
"kak Dimas " Siska memanggil kakaknya sambil berjalan menyusul Dimas ke dalam restoran.
"mau kemana? Devan menarik lengan Siska.
" mau kejar kak Dimas, tadi dia masuk sama cewek, aku seperti nya kenal cewek itu mas, aku mau pastiin" Devan pun mengikuti Siska yang masuk lebih dulu ke dalam restoran, Siska mengedarkan pandangannya mencari sosok kakak nya namun tak ada Dimas di sana.
"kemana perginya kak Dimas?" Siska masih terus melihat ke setiap penjuru restoran itu, namun nihil kakak nya gak ada di sana.
"kamu salah lihat kali sayang" Siska menggelengkan kepalanya.
"enggak mungkin mas, aku tadi lihat betul itu kak Dimas, gak mungkin aku salah lihat "
"tapi sekarang mana, kak Dimas nya gak ada."
Siska pun pasrah dia keluar lagi dari dalam restoran dan masuk kedalam mobil setelah Devan membuka kan pintu untuknya. Siska yakin kalau dirinya tadi gak salah lihat, itu bener kakaknya.
melihat istrinya hanya terdiam sambil merenung, Devan menyentuh dengan lembut punggung tangan istrinya dan menggengam nya dengan erat "kenapa sih merenung terus?" tanya nya. memecahkan kesunyian.
"mas, aku sangat yakin kalau tadi itu beneran kak Dimas, dia jalan sama tante tente, aku gak salah lihat" ucapnya.
"memang nya kenapa kalau itu kak Dimas, dan berjalan dengan seorang wanita?"
"yang aku takut kan itu wanita yang menemui ku waktu kita di bali mas," Siska yang keceplosan langsung menutup rapat mulutnya.
"maksud kamu apa?" tanya nya penasaran.
"ah sudah lah, gak penting". Siska memalingkan wajahnya, Devan pun tak ingin memaksa istrinya untuk bercerita. sampai di kediaman nya Devan segera membuka kan pintu untuk istrinya.
" bibi kita sudah makan, makanan nya di beresin saja yah" mbok yati mengangguk dia pun segera membereskan makanan yang belum tersentuh sama sekali.
sampai di kamar Siska langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, "mandi dulu sayang baru rebahan"
"nanti dulu mas, aku lagi mager ini" ucapnya. tak ingin berdebat dengan istrinya Devan menghampiri Siska dan menggendongnya membawanya masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
" mas ih, aku lagi mager"
"iya tau, makannya mas gendong kamu biar kamu gak usah gerak" Devan menurun kan Siska dan segera menyalakan keran air untuk mengisi bathup. Setelah bathup terisi penuh Siska pun membuka bajunya dan masuk kedalam air hangat yang sudah suaminya siapkan.
Devan pun ikut membuka pakaian dan masuk kedalam bathup "eh, ngapain ikut masuk?" tanyanya.
"kita mandi bareng sayang" ucapnya.
Siska pun terdiam dan membiarkan Devan mandi bersama nya, meskipun mandi yang seharusnya hanya 30 menit akan memerlukan waktu lebih lama menjadi 1 jam kalau sudah mandi dengan suaminya.
***
"Mas, ayo dong kita mau berangkat kapan?" tanya nya tak sabaran, Devan yang tengah memakai bajunya pun mempercepat menata rambut dan memakai parfum favorit nya.
"iya sayang, ayo kita berangkat" ucapnya sambil memakai jam tangan nya.
Di depan rumah Marco sudah berdiri tegak di samping mobil yang akan membawa mereka untuk menjemput papa siska di rumah sakit, "silahkan tuan, nyonya" Marco membukakan pintu untuk kedua majikan nya.
Siska juga Devan pun masuk kedalam mobil nya, setelah mereka masuk Marco pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah sampai di lantai tempat papanya di rawat Siska keluar dari dalam lift dan berjalan ke ruang rawat pak bagas. mendengar pintu terbuka pak bagas pun menoleh sambil tersenyum.
