Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 47


__ADS_3

ciatt


Arghh


teriak salah satu pengawal yang kembali terkena anak panah tepat di bahu sebelah kanan nya. tak lama kemudian muncul beberapa orang berpakaian serba hitam mengepung Devan juga anak buahnya.


"Akhirnya kau masuk juga dalam perangkap kami tuan Devandra Nickolas, bagaimana apa ini sudah membuatmu cukup terkejut?" laki laki itu berjalan dengan begitu angkuh nya di hadapan Devan. Devan menatap tajam laki laki yang datang menghampirinya sambil menunjukan seringai iblisnya.


"siapa kau? " tanya Devan dingin.


"tak perlu tau siapa aku, yang jelas akulah orang yang akan mengambil nyawa mu" ucapnya. Devan tekekeh mendengar ucapan laki-laki berwajah blesteran di hadapannya itu.


"tidak semudah itu bodoh," dengan secepat kilat Devan menendang perut laki laki di hadapan, namun tendangan Devan tak membuat nya tumbang, dia malah tersenyum mengejek ke arah Devan. Adegan perkelahian pun terjadi anak buah Devan memilih lawan nya masing masing, setelah pertarungan sengit itu anak buah Devan berhasil membuat beberapa anak buah Arnold tumbang, sementara Devan masih berusaha melawan Arnold yang kekuatan seimbang dengan nya.


Serangan demi serangan mampu Devan hindari, dia masih terus menghindar untuk menghemat tenaga nya, itu juga salah satu trik Devan untuk membuat lawannya kelelahan karena terus menyerangnya namun terus ia hindari, setelah di rasa kekuataan lawan nya mulai melemah Devan mulai menyerang lawan nya dengan serangan bertubi tubi sampai membuat nya terjatuh, tanpa Devan sangka muncul lagi lebih banyak anak buah Arnold yang berdatangan mengepung mereka.


saat salah satu anak buah Arnold akan maju tiba tiba.


ciatt


ciatt


ciatt


tiga anak buah Arnold langsung jatuh tersungkur setelah 3 buah pisau kecil menusuk tepat di tengkuk mereka.


Devan, Marco juga beberapa anak Devan sampai terdiam sesaat menyaksikan ketiga anak buah Arnold mati dalam hitungan detik.


ciatt

__ADS_1


ciatt


ciatt


terdengar lagi suara pisau yang mengenai beberapa anak buah Arnold yang langsung tersungkur saat pisau kecil mengenai dahi mereka.


Devan segera bersiap memasang kuda kuda untuk menyerang Arnold yang sudah mulai bisa bangkit, tapi dengan secepat kilat Arnold pergi menghilang entah kemana. sementara Marco dan yang lain nya mereka sedang melawan sisa anak buah Arnold yang masih ada di sana termasuk menyerang dua anak buah Arnold yang sudah membocorkan kedatangan Devan ke sana.


Devan masih mematung memikirkan siapa orang yang sudah membantunya tadi, Devan kagum dengan keahlian orang yang membantunya dalam keadaan gelap pun dia tidak salah sasaran tapi Devan tidak melihat nya mungkin dia sembunyi.


setelah mereka berhasil menumbangkan anak buah Arnold, salah satu anak buah yang mereka tawan kemarin yang membawa mereka ke sini tadi langsung bersuara lagi dan mengajak Devan untuk segera pergi dari tempat itu.


Devan mengikuti laki laki itu dari belakang, dia sudah tak menaruh curiga dengan nya karena tadi dia ikut membantu menyerang anak buah Arnold, Devan terus berjalan di ujung sana sudah terlihat ada sebuah rumah dengan penerangan yang lumayan,.


"jadi di sini Ghaffar menawan papa mertua ?" tanya nya. laki laki tadi pun menganggukkan kepalanya.


