Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 66


__ADS_3

Siska membawa papanya masuk kedalam rumah barunya, rumah yang tak pantas di sebut rumah karena penampakan nya sudah seperti istana, saat menginjaknya kakinya di dalam mansion Siska kembali berkaca kaca, dia begitu terharu dia tidak pernah menyangka suami yang dulu nya bersikap dingin padanya sekarang menjadi orang yang begitu peduli terhadapnya.


Siska melihat ke setiap penjuru ruangan yang ada dalam mansion nya, semua barang yang terlihat begitu mewah sudah tertata dengan rapi.


"selamat datang nyonya, tuan, dan tuan besar" mbok yati datang beserta Lastri juga para pelayan yang lainnya.


"mbok sudah di sini? tanyanya terkejut pasalnya tadi pas dia akan berangkat menjemput papanya semua pelayan nya masih ada di rumah yang lama.


" mbok dan semua pelayan tadi berangkat ke sini setelah nyonya dan tuan berangkat ke rumah sakit untuk menjemput tuan besar" ucapnya sambil terkekeh pelan.


Siska melihat ke arah Devan yang tengah tersenyum ke arahnya "mas, kamu udah merencanakan ini berapa lama?" tanya nya.


"semenjak kamu bilang kalau ada orang yang mengincar rumah kita, di sini kita aman, dari pintu masuk pun sudah di jaga dengan ketat, di sini juga di lengkapi dengan CCTV di setiap penjuru rumah"


"kenapa kamu gak bilang sama aku mas" ucapnya dengan suara serak.


"namanya juga kejutan sayang, sudah sudah kita antar dulu papa ke kamarnya, kasian papa ingin istirahat" Siska pun mengangguk dia mendorong dengan perlahan kursi roda papanya mengikuti Devan yang berjalan lebih dulu.


"nah ini kamar papa, papa sekarang istirahat yah, nanti akan ada perawat yang membantu papa sampai sehat" pak bagas mengangguk sambil tersenyum dia begitu bersyukur bisa dapat menantu sebaik Devan.


"mas, kenapa harus sewa perawat kan ada aku di sini aku bisa ko merawat papa "


"nak, kamu itu bukan perawat papa ada yang lebih berhak kamu rawat yaitu suami kamu, penuhi semua kebutuhan suami mu, biar papa dengan perawat saja" ucap pak bagas. Siska melirik suaminya yang sedang menahan senyumnya.


"ya sudah sekarang papa istirahat ya, biar cepet sehat" tak ingin berdebat dengan sang papa Siska pun segera membatu pak bagas untuk naik ke atas ranjang dan menyelimuti nya.


"baik baik disini nanti Siska datang lagi, untuk mengantar kan makanan" pak bagas mengangguk "papa sudah seperti anak kecil yang di atur orang tuanya sekarang " ucapnya.


Siska tertawa mendengar ucapan papanya. setelah pamit Siska pun keluar dari dalam kamar papanya.


tanpa aba aba Devan langsung mengangkat tubuh Siska dan membawa nya masuk kedalam kamar mereka yang terlihat dua kali lipat lebih besar dari yang di rumah nya yang lama. Devan menurunkan Siska dan merebahkannya di atas kasur, mereka saling tatap sambil tersenyum mesra. saat Devan mendekatkan bibirnya tiba tiba wajah Siska memerah "hueekkkk" Siska mendorong tubuh Devan dan masuk kedalam kamar mandi, Devan yang panik pun langsung menyusul istrinya masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


"sayang, kamu kenapa?" tanya panik. melihat Siska yang terus memuntahkan makanan yang dia makan tadi pagi membuat Devan menjadi kalang kabut.


"sayang, " Devan memijat tengkuk Siska tanpa merasa jijik sama sekali meski begitu banyak muntah Siska di dalam wastafel.


Siska mengelap mulutnya dengan tisu saat muntah nya sudah berhenti, perutnya terasa bergejolak, dada nya sakit, dan tenggorokan nya terasa panas. tanpa berkata apa apa Siska luruh ke lantai, tubuhnya terasa begitu lemas setelah mengeluarkan sarapan nya tadi pagi.


Devan mengangkat tubuh Siska dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi Devan segera merebahkan Siska di atas kasur, dan segera menelpon mbok yati untuk membuatkan minuman hangat untuk istrinya.


"masih gak nyaman? tanya nya. Siska mengangguk kan kepalanya, dia memang merasa tak nyaman dengan tubuhnya.


tok


tok


tok


" masuk mbok" sahutnya dari dalam. mbok yati pun masuk sambil membawa segelas teh hangat untuk Siska.


