Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 33


__ADS_3

"akhhhhh" teriaknya saat salah satu pemain di kejar kejar oleh sosok bayangan hitam. Siska melihat ke arah adik ipar nya yang tengah menutup mulut dengan telapak tangannya.


"kenapa rel? " tanya nya dengan polos. Farel menggelengkan kepalanya.


***


2 jam berlalu akhirnya lampu dalam ruangan gelap itupun menyala. satu persatu para penonton keluar ruangan dengan tertib. Siska melihat ke arah Farel yang tampak pucat pasi. "ya ampun, rel kamu kenapa, ko bisa sampe begini kamu sakit?" tanya nya. di sentuh nya tangan Farel yang terasa dingin tatapan nya pun masih kosong.


"Rel" panggilnya.


"akhhhh" Farel berteriak ketakutan. "hei ini aku, kamu kenapa sih " Farel menatap Siska mungkin dia baru sadar sekarang.


"ayok pulang kak" ucapnya. baru berdiri tiba tiba Farel ambruk.


brukkk


"Farel ya ampun, tolong" Siska berteriak meminta pertolongan pada security yang ada di sana. tak lama kemudian dua security pun datang salah satunya membawa kursi roda. mereka membawa Farel yang tak sadar kan diri dan membantunya masuk kedalam mobil.


setelah memberikan dua orang security itu uang tanda Terima kasih Siska pun masuk kedalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi.


sesampainya di rumah Siska memanggil dua penjaga di rumah mama mertuanya, para penjaga itupun membawa Farel yang masih lemas karena pingsan masuk ke dalam rumah dan meletakan nya di atas kasur.


"Farel kenapa Siska ko bisa sampai pingsan? " tanya momy Celine sambil masuk kedalam kamar membawa minyak kayu putih.


"gak tau mom, tadi kan kita hanya nonton film horor di bioskop mom gak ngelakuin hal aneh aneh" jelas Siska.

__ADS_1


"ya ampun pantesan, Farel itu paling gak bisa nonton film horor Siska " ucap momy Celine sambil tertawa "terakhir dia nonton film horor sama kakak nya dulu tahun 2017 , dan berujung masuk rumah sakit" momy Celine menjelaskan. Siska membulat kan matanya terkejut mendengar ucapan momy Celine.


"Apa mom, masuk rumah sakit?" momy Celine mengangguk. "maaf ya mom, gara gara Siska ajak Farel nonton film horor sampai bikin Farel pingsan" ucapnya merasa bersalah. "Siska gak tau kalau Farel punya trauma ketakutan yang berlebihan saat nonton film horor" momy Celine mengusap bahu menantunya.


"gak PP sayang, sekarang kamu masuk ke kamar momy mau rawat Farel dulu " Siska pun mengangguk patuh dia naik ke lantai 2 dan masuk kedalam kamar nya.


********


seminggu telah berlalu, Devan masih tak putus semangat mencari keberadaan Siska dengan mengerahkan seluruh anak buahnya "aku harus secepatnya mengetahui keberadaan Siska sebelum momy juga dady mengetahui semuanya " gumam nya. "Di mana kamu Siska, maaf kan aku sekarang baru terasa gak ada kamu aku kesepian " ucapnya sambil menatap langit langit.


tok


tok


tok


"bagaimana apa sudah ada kabar dari anak buah kita? tanya nya.


" emm belum tuan, saya hanya ingin memberi tahu kalau tuan besar menyuruh anda datang ke rumah nya nanti malam " Devan menatap Marco dan mengerutkan kening nya, tatapan Devan penuh dengan curiga.


"jangan bilang kalau kamu sudah memberitahu kan masalah ini pada Dady" Devan menatap Marco dengan tatapan tajam. Marco salah tingkah di buat nya membuat Devan semakin menaruh curiga terhadap nya..


"eh enggak tuan, tuan besar mengundang anda datang karena tuan Farel juga sedang ada di rumah jadi tuan besar ingin anda kerumah untuk makan malam bersama" ucapnya.


"terus apa yang harus saya katakan sama mereka kalau sampai mereka bertanya di mana Siska? kenapa Siska gak ikut datang bersama ku, apa yang harus saya katakan Marco?" Devan mengusap wajah nya kasar. Gurat gurat kecemasan sangat terlihat jelas di wajah tampannya.

__ADS_1


"ya dengan terpaksa anda harus menceritakan semuanya tuan, siapa tau tuan dan nyonya besar bisa membantu anda untuk mencari di mana keberadaan Siska" ucapnya santai. Marco sangat ingin tertawa melihat expresi tuan nya tapi juga ada sedikit rasa tak tega melihat tuan nya yang sekarang agak lebih kurus dari sebelum nya, setelah Siska menghilang Devan selalu mencari Siska sepulang dari kantor di sekitar daerah jakarta, dia juga terus memantau perkembangan anak buah nya. hal itu membuat Devan menjadi kurang istirahat dan pola makan yang tak teratur membuatnya sedikit kurus.


"ya sudah, kamu keluar lah biar saya nanti bawa mobil sendiri " ucapnya dengan lesu.


***


Sore hari Devan keluar dari ruangan nya dan langsung berjalan lantai bawah di mana letak mobil nya berada. setelah masuk dan mendudukan bokong nya di kursi kemudi Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah orang tuanya. tak lupa dia selalu melihat ke Arah kanan dan kiri berharap ada Siska yang tengah berjalan di sana.


2 jam perjalanan Devan sampai di depan gerbang yang tinggi menjulang setelah membunyikan klakson mobilnya gerbang itu pun terbuka dengan lebar, Devan melajukan kembali mobilnya memasuki pekarangan rumah sang momy yang hijau karena di tanam mi banyak rerumputan juga pohon pohon hias.


sampai di depan pintu utama Devan menghentikan mobil nya dan memberikan kunci mobil nya pada salah satu pengawal dady Mario yang ada di sana. Devan masuk kedalam rumah dengan wajah yang terlihat lelah dan lesu.


"selamat malam mom, dad" sapanya sambil berjalan mendekat ke arah keluarga nya yang tengah berbincang hangat di ruang keluarga.


"sudah datang Dev, sini duduk nak" momy Celine menepuk nepuk pelan sopa di sebelah nya. Devan pun berjalan menghampiri momy Celine dan langsung merebahkan tubuhnya di sopa, membuat paha momy Celine sebagai bantalan untuk kepalanya.


"anak momy kenapa ini hemm, kamu seperti agak kurusan Dev?" tanya nya pura pura gak tau apa apa.


"Dev gak apa mom, hanya masalah kerjaan di kantor saja" ucapnya. momy Celine, Farel, juga dady Mario saling tatap satu sama lain. "apa aku terlalu keterlaluan dengan anak ku, sampai membuatnya kurus dan tak terawat seperti ini"batin momy Celine sambil mengusap dengan lembut rambut putra sulung nya. ada sedikit rasa bersalah di hati momy Celine, tapi ini semua untuk kebaikan Devan. biar dia gak terus menerus terjebak cinta butanya pada jesica.


"Mom, dad, makan malam udah siap mari makan " teriak nya dari arah meja makan. Devan yang tadi memejamkan matanya seketika matanya terbuka lebar mendengar suara orang yang di cari nya setengah mati. apa dia sedang halusinasi pikirnya.


Devan bangun dan segera bangkit dia berjalan ke arah meja makan untuk memastikan bahwa pendengaran nya tidak lah salah. Devan sampai tidak memperhatikan expresi ketiga orang yang ada di ruang keluarga.


ternyata benar orang yang di carinya ada di sana tengah menata makanan.

__ADS_1


"Siska"


__ADS_2