"saya tidak tau siapa yang tuan Ghaffar tawan tuan, yang saya tau dia di tawan di sini sudah hampir satu bulan " ucapnya. Devan mengangguk lalu mulai memasang strategi karena di sana ternyata ada beberapa pengawal yang berjaga.


setelah Devan berhasil masuk kedalam bangunan tua itu, dia segera mencari di mana letak ruangan tempat menahan papanya Siska. setelah menemukannya Devan melihat ruangan berpintu besi yang tertutup itu terpasang gembok, Devan segera mencari kunci untuk membuka gembok yang mengunci pintu itu, dia melihat ke segala penjuru ruangan itu dan terlihat ada sebuah kunci menggantung di atas pintu. setelah berhasil mengambil kunci itu Devan segera membuka pintu dan masuk kedalam ruangan yang berbau anyir darah, juga bau makanan busuk, Devan melihat seorang pria kurus kering, dengan tubuh penuh luka tengah meringkuk di atas lantai yang dingin juga kotor.


"pah, apa papa mengingat ku?" tanya nya sambil menatap wajah pak bagas yang terlihat lebih kurus seperti tengkorak hidup.


pak bagas membuka matanya dia menatap Devan dengan tatapan takut, "tolong jangan siksa saya lagi, lebih baik kau bunuh saja aku" ucapnya dengan gemetar.


"hei, pah tatap aku ini aku Devan menantu papah, sekarang aku akan membebaskan papa dari tempat terkutuk ini " pak bagas menatap Devan yang sedang membuka kan ikatan rantai yang membelit tangan nya.


"Devan, menantuku?" tanyanya.


"ya, aku menantumu" Setelah berhasil melepaskan nya Devan segera membawa pak bagas keluar dari dalam ruangan itu dan berjalan dengan cepat mencari jalan keluar.

__ADS_1


sementara di luar, Marco, Axel, Baron, juga beberapa anak buah Devan tengah berkelahi melawan anak buah Ghaffar. saat mereka tengah kepayahan tiba tiba muncul sosok bertopeng hitam membantu mereka melawan anak buah Ghaffar yang ternyata berjumlah banyak di sana.


orang bertopeng itu dengan mudah melumpuhkan lawan lawan nya hanya dengan sekali gerakan mampu menumbangkan beberapa anak buah sekaligus.


di dalam Devan tengah kesulitan mencari di mana letak pintu keluar berada "hei, penyusup berhenti di sana, jangan bergerak"


dor


dor


dor


suara tembakan terdengar begitu menggema di dalam ruangan itu, Devan berhasil menghindar saat salah satu anak buah Ghaffar mengeluarkan peluru yang hampir mengenai bahunya.


Devan menurunkan papa mertua nya dengan secepat kilat Devan berlari dan menendang tangan yang sedang memegang pistol lalu menyerang nya dengan tangan kosong sampai membuat laki laki di hadapanya itu jatuh tersungkur.


Devan kembali menghampiri pak bagas yang terduduk dengan tubuh lemah lalu menggendongnya kembali. saat sudah tiba di depan pintu dua orang laki laki penjaga langsung menyerang Devan. Devan yang yang tengah menggendong pak bagas pun dengan susah payah menghindari serangan dari lawan nya.


brakkkk


dengan sekali tendangan pintu itu pun terbuka terlihat sosok bertopeng hitam itu melihat ke arah Devan yang tengah kesusahan menghindari serangan dua orang lawannya.


sosok bertopeng itu mempercepat langkahnya dan segera melayangkan kakinya menyerang dua laki laki bertubuh lebih besar darinya dia memberikan serangan bertubi tubi sampai membuat dua lawannya tumbang, melihat lawan nya sudah tak sanggup melawan, dia melihat ke arah Devan juga laki laki yang ada di dalam gendongan Devan.


Devan segera keluar dari dalam tempat itu, di susul sosok bertopeng di belakang nya sampai di depan bangunan tua itu Devan melihat beberapa anak buah Ghaffar yang sudah tergeletak entah masih bernyawa atau tidak.


Devan menyerahkan pak bagas pada Marco juga Baron untuk segera di bawa dari sana dan mendapatkan perawatan.


"siapa kau?"

__ADS_1


𝙥𝙖𝙧𝙩 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙡𝙚𝙥𝙤𝙩𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙝, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙠𝙤𝙣𝙙𝙞𝙨𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 🤭 𝙢𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙝 𝙧𝙚𝙖𝙙𝙚𝙧𝙨 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙙𝙞 𝙧𝙚𝙫𝙞𝙨𝙞 😁


__ADS_2