
"emang kuat? katanya sakit "
"sudah kuat ko mas, aku dari kamar ke sini aja jalan pake kaki" ucapnya.
"yang namanya jalan ya pake kaki Siska" Devan mencubit gemas hidung kecil nan bangir milik Siska.
"ya sudah nanti mas antar kamu kesana" Siska hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.
***
mobil yang di tumpangi Siska berhenti tepat di depan Cafe Terindah milik sahabatnya. "mas kamu mau ikut turun?" tanyanya, Devan mengangguk dia akan ikut masuk ini juga cafe favorit nya saat berada di bali, selain enak untuk tempat nongkrong makanan juga cofe di cafe ini terkenal nikmat.
Siska membuka pintu mobilnya sendiri, Siska sengaja meminta suaminya untuk tidak membawa pengawal karena Siska sangat risih dengan kehadiran mereka.
namun bukan Devan namanya kalau kehabisan akal dia tetap memerintah kan pengawal dari jarak aman. untuk memantau sekitar cafe.
"mas ayo, " ajaknya, Siska berjalan dengan sedikit merenggang kan kakinya karena di rasa masih tidak nyaman di daerah kewanitaan nya.
"masuk lah lebih dulu sayang, aku ada urusan sebentar oke" Siska mengangguk dan berjalan lebih dulu masuk ke dalam cafe milik sahabatnya, "selamat datang mba Siska, tumben lama gak nongkrong ke sini mba? tanya anya.
" sekarang pindah ke Jakarta nya, oh iya indah ada?
"bu indah ada di ruangannya, sebentar saya panggilkan ya" Siska mengangguk diapun segera berjalan ke arah kursi favoritnya yang biasa dia tempati saat nongkrong di cafe indah.
"wah wah, ada tamu kesayangan nih" Indah muncul sambil mengembangkan senyum termanis di wajah cantiknya.
siska langsung bangkit dan memeluk sahabat baiknya.
"kamu apa kabar? udah terlihat kaya ibu ibu kamu ya ndah,! Siska menyisir penampakan indah dari atas sampai bawah. " sumpah deh kamu gak cocok kaya gini kelihatan lebih dewasa dari umur " ucapnya sambil tersenyum mengejek.
Indah mencebikan bibirnya mendengar ucapan Siska dia sudah tidak aneh mendengar ucapan ceplas ceplos sahabat nya.
"udah deh jangan bahas penampilan, btw kamu sendiri ke sini? " tanya nya sambil celingak celinguk.
"enggak, aku kesini sama bandot tua " ucapnya enteng.
"siapa yang bandot tua sayang?" Devan tiba tiba muncul di samping Siska. Siska yang di tatap suaminya pun hanya nyengir kuda.
__ADS_1
"bukan siapa siapa, sini duduk kenalin ini sahabat aku mas, dia temen bolos waktu sekolah dulu" Devan menatap indah yang masih membulatkan mulutnya melihat ketampanan Devan.
"ndah, woy " Siska mengetuk pelan kepala Indah sampai membuat Indah tersadar dari lamunan nya.
"ah iya kenapa? tanyanya seperti orang linglung.
" kamu yang kenapa aku kenalin suamiku ko malah bengong"
"kamu yakin ini suami kamu bukan kamu bilang dia_" ucapnya menggantung.
"saya kenapa? tanya Devan. Indah hanya tersenyum malu, mana berani dia mengungkapkan apa yang sudah dia dan Siska bicarakan tentang nya.
" Sis, kamu ko bisa kejatuhan duren gini sih aku juga mau masih ada sisa gak?" bisiknya.
"gak ada, suami model suamiku ini limited edition gak ada duplikat nya " ucapnya. Indah mencebikan bibirnya dia masih menatap takjub pada sosok laki laki di hadapan nya.
***
setelah dari cafe Siska langsung minta untuk pulang, sebenernya dia sangat ingin malam ini ikut dengan suaminya untuk membebaskan papanya , tapi apalah daya buat jalan aja Siska masih merasa gak nyaman.
