ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Akhir Bahagia (Part 2)


__ADS_3

Baru 3 tahun maskapai Mikhaela beroperasi namun sudah mendapat reward yang baik di dari pengamat dunia penerbangan. Adras memang melatih seluruh pilotnya dengan berbagai pelatihan agar bisa menghadapi semua masalah penerbangan dengan baik.


Adam dan Agung sekarang menjadi pilot andalan di maskapai ini. Ada juga beberapa pilot senior yang masuk ke maskapai ini.


Agung pun tersenyum bahagia saat ia menyelesaikan tugasnya selama satu minggu dan akan kembali pulang ke rumahnya. Ia rindu dengan anak putri tunggalnya yang kini berusia 6 tahun. Menurut bibi yang mengawasinya, sekarang sudah ada pengasuh yang baru dan Laura sangat suka pada pengasuh barunya itu. Agung bersyukur mendengarnya karena kini ia tak perlu khawatir lagi anaknya tak makan dengan benar karena selalu merindukan papanya.


Dengan mobil milik maskapai, Agung sampai di rumahnya. Ia langsung membuka pintu pagar dan membunyikan bel pintu depan.


"Selamat datang, tuan." kata bi Lela. Wanita paruh baya yang merupakan pelayan di rumah almarhumah ibunya dulu. Semenjak ibunya meninggal, Agung mengajak bi Lela untuk tinggal bersamanya.


"Terima kasih, bi. Di mana Laura?"


"Sedang bermain dengan pengasuhnya di kamar."


Agung menyerahkan kopernya dan segera menuju ke kamar putrinya. Dari jauh, Agung mendengar tawa bahagia putrinya. Sesuatu yang sudah jarang Agung dengar. Ia berdiri di depan pintu kamar dan melihat ada seorang perempuan yang duduk membelakangi pintu. Ia nampak sedang bercerita sesuatu yang lucu pada Laura dan membuat anaknya itu tertawa.


Laura melihat papanya. "Papa.....!" teriaknya senang dan langsung berlari ke arah papanya. Agung langsung menunduk dan memeluk putrinya dengan erat.


"Miss you so much papa."


"Miss you too, baby." ia mencium pipi putrinya dengan gemas. "Laura sudah makan?"


"Sudah. Semuanya habis."


"Hebat anak papa."


"Papa, Laura malam ini tidur sama papa ya?"


"Tentu saja, sayang. Sekarang papa mau mandi dan makan dulu ya?" Agung menurunkan lagi putrinya dari pelukannya. Saat ia mengangkat wajahnya, seorang perempuan sudah berdiri di hadapannya.


"Selamat malam, tuan. Perkenalkan saya Dea. Pengasuh Laura yang baru."


Agung terpana menatap gadis cantik di hadapannya. Ia begitu sederhana. Wajahnya polos tanpa make up namun entah mengapa hati Agung berdesir saat melihatnya. (Wah, bakalan ada kisah cinta : sang tuan dan pengasuh anaknya 😅😅😅).


**********


Marlisa menatap Anto, suami berondong nya yang kini sedang terlelap di sampingnya. Ia tak menyangka bisa jatuh cinta pada pria yang usianya 5 tahun lebih muda darinya.


Awalnya, Marlisa menjadikan Anto sebagai lelaki yang memuaskannya di ranjang. Namun pada suatu hari, disaat Anto memutuskan untuk pulang ke kampung karena ia tak mau lagi hidup dalam zinah terus.


Awalnya Marlisa membiarkan Anto pergi. Namun ia sadar bahwa ia jatuh cinta pada Anto. Marlisa pun nekat menyusul Anto ke kampung. Tentu saja Anto senang karena memang sejak awal ia sudah jatuh cinta pada Marlisa. Namun Anto mengajukan satu syarat. Ia mau bersama Marlisa asalkan mereka menikah. Marlisa setuju karena memang ia tak mau kehilangan Anto. Mereka pun menikah. Sebulan setelah itu Marlisa hamil. Perempuan yang masih menjadi top model papan atas Indonesia itu, rela meninggalkan karirnya, lalu menjual rumah dan mobil mewahnya, lalu memilih tinggal dengan Anto di desa. Cinta telah mengubah Marlisa menjadi wanita sederhana namun ia justru menikmati kebahagiaan.


