
Devan berjalan dengan tergesa-gesa ke halaman belakang untuk melihat apa yang sedang di perbuat istrinya sampai membuat para pelayan teriak teriak.
"di mana Siska?" tanya nya. para pelayan itu langsung terdiam dan menujuk Siska yang sedang memetik buah mangga muda di atas pohon yang menjulang tinggi. Devan sampai terbelalak kaget mengetahui istrinya yang sedang di atas pohon dengan santainya.
"sayang, ya Tuhan apa apaan kamu ini, cepat turun nanti jatuh" teriak nya dari bawah.
Mendengar suara suaminya Siska melihat ke bawah dan benar saja Devan berdiri di sana dengan tatapan paniknya.
"Sayang turun, di sana bahaya." Teriaknya lagi.
" Nanti dulu mas, aku baru metik buah mangga sedikit" ucapnya sambil kembali memetik beberapa buah mangga muda dan melemparnya ke bawah. "awas jangan sampai mangga nya pecah, pungutin semuanya " teriaknya dari atas.
"Kalian ini dari tadi ngapain saja hah, hanya lihatin sambil teriak teriak gak jelas,bukan nya cari cara agar istriku turun. Kalau dia terjatuh bagaimana" bentak nya. Devan terus memarahi semua pegawainya. Mereka hanya bisa tertunduk pasrah saat di marahi oleh majikannya karena kelakuan konyol nyonya mereka.
"Marco cepat ambilkan tangga juga beberapa kasur busa takut jika nanti Siska terjatuh, cepat.! Perintahnya.
Marco bergegas masuk kedalam untuk mencari tangga juga kasur di gudang dengan di bantu oleh beberapa pengawal.
setelah mendapatkan apa yang di carinya Marco datang dengan beberapa pengawal yang bertugas membawa kasur juga membawa tangga untuk nyonya mereka turun.
"Susun kasur nya di bawah sana , dan letakan tangga nya disana" perintahnya dengan cepat para pengawal itu pun menyusun kasur busa juga meletakan tangga di pohon mangga yang siska panjat.
"Mas, kamu ngapain gelar kasur di bawah sana? Mau pada tidur? Tanyanya dengan heran.
"Siska ayo cepat turun, sangat berbahaya ada di atas sana nanti kamu terjatuh" ucapnya .
"Oke oke aku turun sekarang," Siska melempar mangga terakhirnya ,dan segera melompat dari dahan itu dengan mudahnya tanpa perlu kasur juga tangga.
Devan, Marco serta beberapa pengawal ,juga pelayan sampai di buat melongo oleh aksi siska yang nekad melompat padahal sudah di sediakan tangga juga kasur untuk antisipasi jika Siska terpeleset.
__ADS_1
"Astaga" Devan segera berjalan ke arah Siska "kamu gak apa? Apa kakinya keseleo?" Tanyanya dengan panik. Siska menatap wajah suaminya yang terlihat begitu panik.
"Aku tidak apa mas, kamu kenapa panik begitu ?" Ucapnya. Sambil tersenyum mengejek.
"Kenapa tertawa, kamu pikir ini lelucon hah, bagaimana kalau tadi kamu terjatuh dari atas sana, bagaimana kalau kaki kamu patah lebih parahnya leher kamu yang patah " cerocosnya.sungguh Devan begitu panik tadi saat mengetahui istrinya tengah naik ke atas pohon mangga yang menjulang tinggi,namun dengan santai nya siska turun tanpa memerlukan dan memakai bantuan nya.
" iya Aku minta maaf, aku pikir kamu masih agak lama pulangnya , jadi tadi aku main kebelakang dan melihat pohon mangga ini berbuah lebat, jadi aku menginginkan nya dan memutuskan untuk memanjat, lagian aku sudah biasa memanjat mas " Ucapnya.
"Kenapa tidak minta tolong pengawal , di sini banyak pengawal mereka di sini bekerja bukan sebagai patung" ucapnya marah.
Sebenarnya Devan tidak marah, hanya saja dia terlalu panik saat melihat Siska manjat pohon setinggi itu.
