
"apa kita langsung ke kantor tuan?" tanya Marco, Devan mengangguk. setelah mengantarkan Siska pulang kerumah dengan selamat, dia segera berganti pakaian dan segera memanggil Marco untuk mengantarkan nya ke perusahaan cabang yang ada di bali.
"kita cek dulu keadaan di perusahaan sini seperti apa, saya akan kontrol selama satu minggu kedepan, karena kemungkinan saya akan di sini selama 1 minggu kedepan untuk terus memantau keadaan papa mertua yang belum stabil" Marco mengangguk mengerti, Setelah Marco membuka kan pintu mobil untuknya Devan segera masuk dan berangkat ke kantornya.
sampai di tempat tujuan Devan turun dari mobil di Sana semua karyawan sudah berjejer dengan rapi menyambut kedatangan tuannya.
"selamat datang di perusahaan kembali tuan"ucap seorang manager di perusahaan Devan, dia membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormatnya.
Devan hanya mengangguk dan kembali melangkah ke arah di mana lift berada dengan Marco yang terus mengekor di belakang Nya.
sampai di ruangan nya Devan langsung mendudukan dirinya di kursi kebanggaan nya dan mulai memeriksa satu persatu berkas yang ada di atas meja "Marco panggilkan pak Hendra untuk menemuiku sekarang"
"baik tuan" Marco berjalan keluar dari ruangan Devan untuk memanggil orang yang di minta tuannya.
tok
tok
tok
setelah terdengar sahutan dari dalam dan menyuruh nya untuk masuk pak Hendra masuk kedalam ruangan Devan dengan wajah terlihat tenang namun Devan masih bisa membaca dalam ketenangan yang di tunjukan oleh pak Hendra masih ada sebuah ketakutan di wajahnya, terlihat dari wajahnya yang semakin mendekat semakin terlihat tegang.
Devan menatap orang di hadapannya penuh selidik, "kenapa menjadi tegang begitu? apa anda sudah tau maksud saya memanggil anda kesini itu untuk apa?"
"ya saya tau, seperti biasa anda akan meminta catatan keuangan bulanan di perusahaan ini" Devan mengangguk. "ya itu salah satunya, saya mau melihat catatan kamu dan menyamakan nya dengan catatan dari pusat apakah sama? mana berkasnya? pintanya.
pak Hendra menyodorkan satu map berisi berkas berkas catatan keuangan di perusahaan cabang bali. Devan memeriksanya dan menyamakan nya dengan catatan dari kantor pusat.
"apa catatan yang anda kasih pada saya ini sudah benar ? tanya nya sambil menatap tajam ke arah pak Hendra. pak Hendra yang di tatap seperti itupun menjadi salah tingkah.
" sudah tuan, sudah beberapa kali saya periksa dan saya pastikan hasilnya tidak akan salah" ucapnya.
"terus ini apa, kenapa catatan nya sangat jauh berbeda dengan catatan dari pusat " Devan melempar berkas berkas yang pak Hendra berikan tepat di wajah pak Hendra.
__ADS_1
"tidak mungkin tuan, saya sudah memeriksa nya " ucapnya dengan yakin.
"terus itu apa, coba anda cek sendiri hasilnya" Pak Hendra mengambil berkas yang tadi di lempar ke wajah nya, lalu mengambil berkas catatan keuangan dari pusat dia mulai mengecek dan memeriksa nya dengan teliti. raut wajahnya mulai cemas dengan apa yang dia lihat. kecurangan nya yang selalu dia tutupi akhirnya terbongkar juga.
"i-ini tidak seperti yang Anda pikirkan tuan " ucapnya.
"saya tidak mau tau, dalam perusahaan saya tidak ada kata ampun untuk seorang pencuri" ucapnya dengan tegas.
"Marco bawa berkas bukti bukti kecurangan pak Hendra beberapa bulan ini " Marco berjalan mendekat dan menyerahkan bukti bukti kecurangan pak Hendra selama beberapa bulan ini.
