
"Papa lihat menantu mu masa bilang siska Udah jinak emang siska hewan" adunya merajuk.
"Sudah sudah,papa tau kamu orang nya seperti apa" mendengar ucapan papanya yang tak membela nya membuat siska semakin mengerucut bibirnya. mereka pun akhirnya berbincang ringan, Devan juga siska dan pak bagas hanya penyimak setia tak terasa waktupun sudah berganti, di lihatnya waktu sudah menujukan setengah delapan malam.
"Pah Siska mau_ " belum selesai Siska bicara Devan sudah menyela nya.
"Papa mau istirahat sayang, sebaiknya kita pulang dulu. besok kesini lagi, kamu juga harus istirahat biar tetap sehat agar bisa selalu merawat papa"
"Betul kata suami mu, pulang lah papa di sini banyak suster yang jaga, tidak usah khawatir"
"Tapi pah_"
"Nurut dengan suamimu nak, papa tidak apa" Siska pun akhirnya pasrah dan mau ikut pulang bersama suaminya.
"ya sudah Siska pulang ya pah, kalau ada apa apa papa jangan sungkan minta tolong dengan suster untuk menelpon Siska" pak bagas mengangguk sambil tersenyum ke arah anaknya.
"pulang lah, sudah malam.!" setelah memeluk papa nya Siska pamit dan segera keluar dari dalam ruang rawat pak bagas.
"jaga ruang rawat papa mertua, jangan sampai ada orang asing yang masuk kedalam sini, lihat setiap gerak gerik orang di rumah sakit ini kalau ada yang mencurigakan segera bereskan" para pengawal itu pun menganggukkan kepalanya.
"siap tuan,"
Devan juga Siska melangkah menjauh dari ruang perawatan pak bagas dan mereka pun sampai di dekat mobil nya setelah Devan membuka kan pintu untuknya Siska masuk kedalam dan duduk dengan manis di sana, setelah Devan masuk dan duduk di kursi kemudi Devan pun melajukan mobilnya.
"kenapa diam saja, itu bibir nya kenapa di maju majuin gitu, minta di cium? goda Devan.
" kamu gak lihat kalau aku lagi kesal" jawabnya.
"enggak,! karena kamu mau kesal atau pun enggak wajah nya tetap cantik" ucapnya. sambil menyentuh punggung tangan Siska namun segera dia tarik tangan nya.
"his gombal" ucapnya. Siska masih kesal dengan suaminya, baru saja siska akan menanyakan masalah kesalah pahaman kakak nya tapi Devan sudah mengajak nya pulang.
"kamu masih marah sama mas? kenapa? tanya nya heran.
__ADS_1
" kamu tuh yah, emang gak peka, aku tadi mau tanya masalah kesalah pahaman kakak terhadapku, tapi mas malah mengajakku untuk pulang, kan aku jadi makin penasaran apa alasan papa menyembunyikan masalah itu dari ku" ucapnya sewot.
"sayang dengar mas, papa itu baru saja siuman, biarkan papa istirahat dulu dan memulihkan tubuh juga ingatan nya, kamu yang sabar dong akan ada masa nya nanti kamu bisa ngobrol panjang kali lebar dengan papa, tapi bukan sekarang kamu lihat kan keadaan papa seperti apa tadi, papa masih butuh perawatan juga istirahat yang cukup" tutur Devan menjelaskan dengan selembut mungkin.
Siska merenung meresapi setiap kata yang suaminya ucapkan, memang semua ada benarnya juga, tapi karena rasa keponya yang terlalu tinggi siska sampai tak memikirkan sampai ke arah sana.
"kamu benar mas, maaf ya mas aku udah kesal tadi sama kamu"
"iya gak apa, mas tau kamu begitu penasaran dengan misteri yang papa sembunyikan, tapi kamu harus bersabar juga jangan langsung menekan papa saat papa baru saja siuman dari koma nya " Siska mengangguk mengerti, dia pun menyenderkan kepalanya di bahu Devan sampai tak terasa matanya mulai terpejam.
Devan yang mendengar suara dengkuran halus dari bahunya pun tersenyum tipis, istrinya ini masih labil karena usia nya yang masih terlalu muda, jadi dia harus memiliki stok sabar yang banyak.
sampai di depan gerbang Devan membunyikan klakson mobilnya dan terbukalah gerbang tinggi nan besar di hadapannya Devan melajukan mobilnya masuk kedalam pekarangan rumah setelah sampai di depan pintu utama Devan menghentikan mobilnya.
tak tega membangunkan istrinya Devan memindahkan kepala Siska dari bahunya, dia segera keluar dari dalam mobil dan membuka pintu sebelah nya di mana Siska tertidur dengan posisi duduk.