"Istriku....!"Anto membuka matanya.


"Mas, sudah bangun?"


Anto mengangguk. Ia perlahan bangun lalu mengecup pipi Marlisa dengan lembut. "Bagaimana kabarnya? Apakah dia masih membuat ibunya mual?" tanya Anto.


Marlisa menggeleng. Ia memang sedang hamil anak mereka yang ketiga saat ini. Anak pertama dan kedua Marlisa berjenis kelamin laki-laki. Dan ia berharap anaknya yang ketiga ini berjenis kelamin perempuan.


Anto menunduk lalu mencium perut Marlisa. Tubuh Marlisa memang tak langsing seperti dulu. Namun Anto lebih suka Marlisa yang sekarang. "Kamu tambah seksi aja, sayang."


"Mas, aku sudah gendut nih."


"Nggak. Aku suka kamu yang sekarang. Kalau dulu terlalu kurus. Mas nggak suka."


Marlisa tersenyum. Ia memeluk suaminya. "Mas, aku mau buat sarapan dulu ya?"


"Jangan dulu keluar kamar. Aku juga belum lapar banget. Kedua anak kita kan ada di rumah kakek dan neneknya. Sekarang aku mau minum susu dulu."


"Ok. Susu aja, nggak pakai kopi?" tanya Marlisa sambil bersiap untuk ke dapur.


"Aku mau susu cap nona."


"Susu cap nona? Aku pergi beli ke warung kalau gitu, mas."


"Aku mau susu cap nona Marlisa." ujar Anto sambil mengeringkan matanya nakal.


Marlisa akhirnya mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya. "Ih....mas, pagi-pagi kok sudah mesum sih?"

__ADS_1


"Tapi kamu suka kan?" Kata Anto sambil mendorong istrinya untuk segera berbaring lagi. Mungkin inilah enaknya nikah sama berondong ya?


************


Menjadi ibu rumah tangga saja tanpa bekerja sebenarnya bukankah keinginan Jelena. Ia ingin menjadi wanita karir. Namun semenjak Adras resign jadi pilot, semua tanggungjawab di perusahaan sudah diambil alih oleh Adras. Jelena memang masih sering ke perusahaan namun seminggu hanya dua kali. Ia lebih fokus mengurus keempat buah hatinya.


Mereka baru saja pulang berlibur dari Thailand. Tentu saja menggunakan Jet pribadi yang di piloti Adras sendiri. Suaminya itu masih punya ijin terbangnya yang ia perbaiki setiap tahun karena memang Adras sering rindu membawa pesawat. Walaupun itu hanyalah pesawat pribadi milik keluarganya.


Kini, anak-anaknya sudah semakin besar. Yang kembar telah berusia 15 tahun dan duduk di kelas satu SMA sedangkan yang bungsu berusia 13 tahun dan sudah kelas 2 SMP.


"Good morning, sayang." Adras tiba-tiba saja memeluk istrinya dari belakang dan langsung mencium tengkuknya.


"Mas, nanti ada pelayan yang lihat." Jelena langsung berbalik. Namun ia menemukan dapur dalam keadaan kosong bahkan pintunya tertutup.


"Aku meminta mereka untuk membersihkan kolam."


Jelena tertawa. "Bi Suni juga kamu suruh membersihkan kolam? Bibi sudah tua, mas. Usianya saja sudah 62tahun."


"Bibi nggak aku suruh apa-apa. Tapi bibi sendiri yang keluar dari dapur ini sambil mengunci pintunya."


