
hari hari mereka lalui, tak terasa sekarang anak Arumi juga bagas pun berulang tahun yang ke satu. mereka semua sudah bersiap untuk segera berangkat ke salah satu restoran mewah untuk merayakan ulang tahun anak perempuan bagas.
sampai di tempat mereka semua turun dari mobil, Kania menuntun Dimas yang bermuka masam karena tak suka dengan adek nya. sementara arumi menggendong Siska kecil masuk kedalam restoran itu.
"kaka, kasih ini pada adik" titah Kania pada anaknya.
"tidak, dia bukan adik ku, dia bukan anak mama" ucapnya ketus.
"sayang dia adik nya kaka, kasih ini yah" Dimas tetap menggeleng kan kepalanya dan menekuk wajahnya.
"sudah jangan dipaksa mba, gak apa " Arumi memaklumi sikap Dimas yang cemburu dengan Siska.apalagi usia Dimas yang masih kecil baru berusia 6 tahun.
perayaan ulang tahun Siska yang ke satu pun sudah usai mereka pulang ke rumah masing-masing, karena atas kemauan Arumi yang ingin tetap tinggal di rumah lama nya tidak ingin tinggal dengan Kania untuk saling menjaga perasaan.
sampai di rumah Arumi kagetkan oleh kardus besar yang terongok di depan pintu masuk. "apa itu bi?" tanya nya.
"tidak tau nyonya, biar bibi buka yah" Arumi membelalakan matanya saat melihat isi kardus itu, ada boneka dengan di pasang wajah Siska di sana, bagian dahinya di untuk oleh pisau kecil dan si siram oleh darah.
"bibi segera singkirkan itu, saya tidak mau melihat itu,cepat bi" ucapnya dengan tubuh bergetar dia memeluk dengan erat siska yang tengah tertidur dengan begitu lelap dalam dekapan nya.
Arumi dengan cepat masuk kedalam rumah nya, dan segera kekamar mengunci diri juga anaknya. "aku harus menghubungi mas Bagas, aku takut terjadi sesuatu dengan anak ku" ucapnya.
Arumi mengeluarkan ponselnya, belum sempat arumi menelpon Bagas tiba tiba ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal Arumi mengerutkan keningnya, dia melihat nomor itu, setelah beberapa kali terus berbunyi Arumi mengangkat telpon itu. "ha-halo"
"halo sayang, akhirnya aku menemukan mu apa kabar sayang? Arumi terbelalak kaget saat mendengar suara orang yang sangat familiar di telinga nya.
" mas," Arumi segera mematikan sambungan telpon nya dan meletakan ponselnya, di lihatnya ponselnya kembali menyala ternyata ada pesan masuk, arumi membuka pesan itu, seketika matanya langsung membulat sempurna.
dengan tangan gemetar Arumi menghubungi suaminya untuk memberitahukan kalau orang yang mengejarnya dulu sudah menemukan nya dan mengancam akan membunuh anak nya kalau dia tidak mau menikah dengan nya.
"hallo,mas" ucapnya gemetar.
"kamu kenapa Rumi?" tanya nya dari sebrang sana.
__ADS_1
"mas Ghaffar dia sudah tau keberadaan ku, tolong kamu datang ke sini aku takut mas, dia mengancam akan membunuh Siska kalau aku tidak mau kembali dengan nya"
"kamu diam di rumah, kunci rumah dan jangan keluar sampai aku datang ke sana," Bagas mematikan ponselnya dan segera keluar dari dalam kamar.
"kamu mau kemana mas? ini sudah malam"
"Arumi dalam bahaya mas pergi ke sana dulu, mama kunci pintu yang rapat jangan buka pintu kalau ada yang ketuk, ingat ya ma jangan buka karena papa gak akan ketuk pintu kalau pulang ke rumah karena bawa kunci cadangan" ucapnya. Kania pun mengangguk mengerti, dia segera mengunci pintu saat suaminya keluar dari dalam rumah.
sampai di depan rumah arumi, rumah terlihat sepi Bagas mengeluarkan kunci serep nya dan masuk kedalam rumah, di lihatnya Arumi tengah terisak sambil memeluk putrinya. "Rumi, " Arumi mendongkak saat mendengar suara suaminya.
"Mas aku takut, dia datang lagi. tadi saat aku baru sampai ke rumah di depan ada sebuah kotak, pas bibi buka isinya sebuah boneka,di kepalanya ada foto Siska dan di tusuk dengan pisau mas" bagas memeluk istrinya untuk menangkan nya.