"nyonya kenapa tuan,wajahnya pucat sekali, perlu mbok panggilkan dokter?" tanya nya panik.


"tidak usah mbok, Siska hanya masuk angin biasa, nanti tolong bawakan tolak angin dengan teh hangat lagi ya mbok" Siska yang sudah merasa lebih baik pun tak ingin dia di periksa, dia hanya takut jika nanti dia akan di suntik.


"bibi tolong bersihkan kamar mandi yah, tadi Siska muntah banyak sekali" ucapnya lemah.


"biar mbok bersihkan, nyonya sekarang istirahat" ucapnya. setelah mengambil gelas dari tangan tuannya mbok yati menyimpan lebih dulu gelas itu ke bawah, lalu kembali lagi ke kamar Siska dengan peralatan untuk membersihkan kamar mandi.


"sayang kamu beneran gak apa? biar kita ke rumah sakit aja yah, mungkin kamu butuh di suntik atau di infus, kamu terlihat begitu pucat dan lemas" ucapnya tak tega melihat Siska dengan wajah pucat seperti sekarang ini.


"gak usah mas, aku gak apa ko, kamu tiduran sini pengen peluk kamu" ucapnya manja. Devan pun dengan senang hati menemani istrinya untuk tidur. Devan mengelus dengan lembut rambut istrinya sampai Siska tertidur dengan lelap.


setelah di rasa istrinya tertidur dengan pulas Devan keluar dari dalam kamar dan turun ke bawah untuk menemui Marco. melihat tuannya turun Marco segera berdiri dan membungkukan tubuhnya.

__ADS_1


"kita bicara di ruang kerja saja" Marco mengikuti tuannya masuk kedalam ruang kerja baru Devan.


"bagaimana ?" tanya nya.


"orang yang ingin bertemu dengan anda bernama Aksa, dia berasal dari perdesaan di kota xx, bertujuan menemui anda untuk meminta pertolongan".


" pertolongan?" tanya nya memastikan.


"ya tuan, tapi dia tidak menjelaskan apa maksud dan tujuan nya yang sebenernya dia keburu pergi dengan sahabatnya, dia hanya bilang kalau dia ingin bertemu dengan anda dan sangat membutuhkan bantuan dari Anda tuan" ucapnya.


"Devan mengangguk, baiklah jadwal kan kapan saya bisa bertemu dengan orang itu"


"baik tuan" setelah selesai Marco segera keluar dari dalam ruang kerja devan, dan membiarkan atasanya mengerjakan apa yang dia berikan barusan.


Devan pokus dengan kerjaan nya, memeriksa satu persatu berkas yang di berikan oleh marco padanya. karena terlalu fokus sampai tak terasa waktu sudah menujukan pukul 6 sore hari, Devan segera menyelesaikan pekerjaan nya setelah selesai Devan menutup laptopnya dan keluar dari dalam ruang kerjanya.


saat masuk kedalam kamar terdengar suara Siska yang tengah muntah muntah di dalam kamar mandi, Devan segera berlari masuk kedalam kamar mandi karena pintu yang terbuka memudahkan dia untuk masuk kedalam.


"sayang, kamu muntah lagi, kita ke rumah sakit yah" Siska yang sudah lemas pun tak mampu menjawab ucapan suami nya, tubuhnya perlahan lahan melemah dan kesadaran nya pun hilang. Devan yang panik pun segera menggendong istrinya dan membawanya menuruni satu persatu anak tangga.


"nyonya kenapa tuan?" tanya mbok yati dengan raut wajah yang panik.


"Siska pingsan mbok, saya akan bawa Siska ke rumah sakit dulu"


Devan dengan cepat memasukan istrinya kedalam mobil tanpa meminta bantuan sopir dia melajukan mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi. karena jarak rumah sakit tak begitu jauh dari rumahnya yang baru, Devan pun sudah sampai di depan rumah sakit. setelah memarkirkan mobilnya devan menggendong istrinya masuk kedalam IGD untuk segera mendapat perawatan.


"dokter tolong istri saya dok" Devan meletakan istrinya di atas bangsal rumah sakit, dokter pun dengan sigap memeriksa kondisi Siska.


Devan menatap wajah istrinya yang terlihat begitu pucat, "istri saya kenapa dokter?" tanyanya penasaran.


"istri anda"

__ADS_1


__ADS_2