Istri Tengil Ceo Dingin

Istri Tengil Ceo Dingin
Bab 59


__ADS_3

waktu terus berlalu kehamilan Arumi sudah menginjak usia kehamilan 9 bulan perkiraan tanggal melahirkan nya sudah semakin dekat. dengan telaten Bagas selalu menjenguknya di sana tanpa di ketahui oleh istri pertamanya.


"bagaimana keadaan anak papa nih, apa selalu bikin mama kelelahan " Arumi terkekeh geli saat Bagas menciumi perut nya dan mengajak bicara anaknya yang masih di dalam perut.


"tidak papa, aku tidak nakal, aku selalu jagain mama" Arumi menirukan cara bicara anak kecil. Bagas pun terkekeh pelan di buatnya.


"maaf ya Arumi mas belum bisa jujur dengan kania, dia masih berjuang melawan sakitnya sekarang kalau sudah waktunya mas akan jujur dengan dia dan mengakui semuanya"


"iya mas, aku sebetulnya tidak yakin kalau mba kania akan bisa menerima ku" ucapnya menunduk.


"kita lihat nanti saja yah, kamu jangan banyak pikiran mas gak mau anak kita kena dampak nya " Arumi mengangguk.


karena hari sudah semakin sore Bagas bergegas untuk segera pulang, "mas pulang dulu ya, kamu baik baik di rumah kalau ada apa apa segera hubungi mas"


"iya mas tenang saja di sini banyak pengawal juga ada beberapa pelayan yang siap siaga mas"


Arumi mengantar suaminya sampai ke depan pintu, dia melihat kepergian suaminya dan tetap diam di sana sampai mobil yang di bawa oleh Bagas menghilang dan tak terlihat lagi dari pandangannya.


"bibi, nanti tolong bantu siapkan pakaian dede yang harus di bawa saat melahirkan ya, soalnya saya susah kalau mengerjakan nya sendiri " pinta nya dengan lembut.


"baik nyonya, nanti bibi bantu, bibi selesaikan dulu pekerjaan yang ini yah" Arumi mengangguk dan pergi ke kamarnya.


****


Bagas sampai ke rumah saat hari sudah mulai gelap. saat masuk kedalam Bagas sudah di sambut dengan antusias oleh anak juga istrinya.


"lembur lagi mas? tanya nya.


" iya sayang, tanggung" ucapnya berbohong, sungguh bagas ingin segera mengatakan yang sebenarnya tapi dia masih takut menyakiti hati istrinya.


"makan dulu mas, abis itu baru mandi dan segera istirahat" Bagas mengangguk dia segera melangkah ke arah meja makan untuk segera makan malam.

__ADS_1


"bagaimana tadi hasil periksa nya mah?"


"mama udah pasrah pah, udah gak berharap lebih sekarang di sisa hidup mama, mama hanya ingin bersama kalian " ucapnya sambil menatap suaminya.


"kita harus terus ikhirar mah, jangan lelah untuk terus berdo'a juga "


"iya pah"


selesai makan malam Bagas juga Kania masuk kedalam kamar untuk segera istirahat, "papa mau mandi dulu mah"


Bagas masuk kedalam kamar mandi. Saat dia masih di dalam kamar mandi ponselnya berbunyi Kania yang sedang duduk di depan meja rias pun menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas nakas dengan layar yang menyala.


"hallo tuan, tuan tolong nyonya Arumi sepertinya akan melahirkan kami akan segera membawanya ke rumah sakit xx nanti anda langsung nyusul kesana saja tuan" Kania mematung, bibirnya bergetar ponsel yang di pegang nya pun terjatuh.


Bagas keluar dari dalam kamar mandi sudah dengan pakaian santai nya. melihat istrinya yang diam mematung Bagas berjalan mendekat.


"sayang kamu kenapa? apa ada yang sakit lagi? tanya nya khawatir.


"ma" mulut Bagas menjadi kaku dia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.


"jelaskan nanti pah, dia akan melahirkan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit xx kamu di minta untuk menyusul ke sana" Bagas membelalakan matanya mendengar ucapan istrinya, dia segera berlari membuka lemari dan mengambil jaket nya.


"maaf kan papa mah, papa akan jelaskan semuanya nanti" Bagas mengecup sekilas kening istrinya yang hanya diam tidak bergerak tidak juga menangis.


setelah melihat suami nya pergi keluar dari kamar, tangisan Kania pun pecah dia tak bisa lagi menahan nya. "kenapa pah, kenapa kamu lakuin ini? apa karen ucapanku waktu itu?" Kania terus saja terisak dia membaringkan tubuhnya dan memeluk dengan erat guling untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya.


2 jam berlalu tapi Kania juga masih tidak bisa tertidur dia gelisah, tak dapat memejamkan matanya di lihatnya jam sudah menunjukan pukul 23;30 dia pun bangkit dan mengambil baju hangat nya.


"pak Tarjo, pak" Kania mengetuk pintu kamar sopir pribadinya.


"ada apa nyonya?"

__ADS_1


"maaf saya mengganggu waktu istirahat bapa, saya mau minta tolong antar saya kerumah sakit xx sekarang ya pak"


"baik nyonya, sebentar saya ambil baju hangat dulu" setelah masuk kedalam mobil pak Tarjo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak bisa membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi karena yang di bawanya adalah sang nyonya yang sedang sakit.


"pak lebih cepat dikit gak apa " ucapnya.


"jangan nyonya, sebaiknya pelan pelan saja yang penting kita sampai disana dengan selamat" ucapnya. Kania pun hanya pasrah benar juga kata sopirnya biar pelan yang penting selamat.


sampai di rumah sakit kania memberikan uang jajan untuk pak Tarjo ngopi, sedangkan dia masuk kedalam. "Sus pasien atas nama Arumi yang baru saja melahirkan di rawat di ruangan mana ya?" tanya nya.


"ruang rawat bu Arumi, di ruang mawar lantai 4 bu" kania menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Terima kasih Sus" kania berjalan dan masuk kedalam lift lalu menekan angka 4. sampai di lantai 4 kania berjalan mencari ruang rawat madu nya yang baru saja ia ketahui.


setelah menemukan nya kania tidak langsung masuk dia diam sejenak di depan pintu yang tak tertutup dengan rapat. kania melihat ke dalam ruangan terlihat di sana Bagas tengah menggendong seorang bayi dan terbaring seorang perempuan cantik di ranjang pasien.


hati kania sakit melihat pemandangan itu, "apa aku salah dulu pernah menyuruh papa untuk menikah lagi, aku kira tidak akan sesakit ini" gumamnya.


"mas, sebaiknya kamu pulang aku gak apa di sini hanya dengan pelayan"


"mas akan temani kamu malam ini, besok pagi baru mas pulang."


"mas bagaimana dengan mba kania? apa dia marah?" tanya nya.


"tidak, dia tidak marah sekarang kamu istirahat sudah malam"


Kania yang mendengar percakapan mereka pun menetes kan air matanya. "aku memang tidak marah pah, tapi aku kecewa kenapa kamu sembunyikan ini dariku" batinnya.


tak mau sampai ketahuan oleh suami juga madunya kania bergegas pergi dari sana dan segera menghampiri pak Tarjo yang tengah meminum kopi nya di dalam mobil.


"sudah selesai nyonya? tanya nya.

__ADS_1


" sudah pak, antar saya nginap di hotel saja ya pak jangan pulang ke rumah, kita cari hotel dekat dekat sini saja, saya capek " sebetulnya kania hanya beralasan saja, supaya besok pas suaminya pulang ke rumah dia akan datang dengan cepat untuk menemui Arumi.


__ADS_2