Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 67


__ADS_3

"istri anda mengalami maag tuan, sepertinya beliau kurang mengatur pola makan nya, dan bisa juga dari pikiran yang stres memicu maag nya kambuh,"


"apa itu bahaya dokter?" tanya nya.


"sejauh ini kondisinya tidak ada yang menghawatir kan, nanti di jaga pola makan nya,juga pikiran nya jangan sampai tertekan, ada baiknya istri anda di rawat dulu, supaya bisa ada yang kontrol untuk memastikan keadaan nya," ucapnya. Devan mengangguk mengerti , setelah dokter pamit keluar dari dalam ruangan itu Devan mendekat ke arah Siska yang masih memejamkan matanya.


"sayang, bangunlah maaf karena aku sampai lalai menjaga kamu, pasti kamu begitu kecapean mengurus papa juga kuliah" Siska pun menggerakkan jari jarinya, Devan menatap wajah Siska yang perlahan lahan membuka matanya.


"Syukurlah akhirnya kamu siuman juga, gimana apa masih ada yang sakit, perlu mas panggilkan dokter?" Siska pun menggeleng lemah.


"kenapa aku ada di sini mas?" tanya nya bingung. Siska bangkit secara perlahan dan duduk di atas bangsal rumah sakit dengan dibantu oleh suaminya.


"tadi kamu pingsan di kamar mandi, karena panik ya sudah aku bawa ke rumah sakit, kata dokter kamu maag, maafkan mas karena terlalu sibuk di kantor sampai tak mempedulikan kesehatan mu" Siska menatap suaminya.


"bukan salah mu mas, emang beberapa hari ini aku terlalu sibuk kuliah dan mengerjakan tugas susulan, juga mengurus papa sampai aku lupa mengatur pola makan" ucapnya. "aku sudah lebih baik sekarang, ayo kita pulang" ajaknya.


"tapi tadi dokter nyaranin buat kamu di rawat inap dulu Sayang," Siska langsung menggeleng kan kepalanya.


"aku gak mau mas, aku juga udah lebih baik. aku kan bisa full istirahat di rumah, ya mas ya, aku gak mau nginep di rumah sakit" Devan pun akhirnya pasrah dia menatap istrinya yang masih terlihat pucat juga Tubuh yang masih lemah, tapi mau nolak keinginan nya pun mana bisa Siska orang yang keras kepala Devan pun segera menemui dokter jaga untuk izin pulang sesuai keinginan istri nya.


setelah melakukan pemeriksaan kembali, dan memastikan kondisi Siska dokter pun akhinya memberi izin untuk pulang, dengan di berikan beberapa nasehat, juga obat untuk di minumnya Siska juga Devan pun masuk kedalam mobilnya dan segera pulang ke rumah.


___


Beberapa hari hanya diam diri di rumah sambil mengurus sang papa, Siska kini sudah mulai lagi dengan rutinitas sehari sehari nya yaitu kuliah untuk mengejar cita cita nya. melihat keadaan sang papa yang semakin membaik membuat Siska merasa tenang untuk meninggalkan papanya apalagi dengan adanya seorang perawat yang siap siaga menjaga juga merawat papanya dengan baik.


"hari sudah mulai masuk sayang?" tanya Devan di sela sela sarapan nya.

__ADS_1


"iya mas, kondisi aku juga sudah lebih baik gak apa kan aku masuk kuliah lagi "


"iya gak PP,"


"selamat pagi tuan, nyonya, dan tuan besar" mendengar suara yang begitu pamiliar di telinga nya Siska menoleh dan langsung tersenyum dengan lebar saat mengetahui ada Deby berdiri tak jauh darinya.


"mba Deby, ya ampun ini beneran Mba Deby kan" Siska bangkit dan langsung memeluk Deby yang malah mematung di tempat merasa tak enak dengan Devan yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"mba, mas Indra kemana?" tanya nya penasaran, Siska begitu berharap bisa bersama lagi dengan supir juga asisten pribadi nya yang dulu.


"Ada nyonya lagi manasin mobil" ucapnya gugup. Siska pun tersenyum senang. "mba sini sudah sarapan belum" ajaknya.


"ah tidak nyonya, saya permisi mau ke depan dulu" ucapnya. setelah pamit dengan majikan nya Deby berjalan ke luar dan mulai menghilang dari pandangan Siska.


"mas, makasih sudah panggil mba Deby untuk kerja di sini lagi" ucapnya dengan sumringah.


" papa kenapa sedih?" tanya Siska yang menyadari wajah papanya sudah berubah menjadi murung.


"papa gak apa sayang, papa hanya teringat mama rasanya sudah lama papa tidak ke makan mama, nanti kalau papa sudah sembuh boleh ya papa pulang ke Bali, papa ingin menua di sana"


"tapi pah, di sana papa bahaya apalagi kak Dimas jarang di rumah, kak Dimas begitu sibuk mengurus semua perusahaan papa, papa tinggal di sini saja ya pah"


"papa gak apa tinggal di rumah sendiri Siska, akan ada beberapa pelayan juga pengawal yang akan menemani dan menjaga papa di sana, kamu gak usah khawatir"


"tapi_" belum selesai Siska bicara suaminya sudah menyela.


"sudah sayang biarkan papa, nanti aku juga akan bantu jaga kamu tenang saja, aku gak bakal diam membiarkan papa dalam bahaya" Siska menghela nafasnya.

__ADS_1


"baik lah, sekarang papa pokus dulu pada pengobatan papa di sini oke, papa pulang ke Bali harus dengan kondisi sehat" ucapnya.


"iya sayang" selesai sarapan Siska pun pamit dengan sang papa karena dia ada jam masuk pagi, juga siang nanti, begitupun Devan yang pamit pergi ke kantor nya.


"hati hati di jalan, nanti waktu makan siang mas akan datang ke kampus untuk memastikan kamu makan atau tidak" ucapnya sambil mengecup singkat kening istrinya.


"oke, siap tuan" tak ingin kena jitakan suaminya Siska berlari dan masuk kedalam mobilnya.


"aku jalan duluan ya mas" Siska melambaikan tangan nya saat mobil dengan melaju dengan perlahan meninggalkan halaman rumahnya.


"apa kita akan berangkat sekarang tuan?" tanya Marco.


"ya kita berangkat sekarang " Marco membuka kan pintu untuk tuan nya, setelah Devan masuk dia pun masuk dan duduk di kursi kemudi. kemudian dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota yang di padati pemakai jalanan karena memang waktunya mereka untuk mencari nafkah buat keluarga nya.


__


Sampai di kampus nya, Siska turun dari mobil dan langsung masuk kedalam kelas menunggu teman teman yang satu kelas dengan nya. bosan hanya diam saja Siska membuka bukunya dan mulai membaca.


"Sis, kamu sudah masuk, kemana aja beberapa hari gak masuk?" Siska yang tengah pokus membaca pun menatap ke arah Reyhan yang datang menghampiri nya.


"emm, beberapa hari yang lalu aku sempat sakit" ucapnya.


"kamu sakit apa sis? Tanya nya panik.


Siska terkekeh, " gak usah panik gitu kali Rey, aku hanya sakit maag, mungkin karena aku terlalu kelelahan sampai lupa ngatur pola makan, dan jadilah tumbang, tapi sekarang udah gak apa ko" ucapnya santai. Reyhan pun duduk di samping Siska dan mereka mengobrol dengan santai sambil menunggu waktu masuk tiba, saat mereka tengah mengobrol keduanya tak menyadari ada sepasang mata yang tengah menatap mereka.


"Siska"

__ADS_1


__ADS_2