ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS

ISTRI UNTUK PAMAN ADRAS
Haruskah Patah Hati Lagi?


__ADS_3

Arley menatap jam tangannya. Pesawatnya sudah mendarat satu jam yang lalu namun Sofia belum juga muncul di hadapannya. Arley sengaja tak meminta sang sopir untuk menjemputnya karena Sofia mengatakan bahwa ia ingin menjemput Arley secara khusus.


Perlahan Arley mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Sofia. Terhubung namun tak diangkat. Arley mencobanya beberapa kali namun Sofia juga tak mengangkatnya. Arley jadi khawatir. Mungkinkah sesuatu terjadi pada Sofia?


Tak lama kemudian, ponsel Arley berbunyi. Ada pesan dari Sofia.


Maaf, aku tak bisa menjemput kamu. Sebaiknya kita tak saling ketemu lagi.


Dahi Arley langsung berkerut membaca pesan itu. Ada apa ini? Bukankah beberapa jam yang lalu kalau mereka baik-baik saja? Bukankah suara Sofia terdengar antusias saat mengatakan bahwa ia akan menjemput Arley?


Merasa ada yang tak beres, Arley segera menuju ke rumah Sofia dengan menumpangi taxi. Ia menelepon asistennya untuk menjemput kopernya di bandara sedangkan yang dibawahnya hanya sebuah paper bag yang merupakan hadiah untuk Sofia.


Saat ia tiba di depan pagar mansion Permana itu, seorang satpam menandatanganinya. Satpam itu bernama Anto.


"Selamat sore, pak." Sapa Arley.


"Selamat sore."


"Saya mau ketemu dengan Sofia."


"Neng Sofia baru saja pergi dengan mobilnya."


"Kemana ya, pak?"


"Ke luar kota. Katanya ada acara sama teman-temannya."


"Oh gitu ya. Terima kasih ya." Arley terlihat kecewa. Ia pun segera melangkah menjauhi mansion itu sambil menelepon sopirnya untuk menjemput dia.


Sementara di dalam mansion, Sofia sedang duduk di atas ranjangnya sambil memeluk lututnya. Ia yakin kalau Arley akan datang ke rumahnya karena itu ia meminta satpam untuk mengatakan kalau dia ke luar kota jika ada yang mencarinya.


Ada apa, Sof? Something wrong? Ayolah jangan bersembunyi, kita berbicara dan aku akan menerima semua keputusan mu


Sofia langsung menonaktifkan ponselnya setelah membaca pesan dari Arley.


Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk. Masuklah Santi yang memang sudah ditelepon oleh Jelena.


"Kak.....!" panggil Santi.


"Eh, San? Tumben ke sini?" Sofia buru-buru menghapus air matanya. Semenjak menikah, Santi memang tinggal di rumah Jun. Namun setiap Sabtu, ia akan datang dan tidur di sini, lalu kembali lagi ke rumah Jun di hari minggu sore.


"Memangnya nggak boleh datang di luar weekend?" Santi duduk di pinggir ranjang.


"Kak, kamu baik-baik saja?" tanya Santi.


Sofia menggeleng. Tanpa sadar air matanya mengalir.


"Aku sudah tahu. Aunty Nana yang menceritakannya. Kakak yang kuat ya?"


Sofia mengangguk. Kedua kakak adik itu saling berpelukan.

__ADS_1


Di kamar Adras dan Jelena.


"Sayang, aku boleh keluar sebentar nggak?" tanya Jelena sambil mendekati suaminya yang sedang membaca laporan perusahaan.


"Kemana sayang?" tanya Adras lalu meraih pinggang istrinya agar duduk di pangkuannya.


"Aku mau belanja beberapa pakaian. Banyak pakaianku yang sudah nggak muat lagi karena berat badanku bertambah."


"Aku suka kamu yang seperti ini sayang. Terlihat montok."


"Ih....." Jelena melotot saat Adras memegang dadanya.


"Aku kangen lho sayang. Memangnya belum boleh ya? Anak kita kan sudah 2 bulan."


"Kan aku sering service kamu dengan cara yang lain."


"Tetap saja aku ingin yang sebenarnya sayang. Palo harus ketemu Nido."


"Sebenarnya aku sudah bersih, kok. Jadi nanti malam bersiap saja. Sekarang ijinkan aku berjalan-jalan bersama Santi dan Sofia sekaligus juga menghibur gadis itu."


Adras mengangguk. Ia mencium pipi istrinya. "Pergilah. Aku akan menjaga anak-anak kita dengan baik. Beli lingre yang seksi ya?"


Jelena hanya tertawa. Ia pun bergegas ke kamar Sofia untuk mengajak mereka ke mall.


Selama hampir 4 jam, Jelena menghabiskan waktu dengan kedua gadis itu. Mereka belanja, ke salon dan akhirnya makan bakso yang menjadi favorit mereka.


"Kalian bersenang-senang?" tanya Adras.


