
Kembali dari rumah sakit Devan membuka pintu dengan perlahan, di lihatnya ranjang sudah kosong tak nampak ada Siska di sana, Devan berjalan ke arah ranjang.
"sayang " panggilnya, namun tak ada sahutan dari siska tapi terdengar suara keran air berbunyi dari kamar mandi Devan pun duduk di pinggir ranjang.
"dari mana kamu mas?" tanyanya saat keluar dari kamar mandi.
"emm sayang kenapa terbangun? Devan malah bertanya balik pada Siska.
" HIV mas, hasrat ingin vivis, oh iya kamu dari mana barusan?, terus kenapa kita ada di sini, papa mana mas? tanya nya secara beruntun.
"mas abis lihat keadaan papa barusan di rumah sakit tidak jauh dari sini " ucapnya.
" terus gimana keadaan papa mas, papa baik baik aja kan?
" kamu tenang aja,papa dalam pengawasan dokter, semua akan baik baik saja, untuk sementara waktu papa tidak bisa di temui jadi kamu yang sabar yah nanti kalau sudah di perbolehkan oleh dokter baru kita temui papa" Siska tertunduk sedih, dia sudah sangat merindukan sosok papanya.
"mas, gimana kalau kita bawa papa ke Jakarta, aku gak mungkin terlalu lama izin kuliah, nanti papa kita masukan rumah sakit di jakarta saja ya mas"
"nanti mas yang urus oke, sekarang kamu istirahat, ini masih malam " Siska melihat jam yang terpasang di dinding terlihat di sana jam baru menunjukan pukul 3 dinihari. Siska pun merebahkan kembali tubuhnya dan menarik selimut nya.
"kamu gak mau istirahat mas, kamu juga sama cape kan "
Devan mengangguk dia melepas sepatu juga kaos kaki miliknya lalu merangkak naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya.
merasa nyaman dalam dekapan suaminya tak lama kemudian terdengar dengkuran halus, di lihat nya Siska sudah tertidur dengan pulas kembali.
Devan menatap Siska dan mengelus dengan lembut rambut istrinya, "kenapa kamu begitu banyak menyimpan rahasia Siska, sekarang kamu memberiku kejutan ini, lalu nanti kejutan apalagi yang akan kamu berikan" karena rasa kantuk yang menyerang Devan pun segera menyusul istrinya menjelajahi alam mimpi.
***
pagi hari di sebuah desa bibi Arumi sudah bersiap untuk pergi ke ladang, "Arka, ayo cepat nanti terlalu siang " panggilnya dari luar sambil membawa keranjang sayur.
__ADS_1
"iya bibi, aku sudah siap" Bibi Arumi memeluk dengan erat pinggang Arka saat sudah naik di atas speda yang sudah terlihat tak layak pakai namun masih memiliki tenaga yang lumayan kuat.
sampai di ladang bibi Arumi segera memeriksa sayuran nya, dan memetik sayuran yang selalu dia rawat dengan baik, dari sini juga separuh penghasilan bibi Arumi berasal.
"bi, nanti aku akan pergi ke kota kemungkinan aku akan agak lama di sana " ucapnya. bibi Arumi membalikan tubuhnya menatap ke arah Arka.
"kenapa pergi dadakan? dengan siapa pergi kota? tanya nya. bibi Arumi terkejut mendengar ucapan Arka yang tiba tiba.
" sebenarnya sudah ada rencana dari lama bi, tapi aku menyembunyikannya dari bibi"
"anak nakal, kenapa kau menyembunyikan nya" bibi Arumi duduk di atas sebuah batu besar di ikuti Arka yang duduk di sampingnya "apa maksud dan tujuan mu ke kota itu Arka? apa yang akan kau cari di sana"
"aku ingin bertemu seseorang bibi, sekarang aku sudah cukup dewasa sudah saatnya aku membalaskan dendam kedua orang tua ku yang di bunuh secara sadis, tapi aku tidak bisa melawan nya seorang diri, maka dari itu aku akan meminta pertolongan seseorang di kota" ucapnya menjelaskan.
"Arka, dengarkan bibi hidup di atas sebuah dendam itu tidak akan membuat hidup kita menjadi tenang, sudah bebaskan nak, biar ayah juga ibumu bisa tenang di alam sana" bibi Arumi mengusap dengan lembut rambut anak angkat nya sambil menatap nya dengan tatapan teduh khas seorang ibu.