"anda baca sendiri, dan akui semua nya. saya masih berbaik hati tidak langsung membawa kasus ini ke jalur hukum"
"maaf kan saya tuan, saya khilaf" ucapnya dengan gemetar.
"khilaf? melakukan kecurangan sampai berbulan bulan itu namanya khilaf? tubuh pak Hendra semakin bergetar tangannya terkepal kuat sampai mengeluarkan keringat.
" tuan saya_ " belum sempat pak Hendra bicara Devan sudah menghentikan nya.
" saya kasih anda 2 pilihan, masuk penjara atau kembalian uang yang sudah kamu pakai selama ini? ucapnya dingin.
"tidak banyak waktu, hanya sampai jam 12 malam ini, dan ingat anda dalam pantauan saya, jadi anda tidak akan bisa kabur" pak Hendra mengangguk mengerti dia segera keluar dari dalam ruangan Devan dan pergi ke ruangan nya.
"tuan apa anda akan melepaskan nya begitu saja?" tanya Marco.
"tentu tidak, nanti setelah dia bayar semuanya dia harus tetap di hukum agar ada efek jera" Marco mengangguk mengerti. "lalu bagaimana dengan yang kemarin, apa orang itu masih berusaha membobol privasi perusahaan kita?
" masih tuan, tapi untuk hari ini belum ada kabar lagi dari Mike bagaimana perkembangan nya"
"terus pantau jangan sampai lengah "
"baik tuan, apa anda akan segera pulang?"
"sudah tak ada kerjaan bukan ? untuk apa saya di sini. oh iya ingat untuk mengirim beberapa anak buah untuk terus memantau pak Hendra jangan sampai dia lolos dan kabur"
__ADS_1
"baik tuan, saya pastikan semua nya akan aman terkendali"
Devan segera bergegas keluar dari ruangan nya di ikuti oleh Marco di belakang nya. memiliki wajah yang tampan membuat Devan selalu menjadi bahan pembicaraan pegawainya di kantor ini, juga banyak yang berhayal untuk menjadi istrinya. meski Devan memiliki sikap yang dingin dan terkadang bersikap arogan tapi hal itu tidak memudarkan pesona nya.
saat Devan sudah duduk di dalam mobilnya ponsel miliknya berdering dilihat nya sang momy yang nelpon.
"Yes momy " sautnya.
"kamu di mana Dev, momy datang ke rumah mu tapi katanya kamu ada di bali dengan Siska"
"ya aku memang sedang di bali mom, Siska ingin bertemu dengan papanya, aku juga ada sedikit masalah di kantor cabang, mungkin aku akan kembali minggu depan"
"yah, padahal momy ingin bertemu dengan menantu kesayangan momy, sebelum momy pergi ke Amerika"
"momy, jadi pergi kapan?
" besok momy berangkat nya" ucapnya sedih.
"ya sudah tidak usah sedih, nanti Siska libur semester aku akan membawanya ke sana sambil berbulan madu" terdengar teriakan ceria dari sebrang sana.
"benar ya Dev, momy sama dady tunggu loh, "
"yes momy, kapan aku pernah berbohong dengan momy?"
"sering " ucapnya. Devan mencebikan bibirnya. "tolong kontrol adik mu, dia belum terlalu dewasa untuk di lepas begitu saja"
"mom, usia Farel sekarang udah 28 tahun, biarlah dia menjalani kehidupannya, dia sudah bukan balita lagi momy"
"ya, ya momy tau tapi bagi momy kalian itu tetap anak kecil " Devan mendengus kesal, "ya sudah mom Devan lagi di jalan ini mau pulang, sudah dulu oke bye momy" Devan mematikan sambungan telponnya secara sepihak. dia sudah tau pasti momy nya akan sangat murka di sana karena dia belum selesai bebicara tapi sambungan telponnya sudah di matikan.
setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Devan sampai di rumah nya, saat baru masuk kedalam rumah nya terdengar suara bising dari halaman belakang entah apa yang sedang mereka ributkan.
"ada apa ini rame rame, apa sedang ada sirkus?" tanyanya padanya salah satu pelayan.
__ADS_1
"itu tuan nyonya Siska"