"Iya uncle. Terima kasih ya sudah mengijinkan aunty Nana jalan dengan kami." ujar Sofia lalu ia mengambil Mikhaela dan memeluknya. "Cantik, kakak membelikan sebuah gaun untukmu." Sofia memang menyayangi ketiga sepupunya namun ia memang lebih perhatian pada Mikhaela. Gadis kecil itu memang badannya lebih kecil dibandingkan kedua kakaknya.


"San, kamu belum pulang? Ini sudah hampir jam 10 malam." ujar Jelena.


"Aku mau tidur di sini. Oppa Jun sedang ke Bandung. Pulangnya nanti besok." kata Santi membuat Sofia nampak senang karena adiknya itu akan ada di sini.


Tak lama kemudian, Jeff yang menjemput Elina ke rumah sakit, sampai. Rumah pun menjadi ramai. Sofia sangat senang karena di rumah ini, bersama seluruh keluarganya, ia boleh mendapatkan kebahagiaan. Untuk sesaat ia melupakan tentang Arley. Apalagi saat opa Jeff dengan antusias menunjukan hasil foto USG kandungan Elina yang memasuki Minggu ke-16.


"Aku juga mau menunjukan sesuatu." Santi membuka tas tangannya dan menunjukan testpack yang dilakukannya tadi pagi.


"Kamu hamil?" tanya Adras senang. Santi mengangguk.


"Wah....wah.....rumah ini akan ramai dengan suara tangis bayi." Opa Jeff langsung bersemangat. Ia meminta Bi Suni untuk membawakan kue dan minuman hangat untuk mereka nikmati.


"Jun sudah tahu?" tanya Jelena.


"Belum. Nanti kalau dia pulang baru aku akan mengatakannya. Sekalian dengan ulang tahun Jun dan aku akan membungkus testpack ini sebagai kado."


"Wah....romantisnya." kata Elina membuat yang lain langsung tertawa.


**********

__ADS_1


Sebenarnya sudah hampir 3 bulan Adras tak bisa menyentuh istrinya itu. Ketika kandungan Jelena memasuki bulan ke-8, Adras memang menahan diri untuk tak mengikuti napsunya karena tahu betapa kesulitannya Jelena saat hamil anak kembar 3.


Dan malam ini, Jelena akhirnya mengijinkan suaminya itu menyentuhnya. Adras sungguh merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Ia memanfaatkan kesempatan itu dengan sangat baik walaupun harus beberapa kali terganggu karena si kembar minta ASI.


"Mas, aku sebenarnya kasihan melihat Sofia. Iya sudah patah hati karena Agung menikah dengan pilihan orang tuanya. Saat ia membuka hatinya, ia justru harus patah hati lagi." kata Jelena saat keduanya baru selesai melewati malam yang panas.


Adras membelai rambut Jelena yang ada dalam pelukannya.


"Sayang, seharusnya Arley berterus terang. Kakakku mengalami kecelakaan karena pertengkaran dia dan suaminya di dalam mobil. Suaminya menjadi marah tanpa menyadari bahwa di dalam mobil juga ada kedua orang tuaku. Untungnya mama sempat mengatakan padaku mama meninggal. Masa sih harus ku biarkan lelaki yang sudah berselingkuh dengan kakakku, justru kini mendekati Sofia."


Jelena hanya mengeratkan pelukannya pada Adras. Aku berharap ketiga anak kita kelak akan menemukan jodoh terbaik dalam hidup mereka."


"Kok hanya tiga anak sih, sayang. Seharusnya 5 anak kita ."


"Mas.....!" Jelena melotot ke arah suaminya.


"Kenapa sayang?"


"Kamu pikir hamil itu muda?"


Adras tertawa. Ia justru mencium istrinya dengan gemas. "Lagi?" tanya Adras.


"Lagi apa?"


"Ronde ketiga."


Jelena langsung mencubit perut suaminya. Sesaat kemudian terdengar tangisan si Mat diikut dengan Mac dan Mika.


"Bantu buat susu ya, mas? Aku nggak bisa menyusui mereka bertiga sekaligus."


Adras bangun dan mengenakan lagi pakaiannya. Ia segera membuatkan 2 botol susu untuk 2 anak lelakinya sedangkan Mikhaela diberikan ASI oleh Jelena.


**********


"Kita harus bicara, Sof." kata Arley yang hari ini menemui Sofia di kampusnya.


"Aku mau pulang." Sofia menepis tangan Arley.


"Sofia, ada apa sih sampai sikapmu padaku berubah?"


"Bagaimana mungkin aku bisa bersama seorang lelaki yang dulu berselingkuh dengan mamaku?"


Arley terkejut saat mendengar perkataan Sofia. "Ayo ikut denganku....!" Arley langsung menarik tangan Sofia. Tak peduli dengan penolakan Sofia.


**********


Boleh nggak sih Arley bersama Sofia?


Berikan komentar mu yang pembacaku yang setia

__ADS_1


__ADS_2