
Devan di buat bimbang oleh keadaan di satu sisi dia tidak ingin tinggal berdua dengan jesica di apartemen nya tapi satu sisi dia juga tidak tega meninggal kan jesica sendiri di sini dengan kondisi nya yang sedang tak sehat.
"baby maaf tapi aku gak bisa tidur di sini berdua dengan mu, aku juga ada urusan setelah dari sini" ucapnya dengan lembut. jesica yang mendengar itu pun langsung mengerucut kan bibir nya.
"ya sudah kalau kamu mau pulang, pulang saja aku tak apa di tinggal tapi besok kamu datang lagi ke sini kan? " tanya nya.
"pasti aku akan datang baby, ya sudah aku pulang dulu ya cepat sehat" Devan mengusap lembut rambut jesica. jesica pun tersenyum dengan manis ke arah Devan.
setelah pamit Devan pun keluar dari apartemen jesica dan turun ke bawah untuk mengambil mobilnya.
Devan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan sore jakarta
2 jam perjalanan Devan pun tiba di markas kebanggaan nya.
Devan turun dari mobil di sana sudah ada Marco Baron juga Mike yang tengah menunggunya.
"Bagaimana apa pemuda itu sudah mau angkat bicara? " tanya nya setelah mendudukan bokong nya di sopa.
"belum tuan, dia belum mau membuka suaranya" Devan langsung berdiri dengan kasar dan melangkah ke arah ruangan gelap dan pengap tempat mereka menyandra pemuda itu.
brakkkk
Dengan sekali tendangan pintu itu terbuka dengan lebar, "Baron nyalakan lampunya" titahnya. setelah lampu menyala Devan langsung mendekat ke arah pemuda yang tengah menatapnya dengan mata sayu dan lemah.
__ADS_1
"masih mau bungkam hemm,? " tanya nya dengan dingin. rahang nya mengeras. jengkel dengan pria di hadapan nya yang masih belum mau membuka suara nya. sebenarnya bisa saja Devan membunuh pemuda di hadapannya sekarang juga, tapi kalau dirinya bunuh sekarang tentu dia akan kehilangan info penting.
"Kesabaran ku sudah habis, sekarang pilih ingin dirimu yang mati atau keluarga mu yang ku habisi? " Devan menatap pemuda itu dengan tajam. pria itu masih terdiam meski tubuh nya sudah gemetar hebat. "Mike bawa kesini fotonya " Mike datang menghampiri Devan dengan membawa tablet. Devan menujukan foto ibu juga kedua adik pemuda di hadapan nya. pemuda itu pun langsung membulat kan matanya " bagaimana, kamu pikir saya main main?" tanya nya dengan seringai mengerikan di wajahnya.
"to-tolong tuan tolong jangan bawa bawa keluarga saya. saya bersedia memberi tahu kan siapa yang menyuruh saya untuk datang kesini" ucapnya dengan gemetar.
"katakan" Devan memandang pemuda di hadapan dengan dingin.
"namanya tuan Ghaffar, Ghaffar Arsalan " Devan langsung terdiam mengingat ngingat adakah rekan bisnis nya yang bernama Ghaffar. namun tak ada sekelebat ingatan pun tentang nama Ghaffar Arsalan. "siapa orang itu, apa yang dia perintahkan padamu? "
"tuan Ghaffar memerintahkan saya untuk menyusup ke markas anda, bertujuan untuk memantau apa saja yang terjadi di markas anda dan apa saja yang anda lakukan di sini karena beliau sedang mempersiapkan diri untuk menyerang anda tuan" ucapnya.
Devan mengerutkan dahinya "menyerang? Marco apa kita pernah punya client bernama Ghaffar Arsalan coba cek ulang, kenapa mereka mau menyerang ku ada yang ingin bermain main rupanya!" ucapnya dengan geram.
"Baron suruh Axel obati luka luka nya, beri juga dia makan supaya dia tidak mati kelaparan " setelah itu Devan langsung keluar dari ruangan pengap itu.
