
Sampai di rumah sakit Kania langsung di larikan ke IGD dan segera di lakukan pemeriksaan, sementara Bagas membawa Siska yang mengalami luka lecet di siku juga lututnya segera di bawa ke ruang pemeriksaan khusus balita.
setelah mengobati anaknya dan menitipkan Siska pada pelayannya Bagas bergegas untuk menemui dokter yang memeriksa istrinya. dengan langkah cepat Bagas memasuki IGD.
"bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya nya. Bagas tak dapat menyembunyikan perasaan cemas nya sangat terlihat jelas dari raut wajahnya.
"istri anda mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepala, hal itu membuat istri anda mengalami kritis, apa istri anda ada riwayat penyakit lain?"
"istri saya sedang dalam masa pengobatan dok, dia mengidap sakit kanker stadium 3 "
"banyak berdoa saja ya pak, smoga ada keajaiban untuk istri anda"
"apa saya boleh melihat istri saya dok?" tanya nya dengan suara serak menahan tangis.
"boleh pak, nanti istri anda akan di pindahkan ke ruang ICU anda boleh melihatnya sekarang " ucapnya. Bagas pun mengangguk dan segera masuk kedalam ruang tempat istrinya di rawat.
Bagas berjalan dengan kaki lemas, tubuhnya bergetar menahan tangis melihat sang istri terbaring lemah tak berdaya di tubuhnya terpasang beberapa alat untuk membantunya tetap bertahan hidup suami mana yang sanggup tegar melihat keadaan istrinya seperti ini.
"mah," tenggorokan seakan tercekat, Bagas tak kuasa menahan air matanya, akhirnya dia pun menangis terisak di samping istrinya, di genggamnya tangan kania dengan penuh kasih sayang.
"mama, tolong bertahanlah untuk anak anak kita, papa mohon Dimas dengan Siska masih membutuhkan mama, begitupun papa. papa gak sanggup hidup tanpa kehadiran mama" Bagas menciumi punggung tangan istri nya. tanpa Bagas duga jari istrinya bergerak meski hanya perlahan.
"Alhamdulillah mama sadar, mah?" tanya nya sambil menatap wajah sang istri yang perlahan membuka matanya.
"pah" panggilnya pelan nyaris tak terdengar.
"mama jangan banyak bicara dulu, biar papa panggilkan dokter untuk cek kondisi mama yah" Bagas bangkit tapi tangan nya di tarik oleh Kania.
"jangan ke mana mana pah, temenin mama di sini. pah mama gak kuat lagi nafas mama sesek pah." ucapnya dengan nafas tersengal sengal.
__ADS_1
"mama jangan bicara begitu, sudah tunggu di sini papa panggilkan dokter ya mah" Kania menggeleng kan kepalanya..
"jangan pah, temenin mama di sini, mama takut" ucapnya lemah. "pah, papa cari Arumi nanti ya pah, kalau ketemu pertahankan dia jadikan dia satu satunya ibu untuk anak anak kita, pah mama Minta tolong sama papa tolong papa jaga janji mama dengan arumi, mama berjanji dengan arumi tidak akan mengatakan kalau Siska bukan anak mama, biarkan siska mengetahui kalau dia hanya anak kita pah, Siska anak nya mama. mama yakin suatu saat nanti arumi akan kembali biar dia yang menjelaskan semuanya, tolong papa janji sama mama pah, tolong"
"iya papa janji sama mama, papa gak akan kasih tau Siska, sebelum arumi ketemu" ucapnya sambil menggenggam dengan erat tangan istrinya.
"mama udah gak kuat pah, mama ingin bertemu anak anak" ucapnya semakin lemah.
"mama pasti kuat, mama harus kuat demi kami" Nafas kania pun semakin lama semakin berat dan terlihat tarikan nafasnya hanya ke atas, di hadapan Bagas Kania menghembuskan nafas terakhir nya.