"wah, papa sudah siap ternyata " tutur Siska yang langsung memeluk papanya.
"papa sudah siap dari tadi " ucapnya.
"maaf ya pah lama nunggu tadi mas Devan lama bersiap nya"
"eh enggak ko pah," ucap Devan tak enak hati.
"sudah, sudah, kita pulang sekarang yah papa sudah sangat ingin keluar dari sini"
"Marco, tolong bawakan kursi roda untuk papa" marco pun pergi keluar dan kembali lagi dengan membawa kursi roda. setelah memindahkan pak bagas ke kursi roda dan mengurus segela sesuatunya, Devan pun mendorong dengan perlahan kursi roda papa mertuanya, sampai di lobi, Marco segera mengambil mobilnya dan membawanya ke depan lobi agar pak bagas tak terlalu jauh untuk masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Setelah semuanya masuk, marco melajukan mobilnya dengan perlahan, tapi ada ke anehan yang Siska rasakan Marco tidak membawa mobil ke jalan yang biasanya.
"mas, kita ko pake jalur yang berbeda kita mau kemana dulu?" tanya nya penasaran.
"kejutan sayang, " ucapnya sambil terkekeh pelan.
Siska semakin di buat penasaran akan di bawa kemana kira kira dirinya dengan papanya.
Sampai di salah satu perumahan elit, Marco melajukan mobilnya masuk melewati rumah rumah yang terlihat mewah berjejer dengan rapi.
"mas kita akan bertamu ke rumah siapa, kenapa kita kesini?" Siska masih bertanya tanya..
"sudah diam saja oke, ikut saja" ucapnya. Siska pun merengut kesal dengan suaminya karena tak ingin jujur dengan Siska akan pergi kemana mereka sekarang.
Sampailah mereka di depan gerbang berwarna emas yang tinggi menjulang, setelah menunggu beberapa saat gerbang pun terbuka dan terlihat mansion yang begitu indah, mewah, juga megah.
"waow, ini rumah apa istana, bagus banget mas. rumah siapa ini.? tanya nya lagi.
" ayok keluar" ajaknya. Siska pun keluar dari dalam mobil, Marco segera mengeluarkan kursi roda dan menggendong pak bagas untuk turun dari mobil.
"mas, kamu belum jawab kenapa kita ke sini? Rumah siapa ini mas?" tanya nya lagi, dengan raut wajah menggemaskan sampai membuat Devan ingin mencium Siska kalau saja tidak ada mertuanya di sini.
"ini rumah untuk mu sayang, dan rumah untuk anak-anak kita kelak" ucapnya sambil menatap Siska dengan penuh cinta.
Siska membulatkan matanya, mulutnya membentuk huruf O, "mas apa kamu yakin rumah ini untukku.?"! Devan mengangguk sambil tersenyum.
" rumah yang kita tempati dulu, itu rumah lama bekas aku dengan mantan mantan istriku yang dulu, dan rumah ini adalah rumah baru untuk kita memulai hidup baru " Siska langsung melesak masuk kedalam pelukan Devan dan menangis dalam dekapan nya.
"hei, ko malah nangis, kenapa rumahnya kurang besar, apa kurang bagus? kalau gak Suka nanti kita akan cari rumah yang baru " ucapnya. mendengar ucapan suaminya Siska langsung mencubit gemas perut suaminya.
"aku ini nangis terharu loh mas, nangis bahagia, kamu ko gak paham" ucapnya. sambil menghapus air matanya.
sementara di atas kursi roda, pak bagas meneteskan air matanya dia begitu bahagia melihat anaknya bahagia, dulu pak bagas sempat berpikir kalau rumah tangga anaknya akan berantakan karena sifat Siska yang kadang kelewat barbar dan mereka menikah karena terpaksa. tapi sekarang pak bagas lega, ternyata pilihan nya tak salah.
__ADS_1
"syukur lah, ternyata langkah papa menikahkan mu dengan Devan itu tidak salah"