
Setelah menjemput istrinya di kampus sekarang mereka sudah berada di restoran yang terkenal di jakarta, Devan membawa istrinya makan siang di restoran mewah untuk merayakan hari ulang tahun Siska.
"mas, boleh yah mba Deby sama mas indra ikut masuk kedalam, aku pengen traktir mereka juga" ucapnya sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"boleh sayang, " Siska tersenyum senang mendengar jawaban suaminya mereka pun turun dari mobil dan masuk kedalam restoran.
"mba Deby, mas indra mau makan bersama apa mau misah? tanya nya.
" kami makan terpisah aja nyonya, tuan, kami makan di sana saja" ucap Deby sambil menunjuk salah satu meja yang yang tak jauh dari meja yang di pilih Siska.
"baiklah, oh iya itu pengawal yang di luar sekalian di ajak makan juga ya mas" ucapnya. Devan mengangguk sambil tersenyum pada istrinya.
"mau pesan apa?" tanya Devan.
"ini kayanya enak deh, aku mau pesan yang ini, ini juga ini tambah ini juga" Siska menunjuk semua makanan yang dia ingin kan. Devan sampai geleng geleng kepala melihat tingkah Siska.
"kamu yakin bisa menghabiskan ini semua, nanti kalau sampai gak habis siapa yang mau habisin?" tanya Devan.
"kamu lah mas, siapa lagi" mata Devan terbelalak mendengar ucapan istrinya. sungguh kelakuan siska kadang membuat Devan tak mampu berkata kata.
"ya sudah pesan semua yang kamu mau" ucapnya. Siska tersenyum girang dia pun memangil pelayan dan segera memesan makanan yang dia inginkan.
"mas, mengenai papa aku masih berat melepas papa untuk tinggal lagi di bali, bagaimana kalau sampai papa nanti di culik lagi " Siska mencurahkan isi hatinya pada suaminya.
"kan tadi sudah mas bilang sayang, papa akan aman, mas akan jaga papa meski bukan secara langsung, nanti mas kerahkan semua anak buah mas yang ada di mansion kita yang di bali untuk menjaga papa, agar papa aman" ucapnya menenangkan sang istri.
__ADS_1
"sudah jangan terlalu di pikirkan.! Oh iya bulan depan momy sama Dady ulang tahun pernikahan yang ke 41 kita akan buat kejutan untuk mereka" Siska menatap suaminya sambil tersenyum.
"kita mau buat kejutan seperti apa mas?" tanya nya penasaran.
"nanti mas kasih tau, kalau momy telpon kamu dan nyuruh kita datang ke sana bilang saja tidak bisa datang " ucapnya. "nanti kita di sana selain berkunjung ke tempat momy dan dady kita juga akan bulan madu" Mendengar ucapan suaminya Siska menunduk malu. tak lama kemudian makanan mereka pun tiba, setelah pelayan menyimpan di atas meja Siska langsung memakan makanannya dengan begitu lahap.
selesai makan Siska mengajak Suaminya untuk langsung pulang saja karena dirinya ingin menemani sang papa yang akan menjalani terapi sore nanti.
"sudah selesai kan, apa ada yang tertinggal?" tanya Devan yang langsung mendapat kan jawaban dengan gelengan kepala.
Siska menggandeng lengan suaminya keluar dari dalam restoran. "Sayang perut mas mulas, kamu masuk lah duluan ke mobil nanti mas nyusul" ucapnya.
"oke" Siska berjalan sambil membawa kontak mobil milik suaminya dengan di ikuti oleh Deby juga indra di belakang nya. saat sudah masuk kedalam mobil lagi lagi Siska melihat Dimas tengah bersama dengan seorang perempuan, tapi sayang hanya terlihat punggungnya saja karena wanita itu keburu masuk kedalam mobil. Dimas melambaikan tangan sambil tersenyum saat mobil perempuan itu melaju dan mulai menjauh dari restoran.
