sudah terlalu lama di sini, saya pulang dulu yah" ucapnya. arumi pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"kamu segera sehat agar segera pulang nanti mba akan sering main ke sana"
"iya mba makasih ya mba sudah mau meluangkan waktunya untuk menemui saya disini" Kania memeluk sekilas Arumi dan keluar dari dalam ruang perawatan Arumi.
saat Kania sampai di loby, tepat sekali dengan kedatangan suaminya yang baru masuk kedalam mereka pun berpapasan "mama" ucapnya. Bagas segera menghampiri istrinya yang diam mematung Bagas memeluk dengan erat raga istrinya yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
__ADS_1
"kenapa mama di sini? papa tadi cari mama di rumah gak ada, ternyata di sini" ucapnya khawatir.
"mama abis menemui Arumi" ucapnya pelan. Bagas langsung mematung degub jantung nya seakan seperti baru selesai lomba maraton.
"papa, mama mau bicara sama papa kita keluar yuk" ajaknya, Bagas pun mengangguk menggandeng tangan istrinya keluar dari loby dan masuk kedalam mobil. sengaja bagas tidak membawa supir dan menyuruh supir Kania untuk pulang lebih dulu agar privasi keduanya terjaga karena akan banyak yang di bicarakan.
"kita mau ke cafe apa ke taman mah?" tanya nya.
"kita ke taman yang ada kolam besarnya pah, tempat kita dulu sebelum punya dimas" ucapnya.
Bagas pun melajukan mobilnya ke tempat yang istrinya ingin kan. sampai di sana Kania turun dan berjalan ke arah bangku yang menghadap langsung pada kolam buatan di tengah kota itu.
keduanya masih duduk dalam diam belum ada yang mau memulai percakapan. "pah, kenapa papa sembunyiin ini dari mama?" Karena bagas tak juga memulai percakapan akhirnya Kania pun memulainya dia yang bertanya lebih dulu.
"maafkan papa mah, ini salah papa yang gak bisa jaga mata juga hati papa, maafkan papa karena sudah menghianati rumah tangga kita mah" ucapnya sambil menatap wajah istrinya yang terlibat tenang, sudah tidak ada tanda tanda kesedihan di sana.
"jujur mama sakit pah, sakit sekali. bukan masalah papa menikah lagi, karena waktu itu mama juga sudah minta papa untuk mencari wanita lain bukan, tapi mama sakit karena kebohongan papa, kenapa papa harus menutupi semuanya?" tanya nya.
"maafkan papa mah, papa hanya tidak mau membuat mama kepikiran apalagi mama tengah menjalani pengobatan, sebetulnya papa sudah ada rencana mau jujur terhadap mama, tapi papa menunggu waktu yang tepat" ucapnya.
Kania menunduk lalu mendongkak menatap langit yang terlihat sedikit mendung dia pun menghela nafasnya. "pah kalau saja papa jujur dari awal mungkin hati mama tidak akan sesakit sekarang, tapi semua sudah terjadi, mama juga tidak bisa marah dengan papa atau pun arumi, mama sudah ikhlas menerima semuanya"
Bagas menatap wajah Kania yang juga tengah menatap ke arahnya. "mama serius, kalau mama mau hukum papa, hukum lah mah, kalau mama mau marahin papa, marah lah mah" Kania menyentuh lembut wajah suaminya sambil tersenyum.
"tidak ada gunanya pah, apa dengan mama menghukum papa, atau memarahi papa semuanya akan kembali normal, jelas tidak. papa tau semalaman mama merenung memikirkan semua nya jalan apa yang harus mama ambil, mama sadar mama introspeksi diri kalau mama sudah tak sempurna mama gak bisa bahagiain papa, mama juga gak tau usia mama bisa bertahan sampai kapan, mama seneng kalau papa sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikan mama nanti, mama lihat sepertinya arumi orang yang baik"
"mama tetap wanita yang sempurna di mata papa, papa sayang dan cinta sama mama, maafkan papa yang sudah menghianati mama" Kania menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Merasakan istrinya yang melemah Bagas menyentuh tangan Kania yang sudah dingin.
"ya Tuhan, ma"
__ADS_1