Devan pun menggendong siska membawa nya masuk kedalam rumah, sampai di kamarnya Devan segera membaringkan siska dan menyelimuti nya. setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman dia keluar dari dalam kamar dan pergi keruang kerja nya untuk menghubungi Marco.
"semua aman terkendali tuan!"
"lalu bagaimana dengan orang asing yang mencari ku, apa dia masih datang ke kantor?
"kemarin sempat datang tuan, tapi hari ini tidak ada"
"baiklah, kabari saya jika ada masalah yang serius di sana, kemungkinan kepulangan saya kesana akan di percepat karena papa siska sudah siuman,"
"baik tuan" selesai berbicara dengan Marco Devan mematikan sambungan telpon nya dan membuka laptop miliknya untuk mengecek email yang sudah di kirim oleh Marco.
saat Devan tengah memeriksa beberapa berkas, sebuah foto usang terjatuh. foto yang dia bawa dari rumah orang tua siska dalam foto itu terlihat seorang perempuan tengah menggendong bayi perempuan.
"siapa orang yang ada dalam foto ini? kenapa ini ada di rumah papa? apa ini foto saudara istrinya ? Devan masih menerka nerka siapa kira kira orang yang ada dalam foto tersebut. " aku harus tanyakan pada siska besok," gumam nya.
setelah menyelesaikan tugas mengecek laporan yang di kirim Marco Devan melipat kembali laptopnya dan pergi pergi keluar dari dalam ruang kerjanya. Devan masuk ke dalam kamar dan langsung mengganti pakaian nya setelah selesai dia naik ke atas ranjang memeluk istrinya dan langsung menyusul siska untuk menjelajahi alam mimpi.
__ADS_1
****
Di rumah sakit Dimas mempercepat langkah nya dan menanyakan dimana ruang perawatan papanya karena dia dapat kabar dari orang suruhannya kalau pak bagas sudah siuman dan sudah di pindahkan ke ruang rawat.
Dimas berjalan dan memasuki lift yang menuju ke lantai di mana sang papa di rawat sampai di sana Dimas di buat terkejut karena ada beberapa orang berpakaian serba hitam sedang berjaga di depan pintu masuk kedalam kamar perawatan papanya.
"selamat malam" sapanya. salah satu pengawal menganggukan kepalanya "saya mau bertemu dengan pasien di dalam" ucapnya..
"mohon maaf tuan, anda tidak bisa masuk karena ini jadwal pasien untuk beristirahat"
"saya anak nya, kakak istri dari Devandra" ucapnya tegas.
"mohon maaf tuan, tapi kami tidak bisa membiarkan anda masuk" Dimas yang di larang masuk pun menjadi marah dan mengepalkan tangan nya.
bughhh
bughhh
bughhh
Dimas melayangkan kakinya menendang ketiga pengawal yang menjaga pintu masuk, melihat pengawal itu tumbang Dimas segera masuk kedalam ruang perawatan papanya.
"papa" Dimas berjalan menghampiri pak bagas yang sedang memejamkan matanya. mendengar suara orang memanggilnya pak bagas membuka matanya. menatap ke arah putra sulung nya.
" kenapa baru tiba,? apa kamu tidak pernah menjenguk papa saat papa sedang kritis? saat Dimas melangkah untuk mendekat kearah papanya seorang pengawal masuk kedalam menghampiri Dimas dan bersiap untuk membawa Dimas keluar.
"jangan, dia anak saya kakaknya siska biarkan dia di sini" pengawal itupun mengangguk dan keluar dari dalam ruang perawatan pak bagas.
Dimas duduk di kursi samping ranjang papanya "maaf Dimas baru sempat datang pah, Dimas banyak pekerjaan"
"papa tau, bukan hanya itu masalahnya tapi karena kamu tidak ingin bertemu dengan adikmu kan. Dimas, mau sampai kapan kamu memusuhi adikmu nak, dia sudah sangat sabar menghadapi sikapmu"
"Seharusnya Dimas yang tanya sama papa sampai kapan papa akan sembunyikan identitas Siska kalau dia bukan anak mama, dan bukan adik ku pah"
__ADS_1