
"ini den satenya" Devan sampai terjingkat kaget saat dirinya tengah melamun tiba tiba di panggil oleh tukang sate.
"Terima kasih pak" bapa itu pun mengangguk sambil tersenyum, Devan bergegas melangkah dan masuk kedalam mobilnya. siska yang melihat suaminya seperti orang yang sedang terancam itupun menjadi heran di buatnya.
" kamu kenapa mas, kaya orang ketakutan gitu, ada apa? tanya nya heran.
"sebaiknya kita segera pulang, gak aman kita terlalu lama di sini " Siska semakin heran saja dengan kelakuan suaminya.
mobil yang di bawa Devan pun melaju dengan kecepatan tinggi, "mas kamu apa apaan sih, udah bosen hidup kamu yah, kalau mau mati jangan ngajak ngajak" gerutu siska yang ketakutan.
"pegangan sayang, kita harus cepat sampai rumah" ucapnya. akhirnya Siska pun hanya bisa pasrah saat suaminya membawa mobil dengan kecepatan tinggi sampai mobil yang dia tumpangi terasa seperti melayang.
***
Seminggu sudah pak Bagas di rawat di rumah sakit, " apa saya sudah boleh melihat papa saya dok?"
"Kita tunggu profesor Ricardo datang dulu ya, baru nanti saya kasih keputusan nya" Siska mengangguk mengerti.
Tak lama kemudian yang di tunggu pun tiba, pintu terbuka dan munculah profesor Ricardo dari balik pintu.
"Selamat siang " sapanya.
"Siang prof" profesor Ricardo duduk di salah satu kursi yang ada dalam ruangan itu.
"Jadi bagaimana prof?" Tanya Siska tak sabar .
"Racun nya sudah hilang sedikit demi sedikit, tapi saya masih harus terus memantau keadaan pak Bagas selama berapa hari kedepan untuk melihat racun nya benar benar sudah tak tersisa di dalam tubuh tuan Bagas" Siska menghembuskan nafas nya lega setelah mendengar penuturan profesor Ricardo.
"Jadi apa sekarang saya boleh melihat papa saya dok?" Tanya nya.
__ADS_1
"Boleh nyonya, silahkan anda masuk tapi hanya boleh menjenguk paling lama 30 menit, karena pasien masih dalam tahap pemulihan " Siska mengangguk dia begitu senang akhirnya bisa bertemu dengan papa yang sangat dia rindukan.
Siska pamit keluar dari dalam ruangan dokter yang memantau terus keadaan papanya, dan melangkah kan kakinya masuk kedalam ruang perawatan sang papa, di lihatnya sang papa masih betah memejamkan matanya. Siska menghampiri pak Bagas dengan mata berkaca-kaca , "papa, kenapa papa bisa sampai begini" Siska mulai terisak di samping sang papa yang sepertinya tidak merasa terganggu sama sekali.
"Papa, bangun lah Siska kangen papa peluk, Siska kangen papa omelin tolong bangun pa,! papa tau, Siska ketemu kakak Minggu lalu dia tetap tidak berubah pah, kakak masih membenci Siska, kalau papa bangun Siska akan memaksa papa untuk menjelaskan semuanya, agar kesalah pahaman ini segera berakhir, Siska yakin kakak hanya salah paham bukan karena dia membenci Siska." Adunya sambil terus mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
Siska menyentuh dan mengusap wajah pak Bagas yang sangat terlihat kurus, tubuhnya juga tak terawat dan penuh dengan luka sayatan juga luka memar. Hati siska semakin terasa sakit saat menyentuh tangan pak Bagas yang sudah kehilangan beberapa jarinya.
"Papa " ucapnya dengan suara isakan yang terdengar memilukan. Tak terasa waktu berputar begitu cepat seorang perawat datang memberitahu Siska kalau jam besuk sudah habis,dan bisa kembali esok hari.
"Maaf nyonya, waktu besuk sudah habis, anda bisa kembali lagi besok" ucapnya ramah.