"kamu tenang saja mas tidak akan biarkan siapapun menyakiti mu juga anak kita" Tak ingin meninggalkan istrinya yang sedang ketakutan Bagas pun memutuskan untuk bermalam di rumah Arumi.
pagi harinya Bagas sudah bersiap untuk kembali ke rumah kania, karena kondisi Arumi sudah lebih tenang.
"mas kembali ke rumah kania dulu, nanti malam aku kesini lagi " Sky mengangguk. dia tidak bisa egois karena ada kania yang juga membutuhkan perhatian suaminya apalagi kania masih melawan sakitnya.
"baik tuan"
Bagas pun keluar dari dalam rumah dan langsung masuk kedalam mobil nya dia pun melajukan mobilnya menjauh dari rumah arumi.
setelah kepergian suaminya Arumi masuk kedalam rumah dilihatnya Siska tengah makan dengan di suapi oleh pelayan nya, Arumi memang sengaja tidak ingin terlalu banyak orang di rumah, Bagas sudah menawarkan nya untuk mengambil baby sitter dari yayasan tapi arumi tolak.
"bi, saya titip Siska ya, saya mau mandi dulu sebentar " pelayan Arumi pun mengangguk.
"baik nyonya "
Arumi masuk kedalam kamar mandi dan mulai mengisi bathup nya dengan air hangat, Arumi menambahkan sabun juga beberapa tetes aroma terapi untuk menenangkan pikirannya yang masih semrawut takut jika orang yang terus mengejarnya akan datang kerumah.
setengah jam kemudian arumi selesai dengan berendam nya dia keluar dari dalam bathup dan segera membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower. setelah selesai Arumi memakai pakaian nya dan keluar dari dalam kamar mandi saat arumi keluar dia terbelalak kaget saat melihat orang yang sangat di takuti nya ada di dalam kamarnya.
"ka-kamu ngapain disini?" tanyanya terbata.
__ADS_1
"mau menjemput mu sayang, bukan kah kemarin sudah ku katakan kalau akan menjemput mu" ucapnya sambil tersenyum mengerikan.
"tidak aku tidak mau ikut dengan mu, dan tidak akan pernah mau " ucapnya tanpa takut.
"kemarilah sayang, tubuhnya masih terlihat sexy meskipun sudah memiliki satu anak dari si bajingan itu"
"diam, keluar Ghaffar, keluar dari kamar ku.! teriaknya. " bibi, tolong bi" teriaknya lagi.
"teriak lah sampai suara mu habis karena tidak akan ada yang menolong, karena anak juga pembantumu sudah berada dalam genggamanku.
" Ghaffar kenapa kamu melakukan ini padaku, kenapa ghaffar, kenapa?" tanya nya.
"karena aku mencintaimu Arumi, tapi kamu gak pernah melihat semua yang ku lakukan untukmu, kamu malah memilih menikah dengan laki laki yang sudah beristri "
"cinta itu tidak bisa di paksakan ghaffar, aku tidak mencintai mu, tolong bebaskan aku juga anak ku biarkan aku hidup bebas "
"tidak akan pernah, sekarang ikut aku atau aku bunuh anak mu"
"ghaffar jangan gila kamu" ucapnya gemetar.
Ghaffar menghampiri Arumi dan mencekal lengan nya dengan keras, dia membawa arumi keluar kamar di lihatnya anaknya tengah menangis dengan kepala di todong pistol .
"Ghaffar ku mohon, aku akan ikut dengan mu tolong lepaskan anak ku, biarkan dia hidup dengan tenang ku mohon Ghaffar"
"ikut dan menikah dengan ku, maka tak akan pernah ku usik anak si bajingan ini"
"baiklah aku akan ikut dengan mu, kemana pun kamu pergi" Ghaffar tersenyum penuh kemenangan.
"bibi, tolong nanti hubungi tuan dan serahkan Siska padanya" ucapnya dengan tubuh bergetar.
"ghaffar izin kan aku memeluk putriku untuk terakhir kalinya" Ghaffar pun melepaskan arumi.
Arumi yang di lepaskan pun langsung berlari menghampiri anaknya yang tengah menangis, dia peluk dengan erat anaknya dan mencium nya. "maafkan mama sayang, tolong jangan benci mama karena mama meninggalkan Siska, semoga nanti kita bisa bertemu lagi, baik baik dengan papa juga mama kania ya nak, kamu tunggu mama, mama pasti akan kembali suatu saat nanti "
__ADS_1