Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 45


__ADS_3

Selesai menjalankan malam pertama yang tertunda dengan waktu yang cukup lama. Devan juga Siska kembali tertidur saat matahari sudah semakin meninggi.


tok


tok


tok


mendengar suara pintu di ketuk dari luar Siska membuka matanya dan melihat ke arah suaminya.


"mas bangun ada yang mengetuk pintu, " ucapnya pelan.


"tuan, nyonya" panggilnya dari luar.


"mas bangun, ini di luar ada yang memanggil" Devan membuka matanya kemudian tersenyum ke arah Siska dan memeluk nya dengan erat. "boleh sekali lagi?" pinta nya dengan wajah menggemaskan.


bugkh


siska memukul lengan Devan "kamu ini mas, punyaku masih linu dan sakit kamu udah minta nambah lagi huh" ucapnya sambil melotot. Devan terkekeh melihat expresi Siska.


"sudah bangun, itu di luar ada yang ngetok dan manggil mungkin ada hal penting aku gak kuat jalan ini perih" ucapnya manja.


Devan segera bangkit dan turun dari ranjang dengan keadaan tubuh yang polos tidak tertutupi apapun. Siska segera memalingkan wajahnya malu. setelah melakukan adegan tadi dengan suaminya entah kenapa siska menjadi malu masih terbayang bagaimana perkasa dan buas nya Devan saat menggagahinya juga suara suara laknat yang lolos begitu saja dari mulut nya. wajah Siska sudah memanas saat mengingat kembali ulah mereka berdua tadi.


"kamu kenapa wajahnya merah gitu" goda Devan setelah memakai handuknya.


"mas ih, sana buka pintunya " Siska menutup tubuh juga kepalanya dengan selimut. Devan terkekeh pelan dan berjalan ke arah pintu.


"ada apa?" tanya nya.


"kata tuan Marco ada yang mau di sampaikan tuan, beliau menunggu di ruang kerja dari satu jam yang lalu" ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"baiklah sebentar lagi saya ke sana" setelah pamit dengan majikan nya pelayan itu pun pergi lagi ke lantai bawah.


Devan menutup dan mengunci lagi pintu kamar nya lalu berjalan ke arah Siska yang tengah duduk di atas ranjang dengan memakai selimut karena tubuhnya yang polos tanpa busana.

__ADS_1


"mas, aku mau mandi" ucapnya dengan manja.


Devan mendekat dan segera menggendong Siska yang dalam keadaan polos itu masuk kedalam kamar mandi dan mendudukan nya di atas closet, setelah Devan mengisi bathtub nya dengan air hangat baru lah Siska masuk kedalam bathub untuk berendam.


sementara Devan dia mandi di bawah guyuran air shower, Siska menatap suaminya yang tengah mandi "perasaan itunya tadi besar deh pas masuk, ko sekarang ciut kecil gitu yah" Siska masih memandang ke arah suaminya. sadar Siska tengah memperhatikan bagian sensitif nya Devan pun menggoda istrinya.


"kenapa lihatin sampai segitunya, mau nyoba lagi? " tanya nya dengan tatapan nakal. Siska reflek menggelengkan kepalanya.


"enggak, bukan aku mau ngulang yang tadi, aku cuma heran perasaan tadi pas masuk itu kamu besar deh mas, tapi sekarang ko kecil gitu " ucapnya tanpa malu.


"oh ini kan tongkat pusaka ajaib, dia akan bangun kalau 'umau masuk kedalam goa" ucapnya. siska pun manggut manggut sambil memikirkan ucapan suaminya yang belum masuk kedalam otaknya. selesai mandi Devan segera memakai handuk nya dan berjalan keluar dari kamar mandi.


setelah memakai pakaian nya Devan segera keluar dari dalam kamar dan masuk kedalam ruang kerja nya disana sudah ada Marco yang duduk dengan 3 cangkir kopi dengan dua piring cemilan. 2 jam sudah Marco menunggu tuan nya didalam ruang kerja.


melihat kedatangan tuan nya Marco pun melihat ke arah pintu sambil mencebikan bibirnya.


"kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya nya sambil menatap tajam ke arah Marco yang sedang tersenyum mengejek ke arah nya.


"tidak ada tuan, ternyata nyonya cukup buas juga ya tuan" ucap nya sambil terkekeh. Devan melotot mendengar ucapan Marco " apa maksud mu hah" bentaknya.


"ya ampun Siska kenapa bikin tandanya di sini" gumam nya sambil meraba leher nya yang penuh dengan dengan tanda kepemilikan yang Siska berikan.


"jangan mentertawakan ku nanti kau juga akan merasakan nya" ucapnya menahan malu.


"jadi apa yang ingin kau katakan?" tanya nya.


"emm orang suruhan tuan Ghaffar sudah memberi tahu di mana letak tempat tuan Ghaffar menyembunyikan tawanan nya, kita kapan akan bergerak tuan?" tanya nya.


"malam ini kita berangkat ke sana, persiapkan anak buat yang sudah terlatih untuk menemani kita ke sana" ucapnya sambil meminum jus apel yang sudah tersaji di meja kerja nya.


"sepertinya kita tidak usah terlalu banyak membawa anak buah tuan, itu tempat menyembunyikan tawanan bukan markas mereka, jadi menurut saya di sana tidak akan terlalu banyak anak buah tuan Ghaffar"


"hmmm, baiklah sekarang apa lagi yang akan kau sampikan?" tanya nya.


"ini tentang perusahaan tuan, ada sebuah nama yang mencurigakan yang ingin menembus masuk ke privasi perusahaan kita tuan," Devan mengerutkan dahinya mendengar ucapan Marco.

__ADS_1


"siapa orang yang dengan beraninya ingin menembus privasi perusahaan kita? atau masih ada hubungan nya dengan yang kemarin itu?" tanya nya.


"tidak tuan, ini berbeda " Devan mengangguk mengerti.


"baiklah, perketat pertahan kita, jangan sampai kebobolan mengerti,! " Marco mengangguk mengerti.


Devan keluar dari ruang kerja nya dan berjalan menuju kamar nya, di lihat isi kamar sudah kosong dari kamar mandi pun tak terdengar suara orang mandi sepertinya Siska sudah turun ke bawah pikirnya.


dan benar saja Siska sudah duduk dengan manis sambil menikmati makanannya.


"makan tidak ajak ajak, kenapa tidak memanggilku?" tanya nya kemudian duduk di samping istrinya.


"loh ko duduk di situ, ituloh kursi kebanggaan mu menganggur"


"aku hanya sedang ingin dekat dengan mu" Siska mencebikan bibirnya.


"gak usah mancing mas kamu gak bakal dapat ikan, dapat nya telor balado tuh" mengerti apa maksud istrinya devan terkekeh pelan.


"kenapa kamu sangat peka sih"


"Siska gitu loh" ucapnya sambil berdiri hendak mengambil kan makanan untuk suaminya namun segera di cegah oleh Devan. Siska menatap Devan dengan heran.


"kenapa mas? kamu gak mau makan? "


"mau tapi kita makan satu piring berdua saja yah, aku ingin mencoba makan dari suapan tangan istri" ucapnya sambil tersenyum manis.


"mas, sejak kapan kamu berubah menjadi kucing manis seperti ini hmm"


"sejak, kapann yah " Devan memegang dagunya dan berpura pura mikir.


"his kamu ini, " Siska menyuapi suaminya dengan penuh cinta, dia sangat bersyukur akhirnya suaminya es nya sudah bisa mencair.


"mas, aku ingin ke tempat Indah apa boleh?"


𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙩𝙮𝙥𝙤 𝙢𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙖𝙛 𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙝, 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙠 𝙥𝙪𝙨𝙞𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙣𝙮𝙖, 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙧𝙚𝙫𝙞𝙨𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞 😊

__ADS_1


__ADS_2