"Dasar kamu ya?" Jelena menarik hidung mancung suaminya. Adras yang belum melepaskan tangannya yang memeluk pinggang istrinya mendekatkan wajahnya pada wajah Jelena lalu memberikan kecupan manis di bibir istrinya.


"Kenapa sudah bangun? Memangnya semalam nggak capek digempur oleh rudalku?"


"Capeklah, mas. Kamu nggak ada berhentinya."


"Wajar dong, sayang. Selama kita liburan 5 hari di Thailand, mana pernah aku dibiarkan berdua saja denganmu? Keempat anak kita justru tidur dengan mama mereka."


Jelena kini yang mencium bibir Adras. "Tapi semalam sudah puas kan?"


"Belum sayang. Rencananya hari ini aku nggak mau ngantor. Di rumah saja sambil berduaan denganmu." kata Adras sambil tersenyum genit.


"Mas, aku.....!"


Pintu dapur terbuka. Keempat anaknya masuk.


"Lho, kalian belum ke sekolah?" tanya Adras sambil pura-pura melotot ke arah mereka.


"Memangnya kalian nggak bisa pergi sendiri? Nanti papa minta diantarkan oleh sopir."


"Nggak asyik pergi sendiri, papa. Enaknya sama mama. Lagi pula tadi mama sudah bilang ok. Selesai sarapan kita akan pergi. Iya kan, ma?" tanya Mika sambil menatap mamanya.


"Iya." ujar Jelena. Mana pernah ia mengecewakan anak-anaknya.


"Tapi mama kalian capek. Iya kan sayang?" Adras melingkarkan tangannya di bahu sang istri.


"Aku....." Jelena jadi bingung. Ia sebenarnya capek, ingin juga memanjakan sang suami tapi tak mau mengecewakan keempat anaknya.


"Sudah, kalian pergi saja berempat. Nanti pakai black card nya, papa." Adras langsung mengeluarkan salah satu kartu unlimited.


"Wah, beneran nih pa kita bisa belanja apa saja?" Tanya Matt lalu menyambar kartu itu dari tangan sang papa.


"Iya. Asalkan yang berhubungan dengan kebutuhan sekolah." Jawab Adras.


"Papa, kalau beli lipstick boleh nggak? Bukan lipstick kayak punya mama, tapi khusus gadis remaja." kata Mika sambil menggandeng tangan papanya.


"Wah, anak papa sudah genit ya, sekarang?" Adras menatap putri tunggalnya itu.


"Ada yang naksir Mika di sekolah, pa." ujar Mac. Si anak kedua.


"Oh ya?" Adras menatap putrinya.


"Kakak kelas 3. Namanya Keyro." lanjut Mac membuat Mika melotot ke arah kakak kembarnya itu.


"Wah, si bintang basket itu?" Matt menatap adiknya.


"Nggak. Siapa juga yang suka sama dia. Sok kegantengan." Mika menggelengkan kepalanya.


"Sudah, jangan banyak bicara. Ayo kita mandi dan sarapan. Setelah itu pergi ke mall." lerai Marvel kepada ketiga kakaknya. Si bungsu ini memang terkesan pendiam dan agak cool pembawaannya.

__ADS_1


"Iya. Ayo mandi. Mama akan siapkan meja untuk kita sarapan." ujar Jelena. Keempat anaknya itu pun langsung pergi.


Adras menatap istrinya. "Kali ini papa yang menang kan?"


"Dasar kamu ya..." Jelena mencubit pinggang suaminya. Ia kemudian berbalik untuk menyalahkan kembali kompor yang sempat ia matikan. Namun Adras kembali memeluknya dan membalikan badannya. Lalu dengan manisnya ia menyesap bibir tipis yang istri yang selalu menjadi candu baginya.


"Nyonya, sarapannya sudah.....duh Gusti...." bi Suni kaget saat melihat adegan mesra sang majikan.


Jelena langsung mendorong tubuh suaminya. "Ayo sana ke kamar dan mandi. Kita akan sarapan bersama."