"maafkan aku bibi, tapi aku tidak bisa membebaskan orang itu begitu saja, aku akan tetap mencari dia sampai ketemu dan akan membalaskan dendamku juga orang tuaku" bibi Arumi sudah tidak bisa lagi untuk melarang dan menahan Arka, dia pun hanya mengangguk pasrah dan membiarkan niat anak angkatnya untuk menegakan keadilan.
***
"dokter bagaimana keadaan papa saya? apa saya bisa melihat nya?
" begini nyonya, untuk saat ini keadaan tuan bagas dalam keadaan tidak baik, jadi untuk sementara tuan bagas tidak dapat ditemui lebih dulu, racun yang ada di dalam tubuh tuan bagas secara perlahan terus menggerogoti nya, dan jika racun itu tetap di biarkan akan merenggut nyawa nya secara perlahan lahan" Siska terkejut mendengar ucapan dokter di hadapannya. Devan segera menyentuh punggung tangan istrinya untuk membantu nya memberi kekuatan.
"lalu bagaimana dokter? apa racun itu ada penawarnya? apa papa saya bisa tertolong"
"kalau kita berusaha pasti akan ada hasil nyonya, saya baru menelpon saudara saya yang ada di Rusia kemarin malam, dia Profesor ahli dalam masalah seperti ini"
"lalu kapan beliau akan datang?" tanya nya tak sabar.
"kemungkinan lusa sudah ada di sini nyonya, anda tenang saja kami akan usahakan yang terbaik untuk kesembuhan tuan bagas"
__ADS_1
"tolong selamat kan papa saya dokter, saya mohon selamatkan dia" ucapnya. untuk pertama kalinya Devan melihat Siska meneteskan air matanya.
keluar dari ruangan dokter itu Devan membawa Siska untuk duduk di salah satu kursi rumah sakit.
"mas, kalau papa tidak_" Devan langsung meletakan jarinya telunjuknya di bibir Siska.
"jangan berpikiran aneh aneh, semua akan baik baik saja, papa akan segera sehat dan berkumpul lagi dengan kita"
"aku ingin menghubungi kakak tapi aku gak punya nomornya, pasti kakak tidak tau dengan keadaan papa sekarang"
"sudah biarkan kakak mu dengan urusan nya sendiri, sekarang tenang kan dirimu. mau pulang? Siska mengangguk, untuk apa di sini kalau dia tidak bisa bertemu dan menemani papa nya.
" ya sudah biar ku antar pulang kerumah, setelah itu aku ada urusan sebentar di kantor, kamu gak apa kan aku tinggal sebentar" Siska mengangguk "aku gak apa mas"
setelah mereka masuk Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, melihat istrinya yang terus murung dan tak bersemangat Devan membelokan mobilnya ke swalayan, Devan pun menghentikan mobilnya tempat parkir khusus untuk yang akan berbelanja di swalayan itu.
"kenapa berhenti di sini mas?" Devan tersenyum ke arah Siska. "mau ikut turun apa mau tunggu di sini?
" aku tunggu di sini saja, malas mau keluar " Devan mengangguk dan segera keluar dari dalam mobil. Siska melihat suaminya masuk kedalam swalayan entah apa yang akan suaminya beli.
tak lama kemudian Devan keluar sambil menenteng sebuah kantong pelastik berwarna putih. setelah masuk kedalam mobil Devan menyodorkan kantong pelastik yang dibawa nya.
Siska membuka kantong pelastik itu saat itu pula mata Siska langsung berbinar bahagia "wah es krim" ucapnya sambil mengambil salah satu eskrim cup rasa coklat.
"enak? Siska mengangguk mood nya sekarang sudah mulai membaik. " Makasih mas, tau banget deh kesukaan perempuan." ucapnya dengan senyum manis yang terukir indah di wajah cantik nya.
untung nya Devan sedikit tau tentang kesukaan perempuan, karena momy nya ketika merajuk selalu dia sogok dengan cake atau sebuah coklat kemudian langsung luluh lagi. dia pikir mungkin istrinya pun tak akan jauh berbeda dengan momy nya, ternyata benar saja Siska menyukai eskrim juga coklat, sengaja Devan memberi beberapa eskrim cup dengan berbagai rasa, juga beberapa batang coklat.
"sudah gak terlalu sedih kan? tanyanya. Siska menggelengkan kepalanya. " sudah agak mendingan mas"
"ya sudah sekarang kita pulang oke"
__ADS_1