"apa anda akan masuk ke kantor besok tuan? " tanya Marco sambil mengekor bos nya di belakang.
"kita lihat besok saja, saya gak tau bisa masuk apa tidaknya ke kantor, setelah kamu mendapat kan apa yang saya suruh segera beri saya kabar, saya begitu penasaran dalam rangka apa si Ghaffar itu berani bermain main denganku" ucapnya.
"perlu saya antar tuan, ini sudah malam? " tawar Marco yang langsung dapat jawaban gelengan kepala dari Devan.
"tidak usah, sebaiknya kamu pulang saja Marco saya bisa bawa mobil sendiri besok tidak usah jemput saya kalau saya mau ke kantor saya berangkat sendiri saja" Marco mengangguk mengerti, Devan masuk kedalam mobilnya dan segera pulang ke rumah.
__ADS_1
____
Di kamar nya Siska masih belum bisa tidur Siska masih kepikiran dengan sikap kakak nya. dalam pikirannya masih bertanya tanya kenapa dengan kakak nya dan masalah apa yang membuat kakak nya begitu membenci nya.
ingin rasanya Siska menelepon papah nya untuk menanyakan hal ini tapi nanti pasti ujung ujung nya sang papa akan menghindar. Dari dulu papa nya masih bungkam padahal Siska sudah beberapa kali bertanya tentang hal ini tapi sampai sekarang masih belum menemukan jawabannya.
Siska medudukan tubuh nya dan bersandar pada kepala ranjang, tangan nya meraba gelas yang ia simpan Di atas nakas tapi airnya pun sudah kosong. Di lihat nya jam sudah menujukan pukul setengah 12 malam Siska akhirnya keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk mengambil air putih.
saat tengah mengambil air Siska mendengar suara pintu terbuka, dengan langkah perlahan Siska berjalan ke arah pintu sambil membawa gelas berisi air putih di lihat nya Devan baru masuk kedalam rumah wajahnya begitu terlihat kelelahan.
"mas, kamu pulang malam banget abis lembur? jangan cape cape mas nanti kamu sakit " Devan yang terkejut melihat ada Siska di sana langsung menghentikan langkah nya. Siska menyimpan gelas di meja dekat sopa. dia menghampiri Devan yang masih mematung di tempat nya.
"mas, kamu kenapa bengong. jangan bengong nanti kesambet loh" Devan masih belum mengeluarkan suaranya. "kenapa belum tidur ini sudah malam " tanya nya datar.
"emmm, aku gak bisa tidur, kebetulan tadi aku abis ngambil air putih, aku kira kamu sudah pulang dan istirahat, tapi ternyata kamu baru pulang " Siska melepas jas yang masih menempel di tubuh suaminya, tanpa melakukan perlawanan Devan pun menurut dengan apa yang Siska lakukan. setelah melepaskan jas nya Siska melepaskan dasi yang masih terpasang di kerah baju suaminya. Devan menatap Siska dalam diam Devan langsung merasa bersalah dengan Siska. Siska istri yang baik meski kadang kelakuan nya bikin geleng geleng kepala, jujur Devan juga sudah merasa nyaman berada dekat dengan Siska. tapi Devan juga gak bisa tinggalkan jesica yang sudah menjalin kasih dengan nya selama 3 tahun.
"mas kamu sudah makan belum?" Devan menggelengkan kepalanya karena memang dia belum makan malam.
"ya sudah kamu ganti baju dulu, biar aku hangatin dulu makanan nya" Devan mengangguk dan pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
sementara Siska sibuk di dapur menghangatkan makanan yang tadi masih tersusun rapi di meja makan,karena Siska meminta mbok yati untuk tidak memberes kan nya.
saat Siska tengah pokus di depan kompor, sebuah tangan besar dan kekar langsung memeluk nya dari belakang.
__ADS_1
"m-mas"