
Sepulang dari kampus Siska meminta para pengawal untuk mengantarkan dirinya ke kantor milik Devan.
"mari nyonya" ucap bejo setelah membuka kan pintu mobil untuk Siska. Siska masuk kedalam mobil dan duduk dengan anteng sambil memainkan ponselnya.
"Sis, Siska" Reyhan mengetuk kaca mobil yang di tumpangi oleh Siska.
"Ya Rey, ada apa? " tanya nya heran.
"kamu mau langsung pulang? Siska mengangguk menjawab pertanyaan Reyhan. " yah padahal tadinya aku mau ajak kamu jalan dulu, lama kita gak jalan berdua" ucapnya.
"maaf ya Rey, aku lagi ada urusan penting ini , next time boleh lah kita jalan" Rey pun mengangguk sambil tersenyum. "ya udah aku pulang duluan, bye" siska melambaikan tangan nya ke arah Reyhan.
mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. dan sampailah Siska di depan gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. di ujung gedung tertulis nama NS COMPENY . Siska keluar dari dalam mobil setelah pengawal membukakan pintu untuk nya.
"kalian gak lemes kan?" tanyanya penuh selidik. tadi di kampus Siska sempat mengancam bejo, Agus juga Wasri agar jangan memberi tahu suaminya kalau dirinya akan ke kantor sore ini untuk memberikan suaminya kejutan.
"tidak nyonya, sesuai permintaan anda " ucap Bejo sambil menundukan kepalanya.
"oke baiklah, ayo kita masuk kedalam. kalian tau ruangan nya tidak?" tanya Siska, pasalnya dia baru pertama kali menginjakan kaki di kantor suaminya. Bejo juga Agus menggeleng secara bersamaan. mereka memang Tidak tau karena baru saja di panggil dari bali ekslusif hanya untuk menjadi pengawal nyonya nya.
"duh bagaimana sih kalian ini, kalian sudah lama bekerja dengan mas Devan tapi ruangan ceo nya saja tidak tau" gerutunya sambil masuk kedalam. di dalam sana Siska langsung menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan suaminya.
"permisi mba" sapanya ramah.
"ya dek, ada yang bisa saya bantu " jawabnya dengan sopan.
"saya mau ketemu tuan Devandra Nicholas, apa beliau ada?" tanya nya.
"maaf dek, apa adek sudah membuat janji sebelum nya " Siska melongo masa ingin bertemu dengan suaminya saja harus membuat janji pikirnya.
__ADS_1
"mba, saya mau ketemu suami saya masa harus buat janji" ucapnya dengan kesal. sekarang giliran resepsionis yang bengong di tempat nya, merasa tak percaya ceo yang mereka idam idamkan menikah dengan anak di bawah umur.
"adek, sebaiknya adek pulang saja yah jangan kebanyakan nge halu kaya pembuat novel, ceo tampan menikah dengan gadis di bawah umur, "ucapnya dengan nada mengejek." lagian suami hayalan mu sedang tidak ada dia sedang keluar " ucapnya lagi.
"wah, mbak nya ngajak gelud nih" Siska melihat ke arah name tag di dada kanan resepsionis itu tertera nama Sandra di sana.
"Dengar ya mbak Sandra yang terhormat, saya ini memang istrinya ceo dirimu tuan Devan, bukan begitu para pengawal?" Bejo juga agus pun mengangguk.
"nona sebaiknya anda mengalah, apa yang di katakan nyonya kami itu benar dia adalah istrinya tuan Devandra Nicholas" bejo angkat bicara dengan nada tegas.
"diam kau botak, kalian di bayar berapa sama gadis kecil ini? mau maunya kalian di bodohi gadis kecil ini" Siska membelalakan matanya mendengar ucapan resepsionis itu.
brakkk
Siska menggebrak meja di sana sampai membuat Siska menjadi bahan tontonan pegawai yang sedang lalu lalang di sana. "nyonya sudah biar saya telpon tuan saja, dari pada kita bikin keributan di sini" ucap bejo sambil menggeser layar ponselnya.
belum sempat bejo menelpon Devan, Devan sudah muncul dari pintu lobi berjalan ke dalam tanpa melihat ke arah siska, di belakang nya di ikuti oleh Marco.