Adras pun melangkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saat melewati bi Suni, ia berbisik. "Bibi menganggu kesenangan aja."


Bi Suni hanya tertawa. Ia bahagia melihat kemesraan Adras dan Jelena yang tak pernah berkurang walaupun mereka sudah menikah 17 tahun lamanya.


"Maafkan kami ya, bi?" ujar Jelena.


"Nyonya sangat beruntung memiliki suami yang baik, setia dan penyayang seperti tuan. Tuan juga sangat beruntung mendapatkan istri seperti Nyonya yang begitu memperhatikan kebutuhan keluarga ini. Rumah ini selalu penuh dengan cinta. Dan bibi bahagia ada di dalamnya."


Jelena memeluk bi Suni. Suami bi Suni memang sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Namun bi Suni enggan kembali ke desanya walaupun di sana ada ketiga anaknya. Bi Suni berjanji akan tetap setia melayani keluarga ini sampai ia menutup mata.


**********


Rumah telah sepi. Anak-anak sudah pergi ke mall ditemani bi Suni. Mereka sendiri yang memaksa wanita yang mereka sama nenek itu untuk ikut. Para pelayan yang lain, ada di rumah belakang yang Adras bangun khusus untuk mereka. Hanya bi Suni yang tinggal di rumah utama.


Sementara di dalam kamar, pasangan suami istri itu baru saja memadu kasih. Tubuh mereka yang polos, masih berpelukan di bawah selimut.


"Sayang, kok aku ingin kita punya momongan lagi ya?" ujar Adras sambil mengusap punggung istrinya.


"Nggak mau, mas. Usiaku sudah 38."


"Ada juga wanita yang melahirkan di usia 40."


Jelena mendongak dan menatap wajah tampan sang suami. "Mas nikah aja jika mau tambah momongan. Aku ijinkan."


"Beneran nih? Aku cari ABG ah..."


"Silahkan. Tapi rumah ini, dan anak-anak tetap bersamaku. Mas silahkan keluar dan menikmati kebersamaan mas dengan istri mudanya. Kebetulan, dokter Surya sudah cerai dengan istrinya. Kalau aku hubungi dia lagi, pasti dia masih mau sama aku."


"Eh....." Adras kini berada di atas tubuh Jelena. Menatap mata istrinya dengan tajam. "Coba saja kalau berani menghubungi dokter itu. Kamu sendiri tahu kan kalau dia sudah 2 kali bercerai. Memangnya kamu mau menjadi istri ketiganya?"


"Nggak masalah. Aku yakin setelah dengan aku, dia pasti tak akan jadi play boy lagi."


"Ih sayang, jangan gitu dong. Aku tadi hanya bercanda saat bilang mau cari ABG. Kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupku. Tak akan pernah berubah walaupun maut sudah memisahkan kita."


Jelena mencibir. "Bohong. Pasti belum setahun aku meninggal, mas sudah nikah lagi."


"Nggak, sayang." Adras membelai wajah istrinya. "Kamu kan tahu si Palo hanya bisa berdiri kalau sama kamu. Kalau dengan orang lain, aku sangksi dia bisa sekeras ini."


Jelena melotot saat merasakan sesuatu yang keras di bawa sana. "Mas......., kamu mau lagi?"


"Memangnya nggak boleh?"


"Anak-anak pasti akan segera pulang."


"Belum."


Pintu kamar diketuk. "Papa....mama....boleh kami masuk?"


Jelena tertawa melihat wajah Adras menjadi cemberut. Beginilah keadaan keluarga Permana. Paman Adras telah mendapat istri yang luar biasa dan anak-anak mereka bahagia mendapatkan orang tua yang begitu menyayangi mereka.


***********


Siap untuk berpisah dengan mereka?


Terima kasih ya guys sudah menopang novel ini sampai selesai....


Jangan lupa dengan novel terbaru emak


TERJERAT CINTA MASA LALU

__ADS_1


sudah enam episode yang di up


love you all


__ADS_2