"mama, mama tolong bertahan demi papa dan anak anak mah, papa mohon" Bagas menangis meraung raung dalam ruangan itu, mendengar suara tangisan bagas yang begitu kencang dokter juga perawat pun masuk kedalam dan segera melakukan pemeriksaan terhadap Kania.
"maaf Pak, istri anda sudah berpulang ke pangkuan ilahi, bapa yang sabar dan ikhlas ya pak, kami turut berduka cita " tangisan Bagas semakin menjadi setelah mendengar ucapan dokter, dia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun hanya tangisan yang mewakili perasaan nya saat ini.
Bagas menatap dan menciumi wajah pucat nan teduh istrinya, wajah kania terlihat bercahaya dan begitu Damai gurat senyum terlihat meski samar.
flashback of
"maafkan Dimas pah" ucapnya menyesal.
" jangan pernah menyalahkan Siska dalam masalah ini ya nak, papa yang salah di sini. papa yang sudah menghianati mama mu" ucapnya dengan suara serak. melihat sang papa yang berderai air mata membuat hati Dimas menjadi tak tega. Dimas terdiam di tempatnya dia pun pamit dengan pak bagas untuk pulang ke rumah.
Setelah Dimas keluar pak bagas kembali merenung, mengingat masa masa sulit di tinggal dua wanita sekaligus 18 tahun sudah Arumi pergi tanpa jejak sampai membuat pak bagas menyerah untuk mencari nya.
****
pagi harinya Siska terbangun lebih dulu, di lihatnya Devan masih tertidur dengan lelap di samping nya. "makasih ya mas, kamu sudah jadi suami terbaik untukku" Siska menyentuh dengan lembut wajah suaminya yang terlihat damai saat memejam kan matanya.
"sudah puas memandang wajahku?" Devan membuka matanya menatap wajah istrinya yang memerah dan jadi salah tingkah.
__ADS_1
Siska menutup wajahnya dengan telapak tangan, dan segera bangkit namun belum sempat kakinya menyentuh lantai Devan menarik Siska kedalam dekapan nya mereka saling tatap sesaat, kemudian
cup
Devan mengecup singkat bibir istri kecilnya. "morning kiss my little wife" ucapnya sambil tersenyum. hal itu sontak membuat wajah Siska jadi memerah dan malu malu.
melihat istrinya salah tingkah Devan segera bangkit dan meninggalkan Siska yang masih mematung di tempatnya.
Devan masuk kedalam kamar mandi, dan mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air shower setelah selesai dia pun keluar dari dalam kamar mandi, di lihatnya Siska sudah selesai membereskan tempat tidur juga menyiapkan baju untuknya.
"mas kita pulang ke Jakarta kapan?" tanya nya.
"nanti aku urus semua keperluan untuk memindahkan papa ke rumah sakit yang ada di jakarta dulu, baru kita pulang"
"hemm baiklah" ucapnya sambil masuk kedalam kamar mandi.
"sayang mas turun duluan" teriaknya dari balik pintu.
"oke" selesai membersihkan tubuhnya Siska keluar dari dalam kamar mandi dengan penampilan yang sudah lebih segar. dia pun duduk di depan meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah.
setelah selesai bersiap, siska keluar dari dalam kamar dan menyusul suaminya yang sudah turun lebih dulu "mas," Devan yang tengah pokus dengan ponselnya pun menoleh.
"ya sayang"
"kamu nanti mau ke kantor lagi? tanya nya.
" iya ada beberapa pekerjaan yang harus mas selesaikan sebelum kita pulang ke Jakarta, kemungkinan mas nanti akan lembur, kamu mau nunggu di rumah sakit apa mau di jemput supir nanti?" tanya nya memastikan.
"aku nunggu kamu aja deh di rumah sakit, malas di rumah kalau kamunya gak ada" ucapnya.
__ADS_1
selesai sarapan keduanya pun menaiki mobil dan segera berangkat untuk mengantar Siska terlebih dahulu ke rumah sakit, di mana ayahnya di rawat.