"sayanggggg tungguuuu akuuuuu " teriaknya sambil berlari seperti anak kecil. mendengar suara istrinya Devan juga Marco menghentikan langkah nya dan berbalik melihat ke asal suara.
"sayang, ngapain kamu di sini, kenapa gak telpon dulu kalau mau datang hemm" Devan segera menghampiri Siska yang berlari dengan begitu menggemaskan di mata Devan. "ta_dinyah ah_kuh mau bikin kejutan untuk mu mas" ucapnya dengan ngos ngosan. "tapi malah aku berantem dengan si Sandra resepsionis kamu itu " Siska menunjuk ke arah Sandra yang sudah memerah wajahnya. antara takut juga malu.
Devan menghela nafasnya, memang dia belum memperkenalkan istri mungilnya pada pegawai kantor,
Ini juga kali pertama Siska datang ke kantornya makannya orang tak akan mengenalnya.
"maaf sayang nanti mas potong gaji mereka yang sudah lancang padamu " ucapnya sambil mencium dengan gemas kening istrinya. hal itu tak luput dari perhatian para pegawainya.
"Bejo, agus apa yang kalian lakukan, kenapa kalian tidak langsung membawa istriku masuk kedalam ruangan hah" bentaknya.
__ADS_1
"maaf tuan, tapi kami tidak tau ruangan anda yang ada di sini, mau ngasih tau anda pun nyonya Siska mengancam akan memulangkan kami ke tempat asal kami tuan" ucapnya dengan kepala menunduk.
"banyak alasan saja kalian ini" ucapnya.
"Marco urus resepsionis itu, kelakuan nya sangat tidak sopan, bagaimana kalau dia berbuat seperti itu pada setiap orang yang datang ke sini" Devan langsung membawa Siska masuk dan menaiki lift. sampai di lantai paling atas Siska menggandeng lengan suaminya ikut masuk kedalam ruangan yang cukup besar dengan tampilan mewah juga Elegan.
"wah, ruangan kamu bagus juga mas, aku mau kerja di sini aja deh gak mau jadi dokter " Ucapnya sambil melihat sekeliling ruangan suaminya.
"boleh, kalau begitu aku malah lebih seneng seharian bisa ketemu kamu" Devan tersenyum nakal ke arah Siska.
" ah kalau kaya gitu gak jadi deh, nanti yang ada kamu gak kerja kerja, jadi kamu jatuh miskin" ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di sopa. Devan pun terkekeh geli mendengar ucapan istrinya.
"gimana kuliah hari ini, lancar? tanyanya sambil berjalan mendekat ke arah Siska.
" lancar mas,! oh iya bagaimana masalah aku mau ketemu papa apa sudah kamu pikirkan? bolehkan aku ketemu papa pleasee mas aku sangat kangen papa" ucapnya dengan penuh harap.
"emm, sayang sebenernya_" ucapan Devan menggantung.
"sebenernya apa mas?" tanyanya dengan penasaran.
"emm, sayang tolong kamu jangan sampai kepikiran masalah ini, mas sama Marco sedang berusaha mencari papa kamu yang menghilang tanpa jejak" Siska membelalakan matanya mendengar ucapan suaminya.
"apa mas, papa hilang? tanya nya dengan kaget.
" ya, sudah sebulan yang lalu mas gak mau kasih tau kamu karena mas gak mau kamu sampai kepikiran " ucapnya.
"mas, antarkan aku kerumah papa, aku mohon mas mungkin di sana akan ada petunjuk tentang hilang nya papa" ucapnya dengan sendu.
"baiklah minggu besok kita akan pergi ke Bali, kamu jangan sedih gitu dong, Siska itu selalu ceria bukan" ucapnya menghibur Siska.
__ADS_1
"mas bagaimana kalau papa_" Devan langsung menaruh jari telunjuk nya di bibir Siska agak berhenti berbicara yang belum tentu terjadi.
"gak usah memikirkan, dan menduga duga yang belum tentu terjadi oke"