Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 48


__ADS_3

"Siapa kau?" Devan menatap sosok di depan nya dengan tatapan yang tak dapat di tebak.


Sosok itu langsung membuka topeng yang dia pakai dan nampak lah wajah orang itu yang sontak saja membuat Devan tercengang dan membelalakkan matanya.


"Ka-kamu"


"Kenapa mas? Kaget?" Siska terkekeh pelan melihat expresi terkejut suaminya.


"Ya ampun sayang, kamu hampir bikin aku jantungan , kenapa bisa di sini hemm" ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah Siska dan memeluknya dengan erat.


"aku menghawatirkan mu dan papa mas, jadi aku memutuskan mengikuti mu dari belakang"


"kau meragukan kemampuan ku? ucapnya pura pura kecewa.


" enggak bukan begitu mas, aku hanya ingin membantu"


"tapi ini sangat bahaya Siska" Devan mengacak gemas rambut Siska.


"tapi buktinya aku bisa kan" ucapnya sambil menunjukkan deretan gigi putih dan rapi miliknya.


"ya ampun mas, papa gimana keadaan papa" ucapnya sedih.


"tenang lah, Papa memang keadaannya kurang baik, tapi Aku akan usahakan yang terbaik untuk kesembuhan papa, ayo kita sudah tertinggal jauh " Devan menuntun Siska membawanya menyusul Marco juga yang lainnya.


"Mas, aku gak apa loh kenapa di tuntun seperti orang penyakitan gini" ucapnya kesal. Devan hanya terkekeh pelan mendengar ucapan istrinya .


Marco menghentikan langkah nya saat menyadari tuannya belum ada dengan mereka bisa bisanya mereka tak menyadari nya dari tadi.


"Tunggu" ucapnya menghentikan langkah Axel, juga Baron yang tengah menggendong pak Bagas yang sudah tak sadarkan diri.


"Tuan Devan tidak ada, Baron dan yang lain bawa tuan Bagas ke mobil dan segera bawa ke rumah sakit saya dan Axel akan mencari tuan Devan yang tertinggal di belakang" Baron mengangguk kemudian dia pergi dari sana dengan beberapa anak buah yang dalam keadaan terluka.


"Mas, ayo jalan nya lebih cepat dikit , aku ingin segera lihat keadaan papa " ucapnya sambil mempercepat langkahnya.


"Tenang sayang, Baron juga Marco sudah membawa papa ke rumah sakit kita langsung menyusul nya sekarang"


"Tapi aku ingin segera bertemu papa mas, ayo cepat " Devan membiarkan Siska menggerutu sepanjang jalan, kemudian dengan gerakan cepat Devan menggendong Siska dengan gaya bridal style menyusuri jalan setapak yang hanya terlihat samar oleh cahaya bulan.

__ADS_1


"Mas,kamu apa apan aku masih bisa jalan ,udah turunin" ucapnya.


"Diamlah atau ku lempar ke Semak semak " Siska langsung diam dan Mengalungkan tangan berpegangan pada leher Devan.


"Tuan anda" Marco mematung sesaat ketika melihat Devan tengah menggendong istrinya.


"kenapa malah kesini, bukannya mengantar papa ke rumah sakit "


"saya menghawatirkan anda tuan, tuan bagas juga beberapa anak buah yang terluka sudah di bawa okeh Baron menuju rumah sakit, Nyonya kenapa ada di sini? Kapan anda ikut kami? Tanya Marco sambil mengerutkan keningnya heran.


" Nanti kami jelaskan sekarang ayo kita susul papa mertua" Devan berjalan lebih dulu dengan terus menggendong Siska.


Marco juga Axel hanya saling tatap dengan wajah heran, apa yang sebenarnya terjadi , kenapa nyonya mereka bisa sampai di sini pikirnya.


Setelah sampai di dekat mobil Marco langsung membuka kan pintu mobil untuk tuan dan nyonya nya, setelah tuan nya masuk . Marco duduk Di kursi kemudi, dan Axel duduk di sampingnya. Marco pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Nyonya bagaimana anda bisa sampai ke sini, sedangkan pas kami berangkat anda sedang berada di rumah ?" Marco memulai obrolan sungguh Marco sangat penasaran kenapa nyonya nya itu bisa sampai di tempat ini seorang diri dan tiba-tiba saja sudah ada dengan tuan nya.