Siska memajukan bibirnya, "aku udah minta maaf masih marah marah aja" ucapnya sambil masuk kedalam dengan menghentakkan kakinya kesal.
Devan mengikuti istrinya yang malah merajuk seharusnya Dia yang marah kenapa sekarang malah kebalikannya.
"tapi gak usah ngegas juga mas, harusnya kamu kasih tau aku pelan pelan gitu biar ini aku gak sakit" ucapnya sambil menyentuh dada kanan nya.
"iya mas minta maaf, lain kali jangan begitu lagi mas gak mau kamu kenapa napa" Siska mengangguk lalu memanggil pelayan yang tadi memunguti buah mangganya.
"tolong di kupas ya, terus bikin sambalnya yang pedes "
"jangan terlalu pedas, nanti sakit perut sayang "
"perut ku sudah kebal mas, tenang saja"
"apa kamu ngidam? kenapa ingin makan buah mangga muda dengan sambal pedas?" tanya nya.
"gawang ku saja baru kamu bobol mas, bagaimana mungkin aku lansung hamil " Siska memutar bola matanya malas. "aku memang suka makan makanan pedas mas, juga suka makan rujak tapi bukan berarti aku lagi hamil, aku cuma doyan " Devan mengangguk mendengar penuturan istrinya.
__ADS_1
"ini nyonya mangga muda dengan bumbu rujak nya, ada sambal nya juga" dua orang pelayan membawakan potongan buah mangga muda dengan sambal yang terlihat nikmat di mata Siska, namun terlihat ngilu di mata Devan.
"kalian kalau mau bikin saja ya, ini punya ku gak boleh ada yang nurut" para pelayan itu mengangguk dan segera pergi ke belakang.
Devan menatap istrinya yang tengah makan rujak dengan nikmat nya sampai air liur Devan hampir menetes dan giginya terasa ngilu.
"kamu mau mas? enak loh ini, seger bikin mata yang ngantuk jadi melek" Devan segera menggelengkan kepalanya. "enggak sayang, buat kamu saja mas mau ke kekamar dulu mau mandi" ucapnya sambil melangkah ke kamar nya.
Siska kembali pokus dengan rujak di hadapan nya, tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
prangggg
terdengar bunyi kaca pecah sampai membuat Siska yang tengah pokus makan rujak terjingkat kaget, para pengawal langsung berdatangan ke tempat di mana keca itu pecah.
Siska berjalan mendekati para pengawal yang tengah melihat kaca yang pecah. ada sebuah kertas berisi baru di situ.
"siapa yang melempar batu ke rumah kita?" tanya Siska sambil mengambil kertas yang membungkus baru seukuran kepalan tangan itu.
"tidak tau nyonya, kita berjaga di luar tapi tidak melihat ada gelagat yang mencurigakan"
setelah Siska membuka nya mata siska terbelalak kaget " AKU AKAN MENGHANCURKAN KEHIDUPAN MU, JUGA RUMAH TANGGA MU DEVANDRA NICHOLAS, TUNGGU SAJA TANGGAL MAIN NYA" Siska mengerutkan kening nya membaca surat ancaman untuk suaminya.
"siapa yang mau bermain main lagi dengan suamiku, dia belum tau siapa Siska ternyata, oke aku terima tantanganmu wahai musuh tersembunyi " Siska tersenyum dengan misterius sampai membuat bulu kuduk para pengawal meremang.
"kalian bereskan ini semua, jangan sampai Marco ataupun tuan kalian tau tentang hal ini, awas kalau kalian sampai lemes ku potong burung kalian agar tidak bisa berkembang biak " ancam nya, yang sontak saja membuat para pengawal itu bergidik ngeri dan menganggukan kepalanya patuh.
Siska berjalan menaiki satu persatu anak tangga untuk menyusul suaminya ke kamar sambil membawa remasan kertas ancaman. Siska membuka pintu kamarnya di lihat nya Devan tidak ada di dalam sana, kamar mandi pun terdengar sunyi sepertinya tidak ada penghuni nya di dalam sana pikir siska.
"sayang "
__ADS_1