"sayang kamu kenapa?" tanya Devan yang baru masuk kedalam mobilnya. yang sontak saja membuat Siska terkejut dan memegang dadanya.
"maaf, tadi kamu kenapa bengong? lihat apa?" tanya nya penasaran.
"tadi aku lihat kak Dimas dengan wanita itu lagi mas, wanita yang waktu itu pernah kulihat di restoran tempat kita makan soto" Devan mengerutkan kening nya.
"memang nya kenapa kalau kakak kamu dekat dengan wanita? toh usia kakak kamu sudah matang untuk memiliki kekasih bukan?"
"bukan seperti itu mas, aku takut kalau wanita itu_" Siska gak melanjutkan lagi ucapan nya. suaminya tidak boleh sampai tau kalau waktu di bali siska pernah di datangi oleh mantan kekasihnya dan mengancamnya.
"wanita itu siapa sayang?" tanya nya makin penasaran.
__ADS_1
"aku hanya takut wanita itu hanya mengincar harta kekayaan kak Dimas, bukan benar benar mencintai kak Dimas" Siska terpaksa berbohong, belum saat nya suaminya tahu. hanya satu yang siska takut kan Siska begitu takut kalau perempuan yang tengah dekat dengan kakak nya itu adalah jesica, jika benar itu adalah jesica sudah pasti jesica akan memanfaatkan Dimas untuk membalas dendam dengan Siska juga Devan.
"sudah lah sayang, kak Dimas sudah pasti tau mana yang terbaik untuk hidupnya," ucap Devan. siska menghela nafas berat, feeling nya mengatakan akan ada kekacauan yang akan datang di kemudian hari tapi entah kapan hal itu akan terjadi. "sepertinya aku harus mulai waspada, keluarga Ghaffar bukan orang sembarangan, dia gak akan melepaskan ku dengan papa begitu saja, aku harus menemui guruku secepatnya" ucapnya dalam hati.
"sayang?" Devan menyentuh dengan lembut tangan istrinya yang masih terdiam dengan tatapan kosong. "sayang?" panggilnya lagi.
"ah, ya, kenapa mas?" tanya nya dengan bingung.
"kenapa masih saja bengong? apa ada masalah? coba cerita sama mas mungkin mas bisa bantu" tawarnya.
"gak ada ko mas, aku hanya merasa kekenyangan" ucapnya sambil terkekeh. Tapi bukan Devan namanya kalau dia tidak bisa membaca raut wajah istrinya. sangat terlihat jelas di mata Devan kalau Siska tengah menyembunyikan sesuatu dari nya, tapi Devan tak bisa memaksa Siska untuk mengatakan masalah nya sekarang. setengah tahun rumah tangga dengan Siska sedikit banyak nya Devan mulai mengetahui bagaimana sifat istrinya.
"ya sudah kita pulang sekarang" siska mengangguk. Devan pun menjalankan mobilnya dengan perlahan keluar dari tempat parkir.
___
Sampai di mansion Devan keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk istrinya. Siska turun dari mobil dan langsung masuk kedalam mansion di lihatnya sang papa tengah menjalani terapi nya dengan seorang dokter ahli yang sengaja Devan panggil khusus untuk membantu papa siska untuk latihan berjalan.
"wah papa sudah banyak kemajuan sekarang" Siska berjalan menghampiri sang papa yang tengah berlatih berjalan dengan tertatih tatih.
melihat anaknya datang pak bagas menghentikan aktifitas nya dan meminta perawatnya membawa kursi roda nya untuk dirinya duduk.
"sudah pulang sayang?" tanya nya basa basi.
"ya, Siska sudah di rumah berarti sudah pulang papa" ucapnya sambil tersenyum ke arah sang papa yang juga terkekeh mendengar ucapan putrinya. Siska mendekat dan mengulurkan tangannya untuk mencium tangan sang papa.
__ADS_1
"permisi "