"kamu nanti istirahat yah, aku pulang kita main jungkat jungkit lagi" ucapnya sambil mengedipkan matanya nakal.
Siska memukul lagi lengan suaminya sampai membuat Devan pura pura mengaduh kesakitan padahal pukulannya tidak ada apa apanya.
"mas, kamu gak apa, sakit? maaf aku terlalu kuat yah mukulnya" Devan hampir saja tertawa terbahak melihat expresi istrinya.
melihat expresi suaminya yang sedang menahan tawa Siska kembali memukul lengan Devan sampai tawa Devan pecah tidak bisa di tahan.
"kurang asem kamu mas" Siska masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu. sementara Devan masih tertawa terbahak di atas kasurnya.
*
tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 6 petang sekarang waktunya Devan juga beberapa anak buah nya untuk beraksi membebaskan papa mertuanya. entah kenapa hati Siska mengatakan kalau yang di Sandra oleh Ghaffar itu adalah papanya.
"semua sudah siap? tanya nya sambil memakai jaket kulit hitamnya.
"semua sudah siap tuan kita tinggal berangkat" Marco memasukan sebuah pistol kecil di kantong sabuk khusus samping sebelah kirinya ,sementara di samping sebelah kanan dia memasukan 4 pisau lipat kecil untuk jaga jaga jika nanti akan sangat di butuhkan.
__ADS_1
"baiklah, sekarang kita berangkat" Devan segera memasukan pisau andalan nya sebuah pisau lipat Stiletto di dalam saku jaket nya. Devan berjalan lebih dulu masuk ke dalam mobil setelah salah satu pengawal membuka kan pintu untuk nya.
Dua mobil berwarna hitam itupun mulai melaju dengan kecepatan tinggi. membelah jalan di bali setelah sampai di persimpangan mobil yang di bawa oleh Baron itu pun mulai memasuki hutan, jalan yang di lalui mobil pun berupa tanah merah.
"masih jauh bar?" tanya Devan.
"sepertinya sedikit lagi tuan," Baron masih fokus dengan jalanan di depan nya mengikuti mobil yang di bawa oleh Axel.
saat mobil di depan nya berhenti mobil yang di bawa Baron pun ikut berhenti.
melihat orang di depannya keluar mobil Devan juga ikut keluar setelah ada yang membukakan pintu untuknya. "di mana tempat nya?"
"kita harus masuk ke dalam tuan, di sana jalan setapak tidak bisa di masuki mobil" Devan mengangguk dan berjalan di tengah tengah mengikuti anak buah Ghaffar karena dia yang tau di mana tempatnya.
"apa masih jauh?" tanya Devan merasa heran mereka sudah berjalan jauh tapi belum juga sampai di tempat tujuan.
"sedikit lagi tuan" Devan sudah merasa curiga dengan orang di depannya. tapi dia juga tidak bisa gegabah. tiba tiba.
stttt
Arghhhh
teriak salah satu pengawal yang betis nya terkena anak panah. "sial, kita di jebak" Devan menatap murka pada pengawal di depannya.
"ampun tuan saya tidak tau apa apa" ucapnya ketakutan. Dengan gerakan cepat Devan menarik dan mencengkram dengan kencang dagu anak buah Ghaffar.
"katakan, apa kau yang sudah membocorkan kalau kita akan kesini " ucapnya pelan namun terdengar sangat dingin dan penuh penekanan.
"bu-bukan tuan, bukan saya, saya berani bersumpah " ucapnya gemetar dagunya terasa sakit saat Devan mencengkram nya.
bughh
Devan menendang perut pengawal itu sampai terhunyung ke belakang.
stttt
Dengan cepat Devan menghindar saat terdengar suara anak panah tepat di dekat daun telinganya, meski dalam keadaan gelap tapi insting seorang Devan patut di acungi jempol dia masih bisa mengetahui saat ada yang akan mengenai tubuhnya.
__ADS_1
"siapa di antara 2 orang yang sudah berhianat di sini? " bentaknya. Devan menatap horor ke arah dua Anak buah Ghaffar yang sekarang berdiri di hadapannya.