"hemm aku mengikuti kalian tadi, dan tada aku ada di sini sekarang "


"anda sungguh nekad nyonya, di sini sangat berbahaya" ucapnya. Siska hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Marco.


"ya saya sudah bertemu dengan dia"


"benarkah, siapa sosok pemberani itu tuan, dimana dia sekarang?"


"orang nya ada di samping ku"


Marco juga Axel langsung terbelalak kaget mendengar ucapan tuan mereka.


"apa anda tidak salah tuan?" tanya Marco.


"kapan saya pernah berbohong Marco?" Marco yang ditanya balik seperti itu pun langsung terdiam.


"wah anda sungguh hebat nyonya, saya sangat terpukau melihat aksi anda tadi saat melawan anak buah tuan


Ghaffar " ucap Axel sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


"nyonya saya tidak menyangka kalau anda bisa sehebat itu, anda juga tidak segan menghabisi nyawa orang " Marco menggeleng kan kepalanya tidak menyangka dengan nyonya kecilnya. "anda memiliki istri sangat luar biasa tuan, sudah pintar, jago beladiri pula" timpal Axel.


"ya saya sangat beruntung" Devan mendekat dan merangkul istri kecilnya.


"kalian terlalu berlebihan, aksi ku itu tidak ada apa apa nya" ucapnya.


Devan juga heran dengan istri kecilnya ini, sepertinya Devan belum benar benar mengenal sosok seorang Siska.


dia harus mencari tau sendiri nanti, pikirnya.


mobil yang di bawa oleh Marco pun terparkir di depan rumah sakit besar yang ada di bali setelah mendapat pesan dari Baron kalau pak Bagas di bawa ke rumah sakit ini. Devan menepuk pelan pipi istrinya yang tertidur dengan nyenyak, di lihatnya waktu menujukan pukul 2 dini hari.


tak tega membangun kan istrinya Devan segera memerintahkan Marco untuk berbelok ke salah satu hotel yang dekat dengan rumah sakit.


sampai di sana Devan langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk kedalam kamar setelah Marco memesankan kamar untuk Devan juga Siska.


"ada yang bisa saya bantu lagi tuan?


" saya mau lihat keadaan papa sebentar setelah itu kita balik lagi ke sini untuk beristirahat " Marco mengangguk. setelah Devan memastikan istrinya tertidur dengan nyaman dia segera keluar menyusul Marco ke tempat parkir mobil.


***


"bagaimana keadaan papa saya dok?" tanya nya langsung pada intinya setelah bertemu dengan dokter yang menangani pak bagas.


"kondisi papa anda sangat kurang baik sepertinya dia selalu di kasih makanan basi, saya juga menemukan racun berbahaya di dalam tubuhnya yang akan membunuh nya secara perlahan" Marco juga Devan sampai terkejut mendengar ucapkan dokter di hadapan mereka.


"lalu bagaimana dok? saya mohon usahakan yang terbaik untuk papa saya, selamat kan dia saya akan bayar berapapun biaya nya asal papa saya selamat " ucapnya.


"sudah tugas kami tuan, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien kami. tapi untuk menghilangkan efek racun itu akan sangat susah saya harus memanggil ahlinya secara langsung, dia kakak sepupu saya yang ada Rusia namanya Profesor Ricardo, dia ahli dalam menangani masalah racun seperti ini" Devan mengangguk.


"apa pun yang terbaik untuk papa saya maka laksanakan.! lalu apa saya boleh melihatnya sekarang?" tanyanya.


"anda boleh melihatnya tuan tapi hanya sebentar, karena pasien sedang dalam masa pemulihan dan masih dalam kondisi belum stabil" Devan mengangguk mengerti, setelah memakai baju khusus Devan masuk kedalam ruang perawatan pak bagas.


Dilihatnya wajah papa mertuanya yang tampak kusam tak terawat, tubuh yang kurus kering juga penuh dengan luka di sekujur tubuh nya, jari tangan nya hanya tinggal tersisa 6 karena 4 jarinya tangannya sudah hilang Devan menatap papa mertuanya dengan perasaan iba , bagaimana reaksi Siska kalau dia melihat sendiri kondisi papa nya yang seperti ini.


"Kania, maafkan aku" Devan menatap papa mertuanya yang memanggil nama Kania dengan samar nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Kania"


__ADS_2