"Baik sus terima kasih, tolong jaga papa saya ya sus" perawat itupun mengangguk "sudah kewajiban kami nyonya"
Siska melepas baju khusus untuk menjenguk pasien di ruang ICU dan keluar dari dalam ruangan perawatan papa nya.
"Mas,kamu kapan datang ?" Tanya nya setengah terkejut pas keluar dari dalam ruangan suaminya sudah duduk dengan manis di kursi tunggu.
"Belum, tapi perut sudah lapar"
"Ya sudah kita cari restoran untuk makan siang ya, kamu mau makan apa?
"Aku ikut kamu aja mas, lagi gak ada ide pengen makan apa" ucapnya.
Devan mengangguk dan langsung menggandeng lengan Siska membawa nya keluar dari rumah sakit, tanpa Marco ada di sisinya membuat Devan agak kelelahan sebetulnya karena jarak dari kantor Devan ke rumah sakit memakan waktu 2 jam, dan dari rumah sakit ke rumah nya memakan waktu 1 setengah jam.
Sebenarnya Devan bisa saja memerintahkan anak buah nya untuk menyetir mobil, tapi Devan tidak ingin ada yang mengganggu waktu nya bersama isterinya.
"Bagaimana keadaan papa,? aku belum sempat melihat papa"
__ADS_1
"Keadaan nya sudah lebih baik dan kondisi nya sudah stabil, tapi dokter harus tetap memantau papa , kalau nanti sudah agak mendingan setidaknya papa sudah sadar kita bawa papa ke Jakarta saja ya mas"
"Iya sayang boleh, nanti mas yang atur kalau keadaan papa sudah boleh di pindahkan."
setelah berkeliling untuk mencari restoran yang tepat Sampai lah mereka di salah satu restoran yang terkenal di kota Bali "kita makan di sini saja ya"
"oke mas, ayo kita keluar" Devan keluar dari dalam mobil lebih dulu lalu mengitari mobilnya dan membuka kan pintu untuk istrinya.
"Terima kasih mas" Devan tersenyum lembut ke arah siska, "bentar sayang, mas mau telpon para pengawal dulu " siska menghentikan langkah nya menunggu Devan yang baru saja mengeluarkan ponselnya mau menelpon anak buahnya.
"jo, dimana posisi?" tanya nya.
"saya ada di sekitar anda tuan, kalau mau masuk silahkan saya pantau terus dari sini" Devan menghela nafas lega.
"baiklah, terus awasi setiap gerak gerik orang yang masuk kedalam restoran, sudah dari seminggu yang lalu saya merasa seperti ada yang mengawasi setiap gerak gerik saya juga istri saya" ucapnya.
"baik tuan anda tenang saja,kami selalu pantau anda juga nyonya" setelah selesai Devan memutus sambungan telpon nya dan memasukan nya kedalam saku jas nya.
"sudah mas?" tanyanya.
"sudah sayang, ayo masuk" mereka pun masuk kedalam restoran, siska menggandeng lengan suaminya. setelah menemukan tempat untuk mereka duduk siska juga Devan mendudukkan bokongnya di kursi dan segera membuka buku menu untuk memilih menu makanan apa yang mereka inginkan.
"mau makan apa sayang? tanyanya.
" ini sepertinya enak mas, sama ini juga" siska menunjuk menu menu yang dia ingin kan. tak lama kemudian muncul seorang pelayan restoran tersebut.
"selamat siang tuan, nyonya, boleh saya catat mau pesan yang mana saja?" ucapnya dengan Ramah. Devan segera menyebutkan makanan yang ingin di makan nya dengan siska satu per satu.
"baik tuan, nyonya, mohon di tunggu sebentar" pelayanan itu pun kembali ke belakang untuk menyerahkan catatan pesanan pelanggan pada seorang koki di restoran itu.
__ADS_1
"sayang mas pergi ke toilet sebentar yah, tiba tiba ada panggilan alam" Siska hanya mengangguk dan kembali pokus dengan ponsel di tangan nya.
saat Siska tengah pokus dengan ponselnya seorang wanita datang menghampiri nya. "boleh saya duduk di sini?"